< >

Notification

×

Iklan

Iklan

🌤️ Info Cuaca & Gempa
Cuaca Banten
Sumber: BMKG
Gempa Terkini

Tag Terpopuler

Presiden: Lakukan Tanggap Darurat di Majene-Mamuju

Sabtu, 16 Januari 2021 | Sabtu, Januari 16, 2021 WIB | Last Updated 2021-01-16T09:33:37Z

 

GEMPA DI MAMUJU, 42 MENINGGAL I Petugas mengevakuasi korban yang terjepit bangunan di rumah sakit Mitra Manakarra yang runtuh akibat gempa bumi berkekuatan 6,2 SR di Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (15/1). Sebanyak 5 orang dievakuasi dua diantaranya selamat dan tiga orang meninggal dunia di rumah sakit tersebut dan pencarian sementara masih berlanjut. Jumlah korban meninggal sedikitnya 42 jiwa.

JAKARTA – Presiden Joko Widodo memerintahkan ke­menterian, lembaga, serta aparat keamanan terkait se­gera melakukan langkah tang­gap darurat untuk mengatasi dampak gempa yang meng­guncang Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.

“Dan saya telah juga me­merintahkan kepada Kepala BNPB, kepada Menteri So­sial, kepada Kepala Basarnas, Panglima TNI dan Kapolri, serta jajarannya untuk segera melakukan langkah-langkah tanggap darurat mencari dan menemukan korban serta melakukan perawatan terha­dap korban luka-luka,” ujar Jokowi dalam keterangan pers yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (15/1).

Sebelumnya, gempa mag­nitudo 6,2 terjadi di wilayah Sulawesi Barat, Jumat dini hari. Gempa tersebut mero­bohkan banyak bangunan, termasuk Kantor Gubernur Sulbar. Gempa berpusat enam kilometer timur laut Kabupa­ten Majene 2.98 LS-118.94 BT pada kedalaman 10 kilometer.

Jokowi pun menyampai­kan dukacitanya terhadap keluarga korban yang me­ninggal dunia akibat musibah ini. “Saya atas nama pemerin­tah dan masyarakat Indone­sia menyampaikan dukacita yang mendalam atas korban yang meninggal dunia,” tutur Jokowi.

Bakal Bertambah

Sementara itu, Badan Pe­nanggulangan Bencana Dae­rah (BPBD) Sulawesi Barat (Sulbar) memperbarui data korban meninggal dunia aki­bat gempa magnitudo (M) 6,2 di Majene dan Mamuju. Hing­ga kini total korban meninggal dunia menjadi 42 orang.

“Korban jiwa hingga saat ini untuk seluruh Sulawesi Barat (Sulbar) itu dari wila­yah Majene dan Mamuju 42 meninggal dunia,” ujar Kepala BPBD Sulbar, Darno Majid.

Darno mengatakan korban jiwa saat ini terdata masih dari wilayah Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Majene.

Menurut Darno, tim ga­bungan dari Basarnas, BPBD, sampai TNI-Polri hingga saat ini masih terus mengevakuasi korban yang terjebak di rerun­tuhan bangunan.

“Nanti akan saya up­date lagi perkembangan ter­barunya,” tuturnya.

Sementara itu, data terak­hir dari BNPB menyebutkan, sekitar 637 orang mengalami luka-luka dan sekitar 15 ribu orang mengungsi akibat gem­pa di Majene.

“Sepuluh titik pengungsi­an Desa Kota Tinggi, Desa Lombong, Desa Kayu Angin, Desa Petabean, Desa Deking, Desa Mekata, Desa Kabi­raan, Desa Lakkading, Desa Lembang, Desa Limbua di Kecamatan Ulumanda dan Kecamatan Malunda, dan Kecamatan Sendana,” tulis laporan BNPB.

Sejumlah infrastruktur di Majene juga rusak akibat gempa seperti longsor di tiga titik sepanjang jalan poros Majene–Mamuju yang mem­buat akses jalan terputus.

“(Ada) 300 unit rumah ru­sak, satu unit puskesmas (RB/rusak berat), satu kantor Dan­ramil Malunda (RB), jaringan listrik padam, komunikasi se­lular tidak stabil,” tulis BNPB.

Sementara itu, kerusakan infrastruktur cukup parah juga terjadi di Mamuju yang men­jadi ibu kota Sulawesi Barat.

“Hotel Maleo (rusak be­rat), Kantor Gubernur Sulbar (rusak berat), rumah warga rusak (pendataan), RSUD Mamuju (rusak berat), satu unit minimarket (rusak berat), jaringan listrik padam, komu­nikasi selular terputus-putus/tidak stabil,” tulis BNPB.

Gempa Susulan

Di tempat terpisah, Kepa­la Badan Meteorologi, Klima­tologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, meng­ingatkan adanya potensi gempa susulan yang berakibat tsunami di Majene, Sulawesi Barat.

“Masih ada potensi gempa susulan berikutnya yang ma­sih kuat bisa mencapai ke­kuatan yang seperti sudah terjadi, 6,2 atau sedikit lebih tinggi lagi,” kata Dwikorita.

Dwikorita menuturkan, tsunami dapat terjadi karena ada kemungkinan longsor ba­wah laut. Longsor diakibatkan karena kondisi batuan yang sudah digoncang gempa seba­nyak 28 kali. “Memungkinkan terjadinya longsor ke dalam laut atau longsor bawah laut, sehingga berpotensi terjadi tsunami apabila ada gempa susulan berikutnya dengan pusat gempa masih di pantai atau bahkan di pinggir laut,” tutur dia.

Oleh karena itu, Dwikorita mengimbau agar masyarakat tidak mendekat ke bangunan yang rentan roboh dan men­jauhi daerah pantai. Ia meng­ingatkan agar masyarakat di daerah pantai segera bergegas menjauh dan pergi ke tempat yang lebih tinggi, apabila ter­jadi goncangan atau gempa susulan.
Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update