BANTEN KONTAK BANTEN Dinas Pertanian Provinsi Banten terus mengintensifkan upaya swasembada pangan melalui peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT) padi di seluruh wilayah kabupaten/kota. Program ini menjadi bagian dari strategi prioritas pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan pangan lokal serta mendukung ketahanan pangan nasional.
Data dari Sistem Informasi Penguatan Data Pangan Strategis (SiPDPS) Dinas Pertanian mencatat, luas tanam padi pada musim tanam Oktober 2024 hingga Juni 2025 menunjukkan tren peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini dipicu oleh konsistensi aktivitas tanam dan percepatan olah lahan di sejumlah sentra produksi utama.
Memasuki Juli 2025, Dinas Pertanian menargetkan realisasi luas tanam padi sebesar 38.970 hektare yang tersebar di delapan kabupaten/kota. Target tersebut menjadi langkah awal penting dalam mempersiapkan musim tanam selanjutnya. Pemerintah daerah pun didorong untuk mengoptimalkan potensi lahan serta mempercepat gerakan olah tanah guna mencapai target tersebut.
Provinsi Banten sendiri tercatat sebagai salah satu dari 10 provinsi penghasil padi terbesar di Indonesia berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024. Dinas Pertanian berharap capaian ini bisa terus dipertahankan dan ditingkatkan melalui sinergi lintas sektor.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Dr. H. Agus M. Tauchid, S.M., M.Si., menyebutkan bahwa seluruh capaian ini merupakan hasil kolaborasi antara petani, penyuluh, dan pemangku kepentingan lainnya. “Ketersediaan beras yang cukup adalah buah dari kerja bersama. Tantangan ke depan adalah menjaga kestabilan distribusi dan harga di tingkat konsumen,” jelasnya.
Hingga April 2025, Lanjut Dr. H. Agus M, menjelaskan, bahwa total luas panen padi di Banten mencapai 156.160 hektare melonjak 61,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Potensi panen tambahan hingga Juli 2025 diperkirakan mencapai 65.156 hektare, sehingga total luas panen kumulatif Januari–Juli 2025 mencapai 221.316 hektare. Angka ini mencatatkan kenaikan sebesar 37,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Masih kata Dr. H. Agus M membeberkan, dengan produktivitas rata-rata padi di atas 5 ton per hektare, total produksi beras pada tujuh bulan pertama 2025 dinilai mampu mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat Banten. Tingkat konsumsi beras masyarakat Banten sendiri diperkirakan berada pada angka 95 kg per kapita per tahun. Dengan populasi sekitar 12,1 juta jiwa, kebutuhan konsumsi beras tahunan diperkirakan mencapai 1,15 juta ton.
“Jika tren ini berlanjut hingga akhir tahun, Banten berpotensi mengalami surplus beras. Bahkan, provinsi ini bisa menjadi penopang pasokan antarwilayah serta berkontribusi terhadap stabilisasi harga di tingkat nasional,” tegas Dr. H. Agus M.
Sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan, Dinas Pertanian Banten juga terus mendorong efisiensi pascapanen, perbaikan distribusi logistik, dan penguatan cadangan pangan pemerintah daerah. Langkah ini ditujukan untuk menjaga kestabilan pasokan dan harga beras di tengah potensi gangguan iklim seperti El Nino.
“Fokus kami tidak hanya pada peningkatan produksi, tapi juga bagaimana hasil panen bisa terdistribusi dengan baik dan efisien, serta menjaga harga tetap stabil bagi masyarakat,” imbuh Agus.
Senada dengan itu, Pengawas Mutu Hasil Pertanian Dinas Pertanian, Dadan Firdaus, menyampaikan bahwa dengan proyeksi surplus dan sistem distribusi yang semakin kuat, Banten menargetkan peran strategis sebagai salah satu lumbung beras nasional.
Ia menekankan pentingnya penguatan sistem ketahanan pangan secara berkelanjutan demi memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap pangan pokok yang terjangkau dan berkualitas. (Advertorial)



.gif)