JAKARTA, KONTAKBANTEN — Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Luhut Binsar Pandjaitan di Istana Negara, yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan tertutup bersama mantan KSAD Dudung Abdurachman, dinilai sebagai sinyal kuat konsolidasi kekuasaan di lingkar inti pemerintahan.
Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menilai rangkaian pertemuan tersebut juga membuka peluang terjadinya perombakan atau reshuffle kabinet dalam waktu dekat.
Menurut Amir, langkah tersebut menunjukkan keseriusan Presiden dalam membaca dinamika nasional yang tengah menghadapi tekanan global.
KONSOLIDASI KEKUASAAN DI TENGAH TEKANAN GLOBAL
Amir menyebut, situasi global saat ini tengah berada dalam kondisi yang tidak stabil. Sejumlah faktor seperti krisis energi, rivalitas geopolitik antarnegara besar, hingga ancaman perlambatan ekonomi dunia dinilai mulai memberikan dampak terhadap kondisi domestik Indonesia.
“Ini adalah konsolidasi inti kekuasaan. Presiden sedang membaca situasi secara serius, terutama ketika tekanan ekonomi global mulai berdampak langsung ke dalam negeri,” ujar Amir, Kamis (23/4/2026).
Menurutnya, langkah Presiden bertemu dengan tokoh-tokoh strategis menunjukkan adanya upaya memperkuat koordinasi di tingkat elite pemerintahan.
INDIKATOR TEKANAN EKONOMI MULAI TERLIHAT
Lebih lanjut, Amir menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi serta LPG nonsubsidi menjadi indikator awal adanya tekanan ekonomi yang mulai dirasakan masyarakat.
Kondisi tersebut, kata dia, biasanya menjadi momentum bagi kepala negara untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja kabinet.
Dalam situasi tekanan ekonomi, pemerintah membutuhkan tim yang solid, responsif, dan mampu bekerja cepat dalam menghadapi berbagai tantangan.
RESHUFFLE KABINET DINILAI SANGAT MUNGKIN
Amir menyebut, reshuffle kabinet sangat mungkin dilakukan sebagai bagian dari strategi pemerintah dalam menghadapi situasi saat ini.
“Reshuffle sangat mungkin menjadi bagian dari strategi,” katanya.
Menurutnya, Presiden membutuhkan jajaran menteri yang mampu bekerja efektif dan adaptif di tengah tekanan global yang semakin kompleks.
“Konsolidasi dengan tokoh-tokoh strategis bisa menjadi pintu masuk untuk evaluasi besar di pemerintahan,” tambahnya.
SINYAL PERUBAHAN DI LINGKAR PEMERINTAHAN
Rangkaian pertemuan tersebut dinilai bukan sekadar agenda biasa, melainkan bagian dari langkah strategis dalam menjaga stabilitas pemerintahan.
Penguatan komunikasi dengan figur-figur berpengaruh di dalam dan luar kabinet dapat menjadi indikasi adanya perubahan arah kebijakan ke depan.
Meski belum ada pernyataan resmi dari pemerintah terkait reshuffle kabinet, dinamika politik yang terjadi saat ini menunjukkan adanya kemungkinan pergeseran dalam struktur pemerintahan.

.gif)