< >

Notification

×

Iklan

Iklan

🌤️ Info Cuaca & Gempa
Cuaca Banten
Sumber: BMKG
Gempa Terkini

Tag Terpopuler

Kesenjangan Pendapatan Picu RI Turun Kelas

Jumat, 12 Februari 2021 | Jumat, Februari 12, 2021 WIB | Last Updated 2021-02-12T14:13:15Z

 

Pengelompokan Negara I Kesejahteraan Kelas Menengah Bawah Harus Diperhatikan» Harta empat orang terkaya di Indonesia setara harta lebih dari 100 juta warga miskin.  » Program PEN dinilai tidak efektif menahan penurunan pendapatan masyarakat bawah. 

JAKARTA – Masalah kesenjangan pendapat­an dinilai menjadi salah satu yang menyebab­kan Indonesia kembali turun kelas dari nega­ra berpendapatan menengah atas atau upper middle income countries menjadi negara ber­pendapatan menengah bawah atau lower mid­dle income countries. Lebih cepatnya Indonesia turun kelas kembali karena saat pandemi, pen­dapatan kelas menengah bawah turun drastis, sehingga memengaruhi secara keseluruhan ra­ta-rata Gross National Income (GNI) per kapita.

Apalagi saat Bank Dunia menaikkan status Indonesia sebagai upper middle income coun­tries pada 1 Juli 2020, pendapatan masyarakat menengah bawah sudah mulai tergerus akibat pandemic Covid-19 pada akhir Maret 2020. Se­mentara penilaian naik kelas didasarkan pada GNI per kapita RI pada 2019 yang mencapai 4.050 dollar AS.

Guru Besar Sosiologi Ekonomi dari Uni­versitas Airlangga Surabaya, Bagong Suyanto, mengatakan salah satu penyebab RI kembali turun kelas adalah masalah kesenjangan pen­dapatan. “Kesejahteraan masyarakat mene­ngah ke bawah harus menjadi perhatian. Dari data yang ada, 70 persen penduduk di Indone­sia hanya menempuh pendidikan jenjang SD hingga SMP,” kata Bagong.

Ketimpangan yang mencolok juga ditunjuk­kan data Oxfam Indonesia bersama Interna­tional NGO Forum on Indonesia Development (INFID) beberapa waktu lalu. Harta yang dimi­liki empat orang terkaya di Indonesia setara de­ngan gabungan harta lebih dari 100 juta warga miskin di Indonesia.

“Ini menunjukkan ada kesenjangan yang sa­ngat tinggi antarmasyarakat. Kesenjangan terjadi bukan hanya antara orang kaya dan miskin da­lam struktur kependudukan, namun juga antara daerah perkotaan dan perdesaan,” kata Bagong.

Hal itu menimbulkan kesan kuat bahwa ha­sil-hasil pembangunan selama ini lebih banyak dinikmati oleh lapisan tertentu saja, sehing­ga menimbulkan kesenjangan. Hanya mereka yang memiliki akses terhadap modal, kredit, informasi, dan kekuasaan yang dapat mengam­bil manfaat dari pertumbuhan,” pungkasnya.

Kurang Efektif

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad, menegaskan turun kelasnya RI karena program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) kurang efektif menahan penurunan pen­dapatan masyarakat menengah bawah.

“GNI per kapita pada 2019 lebih banyak didongkrak oleh pendapatan segelintir ke­lompok, bukan karena kenaikan pendapatan semua kelompok masyarakat. Saat kelompok menengah bawah dengan jumlah yang signi­fikan tergerus pendapatannya, maka otomatis secara rata-rata turun kembali,” kata Tauhid.

Sementara itu, program PEN pada 2020 yang diharapkan menahan penurunan pendapatan ternyata tidak mampu. Dari 695,2 triliun rupiah yang dianggarkan, realisasinya hanya menca­pai 579,78 triliun rupiah atau 83,34 persen.

“Meskipun program PEN ini sangat besar realisasinya pada triwulan terakhir, namun tampaknya tidak bisa menjadi pendorong le­bih besar pemulihan ekonomi nasional pada triwulan terakhir,” kata Tauhid kepada Koran Jakarta, Rabu (10/2).

Bantuan sosial dalam bentuk sembako dan nonsembako yang digelontorkan sebesar 220,39 triliun rupiah faktanya tidak mendo­rong konsumsi makanan dan minuman. Bah­kan, konsumsi makanan dan minuman, selain restoran mengalami koreksi 1,39 persen (yoy) pada triwulan keempat 2020.

“Target yang disasar tidak tepat, mekanisme penyaluran yang tidak efektif hingga nilai ban­tuan yang kecil menyebabkan masalah makin kompleks. Program ini tidak bisa diharapkan bila tidak dilakukan perubahan secara men­dasar,” kata Tauhid.

Meskipun konsumsi rumah tangga mulai tum­buh 0,49 persen pada triwulan IV-2020 dibanding triwulan sebelumnya, namun secara tahunan masih berkontraksi 3,61 persen. Jika dibanding pada triwulan III-2020, konsumsi rumah tangga 4,69 persen dibandingkan triwulan II-2020, mes­kipun secara tahunan berkontraksi atau minus 4,05 persen. “Ini menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga pemulihannya lebih lambat pada triwulan IV-2020,” katanya.
Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update