JAKARTA – Kepala Dinas Kehutanan Pertamanan dan
Pemakaman DKI Jakarta, Suzi Marsitawati tidak mempermasalahkan penilaian
masyarakat yang pro kontra terkait pemasangan instalasi gabion (batu
bronjong) di Bundaran Hotel Indonesia (HI).
Gabion dibuat dengan biaya Rp150 juta untuk menggantikan karya seni bambu getih getah yang bernilai Rp550 juta.
Seperti diketahui, instalasi getih getah diresmikan Gubernur DKI
Jakarta Anies Rasyid Baswedan pada pertengahan 2018 untuk menyambut
Asian Games 2018. Namun, karya seniman Joko Avianto yang bernilai Rp550
juta itu dibongkar sebelum genap satu tahun.
Pembongkaran intalasi Getih Getah juga menuai pro kontra di
masyarakat karena dinilai hanya menghambur-hamburkan anggaran. Selain
tidak bisa bertahan lama, bambu getih getah juga tidak bisa didaur ulang
alias menjadi sampah.
Kini, sebagai penggantinya Dinas Kehutanan, Pertamanan dan Pemakaman
DKI Jakarta mengganti dengan instalasi gabion atau batu bronjong yang
dihias dengan aneka tanaman. Meski terlihat sederhana namun anggaran
mencapai Rp150 juta.
Suzi Marsitawati, mengatakan bahwa penilaian berbeda di masyarakat
adalah hal yang wajar tergantung dari cara pandang masing-masing
individu.
“Segala sesuatu bukan hanya ornamen kota segala hal itu kan ada pro
kontra ada yang suka dan tidak. Namanya nilai sculpture itu kan ada yang
suka dan tidak suka gitu jadi bagaimana kacamata memandang aja,” kata
Suzi dikonfirmasi wartawan, Jumat (23/8/2019).
Segala penilaian dari masyarakat Suzi menerima dengan tangan terbuka,
justru dia berharap ada masukan dari masyarakat yang bisa
dikolaborasikan sehingga bisa dibangun karya seni yang menambah indah
Jakarta.
“Mungkin ada bentuk-bentuk lain yang masyarakat inginkan kita bisa
kolaborasikan, tidak menutup kemungkinan hal-hal seperti itu karena kita
baru memulai. Karena di negara-negara lain pun bentuk ekspresi banyak
sekali, gabion itu macam-macam ada bentuknya orang,” kata dia.
Alasan memilih gabion sebagai pengganti getih getah, lanjut Suzi,
sebagai simbol batu karang. Gabion yang merupakan beronjongan batu untuk
menyerap air.
“Nah kenapa kita bikin tiga pilar di situ karena kita punya konsep
ada unsur tanah, air, udara penyelarasan lingkungan. Jadi kita membuat
dalam kaitannya dengan polusi kita adalah kaitannya dengan HUT RI itu
kita membuat satu ornamen kota. Bukan karya seni, tapi ornamen kota
sebagai penghias kota,” beber dia.
Sementara tanaman yang berada di gabion merupakan penyelaras
lingkungan. Selain itu aneka tanaman seperti bougenville, tapak dara,
lavender, dan palem kol dinilai mampu membantu mengurangi polusi udara.

.gif)