< >

Notification

×

Iklan

Iklan

🌤️ Info Cuaca & Gempa
Cuaca Banten
Sumber: BMKG
Gempa Terkini

Tag Terpopuler

Presiden Prabowo Soroti Anjloknya Harga Sawit, Menteri Pertanian Pastikan Petani Tidak Dirugikan

Kamis, 18 Juni 2026 | Kamis, Juni 18, 2026 WIB | Last Updated 2026-06-18T14:40:35Z

 

Mentan Andi Amran Sulaiman saat menghadap Presiden Prabowo. Foto : Ist


JAKARTA KONTAK BANTEN – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan perhatian serius terhadap penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang sempat terjadi di sejumlah daerah dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintah menilai penurunan harga tersebut tidak sejalan dengan kondisi pasar global dan berpotensi merugikan jutaan petani sawit di Indonesia.

Hal itu diungkapkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman usai menghadiri pertemuan bersama Presiden di Istana Negara, Kamis (18/6/2026).

Menurut Amran, Presiden secara langsung menghubunginya untuk meminta penjelasan mengenai penyebab turunnya harga TBS yang diterima petani. Kepala negara disebut mempertanyakan alasan harga sawit di tingkat petani mengalami penurunan ketika sejumlah indikator pasar justru menunjukkan tren positif.

"Beliau menelepon dan menanyakan kenapa terjadi penurunan harga. Saya sampaikan bahwa kondisi ini merupakan anomali," kata Amran.

Presiden Minta Harga Sawit Petani Dijaga

Amran menjelaskan, Presiden Prabowo memberikan perhatian khusus terhadap kesejahteraan petani sawit karena komoditas tersebut menjadi salah satu penopang ekonomi nasional dan sumber penghasilan jutaan keluarga di berbagai daerah.

Menurutnya, Presiden tidak ingin petani menjadi korban dari praktik tata niaga yang tidak sehat maupun permainan harga yang tidak sesuai dengan kondisi pasar sebenarnya.

Karena itu, pemerintah bergerak cepat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap rantai perdagangan sawit, mulai dari tingkat pabrik kelapa sawit (PKS) hingga mekanisme penjualan produk turunan sawit ke pasar ekspor.

"Presiden memberi perhatian besar karena ini menyangkut kehidupan jutaan petani Indonesia yang menggantungkan pendapatan dari sektor sawit," ujar Amran.

Harga TBS Turun di Tengah Kenaikan Harga CPO Dunia

Kementerian Pertanian menilai penurunan harga TBS yang terjadi beberapa waktu terakhir tergolong tidak wajar. Sebab, secara ekonomi terdapat sejumlah faktor yang seharusnya mendorong kenaikan harga di tingkat petani.

Amran menjelaskan bahwa harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar internasional mengalami kenaikan. Selain itu, nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah juga menguat hingga sekitar 10 persen.

Dalam kondisi normal, kenaikan harga CPO dunia dan penguatan dolar biasanya berdampak positif terhadap harga sawit yang diterima petani.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Harga TBS di sejumlah wilayah mengalami penurunan sehingga menimbulkan pertanyaan dan keluhan dari para petani.

"Kondisi ini tidak sesuai dengan logika pasar. Karena itulah pemerintah melakukan evaluasi dan pengawasan lebih lanjut," jelasnya.

Kementan Kumpulkan Ratusan Perusahaan Sawit

Sebagai langkah cepat, Kementerian Pertanian mengundang dan mengumpulkan pelaku usaha sawit dari berbagai daerah di Indonesia untuk membahas persoalan tersebut.

Pertemuan tersebut melibatkan sekitar 700 perusahaan dari total 1.900 pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi di Indonesia.

Dalam forum tersebut, pemerintah meminta seluruh perusahaan mematuhi mekanisme harga yang sesuai dengan kondisi pasar dan tidak mengambil keuntungan dengan mengorbankan petani.

Amran menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan praktik-praktik yang dapat menekan harga TBS di tingkat petani.

"Kami minta jangan bermain-main. Jangan korbankan rakyat. Petani plasma jumlahnya mencapai 15 juta orang dan bersama keluarganya diperkirakan mencapai 30 juta jiwa," tegasnya.

Ratusan Pabrik Belum Sesuaikan Harga

Hasil evaluasi yang dilakukan pemerintah menunjukkan masih terdapat ratusan pabrik kelapa sawit yang belum melakukan penyesuaian harga pembelian TBS sesuai perkembangan pasar.

Dari hasil pendataan, sebanyak 274 PKS diketahui belum menaikkan harga pembelian sawit meskipun kondisi pasar mendukung adanya kenaikan harga.

Namun setelah dilakukan pembinaan, pengawasan, dan komunikasi intensif oleh pemerintah, sebagian besar perusahaan mulai melakukan penyesuaian.

"Sekarang yang belum menyesuaikan tinggal sekitar 100 perusahaan atau sekitar 5 sampai 10 persen," kata Amran.

Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa langkah intervensi pemerintah mulai membuahkan hasil.

Harga Sawit Mulai Kembali Normal

Kementerian Pertanian menyebut kondisi harga TBS saat ini mulai membaik dan mendekati harga yang seharusnya diterima petani.

Amran memperkirakan sekitar 90 persen harga TBS di berbagai daerah telah kembali ke kondisi normal setelah pemerintah melakukan pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan sawit.

Pemerintah optimistis proses pemulihan harga akan terus berlanjut sehingga petani dapat kembali memperoleh pendapatan yang layak dari hasil panennya.

"Kami melihat perkembangan yang positif. Sebagian besar harga sudah bergerak naik dan mendekati normal," ujarnya.

Gandeng Aparat Penegak Hukum

Untuk memastikan seluruh perusahaan mematuhi ketentuan yang berlaku, Kementerian Pertanian juga menggandeng aparat penegak hukum.

Amran mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengirimkan surat kepada Kapolri untuk membantu melakukan pengawasan terhadap perusahaan yang belum melakukan penyesuaian harga sesuai kondisi pasar.

Langkah tersebut dilakukan agar tidak ada pihak yang mengambil keuntungan secara sepihak dengan mengorbankan petani sawit.

Pemerintah berharap keterlibatan aparat penegak hukum dapat mempercepat penyelesaian persoalan dan menciptakan tata niaga yang lebih adil.

Siapkan Sistem Ekspor Sawit Satu Pintu

Selain melakukan pengawasan terhadap harga TBS, pemerintah juga tengah menyiapkan sistem tata niaga ekspor sawit yang lebih terintegrasi.

Sistem tersebut dirancang untuk meningkatkan transparansi perdagangan, memperkuat pengawasan, serta menutup berbagai potensi kebocoran dalam rantai distribusi dan ekspor produk sawit nasional.

Melalui sistem satu pintu tersebut, pemerintah berharap harga sawit di tingkat petani dapat lebih stabil dan mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya.

"Harapannya sistem satu pintu ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia dan menjaga harga TBS tetap sehat," tutup Amran.

Pemerintah menegaskan akan terus mengawal stabilitas harga sawit demi melindungi jutaan petani yang menjadi tulang punggung industri kelapa sawit nasional. Selain sebagai komoditas ekspor unggulan, sektor sawit juga menjadi sumber mata pencaharian bagi puluhan juta masyarakat Indonesia yang bergantung pada aktivitas perkebunan dan industri turunannya.

Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update