< >

Notification

×

Iklan

Iklan

🌤️ Info Cuaca & Gempa
Cuaca Banten
Sumber: BMKG
Gempa Terkini

Tag Terpopuler

Soal Gabion, Kadishut Tidak Persoalkan Perdebatan Masyarakat

Jumat, 23 Agustus 2019 | Jumat, Agustus 23, 2019 WIB | Last Updated 2019-08-23T11:36:07Z
 
Kepala Dinas Kehutanan Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Suzi Marsitawati .(dok)
JAKARTA – Kepala Dinas Kehutanan Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Suzi Marsitawati tidak mempermasalahkan penilaian masyarakat yang pro kontra terkait pemasangan instalasi gabion (batu bronjong) di Bundaran Hotel Indonesia (HI).
Gabion dibuat dengan biaya Rp150 juta untuk  menggantikan karya seni bambu getih getah yang bernilai Rp550 juta.
Seperti diketahui, instalasi getih getah diresmikan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan pada pertengahan 2018 untuk menyambut Asian Games 2018. Namun, karya seniman Joko Avianto yang bernilai Rp550 juta itu dibongkar sebelum genap satu tahun.
Pembongkaran intalasi Getih Getah juga menuai pro kontra di masyarakat karena dinilai hanya menghambur-hamburkan anggaran. Selain tidak bisa bertahan lama, bambu getih getah juga tidak bisa didaur ulang alias menjadi sampah.
Kini, sebagai penggantinya Dinas Kehutanan, Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta mengganti dengan instalasi gabion atau batu bronjong yang dihias dengan aneka tanaman. Meski terlihat sederhana namun anggaran mencapai Rp150 juta.

Suzi Marsitawati, mengatakan bahwa penilaian berbeda di masyarakat adalah hal yang wajar tergantung dari cara pandang masing-masing individu.
“Segala sesuatu bukan hanya ornamen kota segala hal itu kan ada pro kontra ada yang suka dan tidak. Namanya nilai sculpture itu kan ada yang suka dan tidak suka gitu jadi bagaimana kacamata memandang aja,” kata Suzi dikonfirmasi wartawan, Jumat (23/8/2019).
Segala penilaian dari masyarakat Suzi menerima dengan tangan terbuka, justru dia berharap ada masukan dari masyarakat yang bisa dikolaborasikan sehingga bisa dibangun karya seni yang menambah indah Jakarta.
“Mungkin ada bentuk-bentuk lain yang masyarakat inginkan kita bisa kolaborasikan, tidak menutup kemungkinan hal-hal seperti itu karena kita baru memulai. Karena di negara-negara lain pun bentuk ekspresi banyak sekali, gabion itu macam-macam ada bentuknya orang,” kata dia.
Alasan memilih gabion sebagai pengganti getih getah, lanjut Suzi, sebagai simbol batu karang. Gabion yang merupakan beronjongan batu untuk menyerap air.
“Nah kenapa kita bikin tiga pilar di situ karena kita punya konsep ada unsur tanah, air, udara penyelarasan lingkungan. Jadi kita membuat dalam kaitannya dengan polusi kita adalah kaitannya dengan HUT RI itu kita membuat satu ornamen kota. Bukan karya seni, tapi ornamen kota sebagai penghias kota,” beber dia.
Sementara tanaman yang berada di gabion merupakan penyelaras lingkungan. Selain itu aneka tanaman seperti bougenville, tapak dara, lavender, dan palem kol dinilai mampu membantu mengurangi polusi udara.
Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update