< -->

Notification

×

Iklan

Jadwal Imsakiyah

Kota Serang, Banten
Subuh 04:32 – 04:45
Ashar 15:26 – 15:27 (sekitar)
Maghrib 18:17 – 18:21 --:--:--
Isya 19:20 – 19:30 (perkiraan)
Menuju Buka Puasa: --:--:--

Iklan

Jadwal Imsakiyah Hari Ini

Jadwal Imsakiyah Hari Ini

Kota Serang, Banten
Subuh 04:32 – 04:45
Ashar 15:26 – 15:27 (sekitar)
Maghrib 18:17 – 18:21
--:--:--
Isya 19:20 – 19:30 (perkiraan)
Menuju Buka Puasa --:--:--
Advertise With Us NEW
Kontak Banten Audience
👥 13-16K Daily Readers
📈 200K – 330K Monthly Pageviews
🔥 45K Peak Traffic / Day
🌐 4.6M+ Total Readers
📊 View Rate Card
💬 Contact WhatsApp

Tag Terpopuler

Cerewet di Media Sosial tetapi Miskin Ilmu dan Malas Baca

Tuesday, 15 November 2022 | Tuesday, November 15, 2022 WIB | Last Updated 2022-11-15T12:11:45Z

 


JAKARTA ( KONTAK BANTEN)   Sudah jadi rahasia umum bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Bahkan secara global, UNESCO menempatkan Indonesia di urutan kedua dari bawah terkait  Literasi 

Data UNESCO menyebut, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya dari 1.000 orang Indonesia, cuma satu orang yang rajin membaca. Indonesia berada di urutan ke-60 dari 61 negara soal minat baca.

Menariknya, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara lain.

Apa karena "rak buku"?

Indonesia memiliki  perpustakaan  dengan jumlah terbesar kedua di dunia setelah India. Sayang, jumlah   perpustakaan   itu tidak sejalan dengan peningkatan minat baca masyarakatnya.

Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando mengungkap bahwa jumlah infrastruktur perpustakaan  di Indonesia yaitu 164.610 unit. Sementara India yang berada di posisi pertama, memiliki infrastruktur  perpustakaan   323.605 unit.

Di balik ”pengakuan” itu, ternyata masyarakat Indonesia masih memiliki keterbatasan akses   perpustakaan   dan buku bacaan berkualitas.

Laporan Perpustakaan Nasional tahun 2020 menyebut, perpustakaan  yang ada di Indonesia saat ini baru mencapai 154.000 atau hanya 20 persen dari kebutuhan nasional.

Kekurangan perpustakaan itu di antaranya perpustakaan umum (baru 26 persen dari kebutuhan 91.000 pustakaan) dan  perpustakaan  sekolah (baru 42 persen dari kebutuhan 287.000 pustakaan).

Minimnya akses terhadap  perpustakaan  juga terasa hingga level kecamatan. Dari total kebutuhan 7.094   perpustakaan   kecamatan di seluruh Indonesia, baru terpenuhi 6 persen atau 600  perpustakaan  yang letaknya masih terpusat di Jawa.

Hal itu menyebabkan akses masyarakat terhadap  perpustakaan  dan buku di luar Jawa masih rendah. Belum lagi, tak semua  perpustakaan  punya kondisi yang bisa menarik minat masyarakat untuk datang dan berlama-lama membaca buku.

Ada  perpustakaan  dengan pelayanan dan kondisi sangat menarik serta membuat betah pengunjung. Namun, tentu tidak bisa dijumpai di pelosok.

Cerewet tanpa ilmu

Era digital juga jadi salah satu hambatan menaikkan minat baca masyarakat kita. Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, tahun 2017, jumlah penduduk Indonesia yang terkoneksi internet mencapai 143 juta orang.

Terbukanya akses itu seharusnya membuka pintu bagi ratusan juta orang untuk mencari ilmu dan pengetahuan dengan membaca. Sayang, masyarakat kita kebanyakan tidak mengakses tulisan ilmu dan pengetahuan.

Masyarakat kita lebih suka mengakses media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube. Mereka hanya mencari konten-konten menghibur, bukan mendidik. Bahkan, konten hoaks pun mereka tonton. Padahal, mereka menghabiskan waktu hingga 8 jam lebih untuk berselancar di dunia maya.

Tidak heran jika masyarakat Indonesia berada di urutan ke-5 dunia sebagai netizen paling cerewet di media sosial. Laporan itu dibuat berdasarkan hasil riset Semiocast, lembaga independen di Paris.

Warga Jakarta tercatat paling cerewet menuangkan segala bentuk unek-unek di Twitter, lebih dari 10 juta tweet setiap hari. Bandung juga masuk dalam jajaran kota teraktif di Twitter di posisi enam.

Bisa dibayangkan, dengan ilmu yang minimalis, malas baca buku, tetapi sangat suka menatap layar gawai berjam-jam, ditambah paling cerewet di media sosial memgomentari ini-itu, tanpa melihat latar belakang masalahnya.

Tidak heran jika Indonesia jadi sasaran empuk provokasi, hoaks, dan fitnah. Kecepatan jari untuk langsung like dan share melebihi kecepatan otak menimbang dan mencerna. Padahal, informasinya belum tentu benar.

Hal-hal di atas tentu merupakan masalah serius bagi negara kita untuk berkembang menjadi negara maju karena semua negara maju memiliki minat baca tinggi.

Jepang, misalnya. Mereka tak mau melewatkan waktunya tanpa membaca. Kita bisa dengan mudah menemukan orang Jepang membaca buku, koran, majalah di kereta api atau di taman-taman kota.

Hal yang sama juga terlihat di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan sejumlah negara maju di Eropa. Bisa jadi, memang sejak awal lingkungan kita kurang mendukung kebiasaan membaca.

Seharusnya minat baca bisa ditumbuhkan sejak kecil di lingkungan keluarga. Hanya, sampai saat ini bisa dihitung, berapa banyak orangtua yang memperkenalkan buku pada anak-anaknya sejak kecil.

Bisa jadi, masalahnya karena harga buku yang relatif mahal atau memang masyarakat kita lebih suka menonton daripada membaca.***

Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update