< >

Notification

×

Iklan

Iklan

🌤️ Info Cuaca & Gempa
Cuaca Banten
Sumber: BMKG
Gempa Terkini

Tag Terpopuler

Menkes Perbaiki Sasaran Pemeriksaan Covid-19

Minggu, 24 Januari 2021 | Minggu, Januari 24, 2021 WIB | Last Updated 2021-01-24T15:40:50Z

 


JAKARTA – Menteri Kese­hatan ( Menkes), Budi Gunadi Sadikin, mengatakan sistem pemeriksaan (testing) Co­vid-19 di Indonesia salah se­cara epidemiologi. Akibat dari kesalahan dalam sistem pe­meriksaan itu, jumlah kasus Covid-19 terus bertambah. Padahal jumlah testing sudah melampaui target WHO.

Testing, tracing, dan treat­ment ( 3T) serta isolasi bagai­kan menambal ban bocor. Tapi kita kan tidak disiplin. Cara testing-nya kita salah,” ujar Budi dikutip dari acara “Vaksin dan Kita” yang dise­lenggarakan Komite Pemulih­an dan Transformasi Ekonomi Daerah Jawa Barat, yang ditay­angkan kanal YouTube PRMN SuCi, Jumat (22/1).

Testing-nya banyak, tapi kok naik terus? Habis (yang) dites orang kayak saya, setiap kali mau ke Presiden dites, tadi malam, barusan saya di-swab. Sepekan saya bisa lima kali di-swab kalau masuk Is­tana. Apakah benar (testing) seperti itu?” lanjutnya.

Budi menjelaskan, ber­dasarkan ilmu epidemiologi, testing seharusnya menyasar para suspek Covid-19. De­ngan kata lain, testing mandiri seperti yang dilakukan orang-orang jika akan bepergian ti­dak masuk dalam testing epi­demiologi.

“Bukan orang yang mau pergi kayak saya mau meng­hadap Presiden. Nanti lima kali tes standar WHO segera terpenuhi satu perseribu (per pekan). Tetapi, tidak ada gu­nanya testing itu secara ilmu epidemiologi. Nah, hal-hal seperti itu yang harus diberes­kan,” tambahnya.

Gunakan Data KPU

Selain menyoroti tentang sistem pemeriksaan, Budi juga mengaku kapok menggu­nakan data dari Kementerian Kesehatan karena tidak aku­rat. Budi menegaskan dirinya akan menggunakan data daf­tar pemilih pilkada di Komisi Pemilihan Umum (KPU) seba­gai basis data untuk vaksinasi Covid-19.

“Saya akan perbaiki strate­gi vaksinasinya. Supaya tidak salah atau bagaimana. Saya sudah kapok, saya tidak mau lagi memakai data Kemenkes,” ujar Budi.

Sebelum menyampai­kan hal itu, Budi sempat mengungkapkan bahwa dia pernah diberi data jumlah puskesmas dan rumah sakit (RS) dari pendataan Kemen­kes. Berdasarkan data itu, se­cara agregat disebutkan jum­lah total puskesmas dan RS cukup untuk melaksanakan vaksinasi Covid-19 secara na­sional.

“(Disebutkan) RS peme­rintah saja, tidak usah me­libatkan pemda, tidak usah bikin dengan RS swasta cu­kup. Ah saya kapok. Saya eng­gak percaya data nasional,” ungkap Budi.

Dia lantas menelusuri data sarana kesehatan, mulai dari tingkat nasional, provin­si, hingga kabupaten/kota. Dari penelusuran itu baru terungkap bahwa sarana ke­sehatan yang ada tidak men­cukupi.

“Itu 60 persen, tidak cu­kup. Jadi, sekarang saya sudah lihat by kabupaten/kota stra­tegi vaksinasinya. Maka, kami akan perbaiki stateginya,” tambahnya.

Sementara itu, Juru Bicara Satuan Tuga Penanganan Co­vid-19, Reisa Brotoasmoro, mengingatkan tingginya ang­ka keterisian tempat tidur (bed occupancy rate) di rumah sakit rujukan Covid-19. Pada­hal, hingga saat ini, penularan virus korona di Tanah Air ma­sih terbilang tinggi.

“Kecukupan tempat tidur rumah sakit sudah mengkha­watirkan. Rasio pemanfaatan ruang ICU dan tempat isolasi makin tinggi yaitu lebih dari 60 persen dari tempat yang tersedia,” kata Reisa dalam konferensi pers yang ditay­angkan YouTube Sekretariat Presiden, Jumat.

Reisa mengatakan angka keterisian tempat tidur ru­mah sakit rujukan Covid-19 tertinggi berada di DKI Ja­karta, yakni mencapai lebih dari 80 persen. Kemudian, di Daerah Istimewa Yogyakarta angka keterisian tempat tidur mencapai 76 persen. Di Jawa Barat angkanya mencapai 73 persen, dan Banten 72 per­sen. Lalu, Kalimantan Timur mencapai 69 persen, Sulawesi Tengah 68 persen, Bali 68 per­sen, Jawa Timur 67 persen, dan Jawa Tengah 65 persen.
Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update