TANGERANG KONTAK BANTEN — Deru mesin perahu memecah keheningan pagi di tepian Sungai Cisadane. Di tengah kabut tipis yang masih menggantung, puluhan warga tampak mengantre di lokasi penyeberangan darurat dekat Jembatan Kali Baru yang rusak dan tak lagi dapat dilalui.
Warga dari Kecamatan Teluknaga yang hendak menuju Kecamatan Pakuhaji kini terpaksa mengandalkan perahu eretan sebagai satu-satunya akses penyeberangan. Kondisi ini sudah berlangsung cukup lama sejak jembatan penghubung dua wilayah tersebut mengalami kerusakan dan belum diperbaiki.
Setiap pagi, antrean warga terlihat mengular. Sebagian membawa tas kerja, sebagian lainnya mengangkut barang dagangan. Mereka rela menunggu giliran demi bisa menyeberang dan melanjutkan aktivitas sehari-hari.
Dulu, Jembatan Kali Baru menjadi akses utama yang memudahkan mobilitas masyarakat. Namun kini, jembatan yang dulunya ramai dilintasi kendaraan berubah sunyi dan terbengkalai. Aktivitas warga pun berpindah ke tepian sungai dengan memanfaatkan perahu kayu sederhana yang beroperasi bolak-balik.
Warga Rela Antre dan Bayar Setiap Hari
Setiap penyeberangan menggunakan perahu eretan dikenakan biaya Rp2 ribu per orang. Meski nominalnya relatif kecil, biaya tersebut menjadi pengeluaran tambahan bagi warga yang setiap hari harus bolak-balik menyeberang.
Selain biaya, waktu tunggu antrean juga menjadi keluhan utama masyarakat. Saat jam sibuk, warga harus menunggu cukup lama karena kapasitas perahu terbatas.
Hermansyah, salah satu warga Teluknaga yang hampir setiap hari menggunakan perahu eretan, mengaku tidak memiliki pilihan lain untuk berangkat bekerja ke wilayah Pakuhaji.
“Kalau dibilang takut, pasti ada. Apalagi kalau hujan deras, air sungai naik, arusnya jadi kencang. Tapi kami tidak punya pilihan lain, mau tidak mau tetap harus lewat sini,” katanya kepada wartawan, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, keberadaan perahu eretan saat ini bukan sekadar alat transportasi, tetapi sudah menjadi penyambung aktivitas dan sumber penghidupan masyarakat.
“Setiap hari saya keluar uang buat naik perahu. Memang cuma dua ribu, tapi kalau dihitung sebulan lumayan juga. Yang lebih berat itu nunggu antreannya, kadang lama kalau lagi ramai,” ujarnya.
Risiko Keselamatan Jadi Kekhawatiran
Selain keterbatasan akses, faktor keselamatan juga menjadi perhatian warga. Sungai Cisadane dikenal memiliki arus yang cukup deras, terutama saat musim hujan dan debit air meningkat.
Dalam kondisi cuaca buruk, warga tetap nekat menyeberang karena tidak ada jalur alternatif yang lebih dekat. Jika harus memutar menggunakan jalur lain, waktu tempuh dan biaya perjalanan dinilai jauh lebih besar.
Situasi tersebut membuat masyarakat berharap pemerintah segera melakukan perbaikan Jembatan Kali Baru agar aktivitas warga kembali normal dan aman.
“Kami cuma ingin jembatan itu diperbaiki. Dulu enak, tinggal lewat saja, tidak perlu antre dan tidak perlu khawatir. Sekarang semuanya jadi susah,” kata Hermansyah.
Jembatan Rusak Ganggu Aktivitas Ekonomi
Kerusakan Jembatan Kali Baru tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar Teluknaga dan Pakuhaji.
Banyak pekerja, pedagang, hingga pelajar yang setiap hari bergantung pada akses penghubung tersebut. Kini mereka harus menghadapi perjalanan yang lebih panjang, antrean penyeberangan, hingga risiko keselamatan di sungai.
Di tengah kondisi tersebut, warga tetap bertahan menjalani aktivitas sehari-hari. Perahu eretan terus bergerak mengangkut satu per satu penumpang, menjadi simbol perjuangan masyarakat di tengah keterbatasan akses.
Namun di balik semua itu, warga menyimpan harapan sederhana: agar Jembatan Kali Baru segera diperbaiki dan kehidupan mereka kembali berjalan normal tanpa harus mempertaruhkan keselamatan di atas arus Sungai Cisadane.

.gif)