Hal itu diucapkan Kepala Bappeda
Provinsi Banten Muhtarom menyatakan dalam acara Forum Grup Discussion
(FGD) yang diselenggarakan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) DPRD
Banten, bertajuk Peluang dan Tantangan Perekonomian Banten 2020, di
Gedung DPRD Provinsi Banten, Selasa (27/12/2019).
“Potensi infrastruktur di Banten,
memiliki Bandara Soekarno Hatta, tidak kurang dari 62 juta orang
menggunakan bandara itu. Pelabuhan Tanjung Priok, Karakatau Steel, dan
lainnya,” katanya.
Dijelaskan Muhtarom, dari delapan Kota
dan Kabupaten se Provinsi Banten. Masing-masing dari meraka mempunyai
potensi yang berbeda dianatarnya, Kota Serang memiliki potensi
perdagangan, jasa, dan perikanan tangkap. Kota Cilegon memiliki potensi
industri pengolahan dan energi. Kabupaten Lebak dan Pandeglang memiliki
potensi pertanianan dan perkebunan, serta potensi pariwisata.
Kemudian Kota Tangerang Selatan memiliki
potensi real estate (perumahan dan mall), dan industri makanan, minuman
serta pakaian jadi. Kota Tangerang memiliki potensi industri pengolahan
(industri TPT, Kulit, dan alas kaki), dan real estate (perumahan dan
perdagangan).
Ssementara , untuk Kabupaten Tangerang
memiliki potensi industri pengolahan alas kaki, dan sektor energi (PLTU
Lontar). Serta terahir Kabupaten Serang memiliki potensi industri
pengolahan alas kaki, pariwisata, perikanan, dan sektor energi (LPTBU
Bojonegara).
“Potensi peluang investor membangun
Banten disektor industri sangat besar. Sebab Banten menjadi urutan kedua
tujuan investasi. Banten pun menjadi andalan ekspor industri alas
kaki,” jelasnya.
Kendati demikian kata dia, struktur
perekonomian spasial di Kabupaten/Kota di Banten cukup kontras. Di
tingkat kabupaten kota masih terjadi disparitas kemiskinan maupun
pengangguran.
Diwilayah Banten bagian Selatan yang
masih mengandalkan sektor pertanian memiliki tingkat kemiskinan yang
relatif tinggi. Hal ini sangat berbeda dengan tingkat perekonomian di
daerah Utara yang mengandalkan sektor industri pengolahan.
“Kemajuan daerah di Banten dipengaruhi
oleh empat faktor. Diantaranya kesenjangan daerah, daya saing daerah,
kemiskinan dan pengangguran, serta tata kelola pemerintahan,” tandasnya.






0 comments:
Post a Comment