< >

Notification

×

Iklan

Iklan

🌤️ Info Cuaca & Gempa
Cuaca Banten
Sumber: BMKG
Gempa Terkini

Tag Terpopuler

Jangan Andalkan Bahan Mentah untuk Ekspor

Kamis, 06 Februari 2020 | Kamis, Februari 06, 2020 WIB | Last Updated 2020-02-06T09:14:48Z

JAKARTA – Kekhawatiran berkurangnya nilai ekspor akibat efek penurunan ekonomi Tiongkok setelah merebaknya wabah virus korona mengindikasikan kegagalan strategi perdagangan pemerintah. Kondisi ini juga me­negaskan bahwa kebergantungan pada ekspor bahan mentah merupakan kebijakan yang ti­dak berkelanjutan.
Peneliti Institute International Studies (IIS) UGM Yogyakarta, Indrawan Jatmika, menga­takan negara-negara yang sepenuhnya ter­gantung pada Tiongkok akan menanggung dampak ekonomi. “Indonesia juga terdampak karena banyak mengekspor bahan mentah ke Tiongkok. Di sisi lain, impor produk Tiong­kok ke Indonesia juga cukup besar. Jadi, kalau Tiongkok tidak sehat, Indonesia ikut sakit,” katanya saat dihubungi, Rabu (5/2).
Berdasarkan data UNComtrade, nilai ekspor bahan mentah Indonesia ke Tiongkok menca­pai 24,41 miliar dollar AS pada 2018 dan 25,85 miliar dollar AS pada 2019. Dari nilai ekspor 2018 ini, sebanyak 8,79 miliar dollar AS me­rupakan bahan bakar mineral dan produk tu­runannya (lihat infografis).
Banyaknya kerja sama yang dijalin antara Indonesia dan Tiongkok akan semakin mem­perbesar dampak ekonomi yang dirasakan ke­dua negara. Bagi Tiongkok, Indonesia adalah pasar yang besar melalui proyek-proyek yang akan dicanangkan pada 2020. “Inilah yang me­nyebabkan Indonesia sangat bergantung pada Tiongkok,” ujar Indrawan.
Menurut Indrawan, seharusnya Indonesia sejak dulu mendiversifikasi produk ekspor se­hingga tidak mudah goyah ketika negara tujuan ekspor mengalami penurunan ekonomi. “Me­ngapa harus barang mentah yang diekspor? Se­harusnya kan diolah dulu di dalam negeri agar berdaya saing tinggi. Ini karena rent seeking sehingga yang diekspor bahan mentah. Seha­rusnya, jangan andalkan bahan mentah untuk ekspor” paparnya.
Indrawan menyayangkan para pemban­tu presiden tak peduli dengan perkembangan ekspor. Seolah, mereka aji mumpung menjadi pejabat. “Mereka tidak perduli negara ini jatuh asalkan dia bisa kaya sendiri,” tegasnya.
Dihubungi terpisah, ekonom Core Indone­sia, Piter Abdullah, mengatakan dampak virus korona sangat signifikan terhadap perkem­bangan perekonomian dunia. “Untuk Indone­sia sendiri sudah terlihat dengan menurunnya aliran modal asing di pasar modal dan mele­mahnya rupiah,” katanya.
Selain itu, pembatasan impor juga akan me­nyebabkan dampak negatif kepada industri yang menggantungkan bahan baku dari Tiong­kok sehingga berpotensi menghambat pertum­buhan ekspor Indonesia. “Wabah korona bisa menyebabkan turunnya harga komoditas yang akan berpotensi semakin menahan pertum­buhan ekspor Indonesia,” ujarnya.
Sebelumnya dilaporkan, perekonomian Tiongkok bakal menyusut sekitar dua persen akibat merebaknya virus korona yang telah menelan korban jiwa 494 orang dan sebanyak 24.607 orang terinfeksi. Apabila pertumbuhan ekonomi Tiongkok di bawah 4 persen akan ber­pengaruh ke negara pengekspor bahan baku seperti Indonesia.
Industri Pengolahan Turun
Sementara itu, Presiden Joko Widodo me­mastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat akibat wabah virus korona dari Tiongkok. “Ini kan masih dalam proses perja­lanan semuanya, jadi hitungnya negara mana pun juga sulit,” kata Presiden di Istana Negara, Jakarta, Rabu.
Presiden juga mensyukuri partumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 di atas 5 persen seperti yang dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS). “Alhamdulillah, ini juga patut kita syu­kuri bahwa pertumbuhan ekonomi masih di atas 5 persen, 5,02 persen,” ujar Jokowi.
Sebelumnya, Kepala BPS, Suhariyanto, mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indo­nesia 2019 turun jadi 5,02 persen, dari capaian 2018 yang mencapai 5,17 persen. Salah satu pe­nyebabnya adalah pertumbuhan sektor indus­tri pengolahan yang melemah.
Padahal, sektor industri pengolahan memi­liki peran tertinggi dalam ekonomi Indonesia. “Jadi apa yang terjadi di industri, akan memiliki pengaruh besar,” kata Suhariyanto.
Pada 2019, sektor industri pengolahan ha­nya tumbuh 3,8 persen, turun dari tahun sebe­lumnya yang mencapai 4,27 persen. A
Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update