< >

Notification

×

Iklan

Iklan

🌤️ Info Cuaca & Gempa
Cuaca Banten
Sumber: BMKG
Gempa Terkini

Tag Terpopuler

Angka Perceraian di Indonesia Masih Tinggi, Mengapa Generasi Z Semakin Hati-Hati Memutuskan Menikah?

Kamis, 09 Juli 2026 | Kamis, Juli 09, 2026 WIB | Last Updated 2026-07-09T16:43:33Z

 


 

JAKARTA  KONTAK BANTEN – Tingginya angka perceraian di Indonesia memunculkan fenomena sosial baru di kalangan generasi muda. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perceraian di Indonesia mencapai 438.168 kasus, angka yang memicu kekhawatiran sekaligus melahirkan tren "Marriage is Scary" atau anggapan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang menakutkan.

Di berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, hingga X (Twitter), semakin banyak anak muda yang mengungkapkan ketakutan untuk menikah. Mereka melihat tingginya kasus perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perceraian, hingga konflik keluarga sebagai alasan untuk menunda bahkan menghindari pernikahan.

Padahal, para pakar menilai fenomena tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh tingginya angka perceraian, tetapi juga perubahan pola pikir, gaya hidup, dan perkembangan teknologi digital yang membentuk cara pandang Generasi Z terhadap sebuah hubungan.

Angka Perceraian Masih Tinggi

Data BPS menunjukkan bahwa perceraian masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Ratusan ribu pasangan suami istri mengakhiri rumah tangga mereka setiap tahun dengan berbagai faktor penyebab, mulai dari persoalan ekonomi, perselisihan yang terus-menerus, perselingkuhan, hingga kekerasan dalam rumah tangga.

Kondisi tersebut membuat banyak anak muda mulai mempertanyakan apakah pernikahan masih menjadi tujuan hidup yang ideal atau justru berisiko membawa penderitaan.

Fenomena inilah yang kemudian populer dengan istilah "Marriage is Scary", yakni ketakutan menikah karena melihat banyaknya contoh rumah tangga yang gagal.

Faktor Utama Perceraian Dini pada Generasi Z

Sejumlah penelitian dan pengamatan menunjukkan tingginya perceraian pada pasangan usia muda tidak terjadi karena satu faktor saja, melainkan merupakan akumulasi berbagai persoalan.

1. Imaturitas Emosional

Banyak pasangan menikah sebelum benar-benar matang secara emosional.

Ketidakmampuan mengendalikan emosi, ego yang tinggi, hingga minimnya kemampuan menyelesaikan konflik membuat persoalan kecil berkembang menjadi pertengkaran besar yang sulit diselesaikan.

Ketika komunikasi tidak berjalan baik, perceraian sering kali dipilih sebagai jalan keluar.

2. Tekanan Ekonomi

Persoalan finansial masih menjadi salah satu penyebab utama perceraian.

Generasi Z menghadapi tantangan ekonomi yang berbeda dibanding generasi sebelumnya, mulai dari tingginya biaya hidup, sulitnya memperoleh pekerjaan yang stabil, harga rumah yang terus meningkat, hingga tekanan untuk memenuhi gaya hidup modern.

Kondisi tersebut dapat memicu konflik dalam rumah tangga apabila tidak dikelola dengan baik.

3. Pengaruh Media Sosial

Media sosial memiliki pengaruh besar terhadap cara pandang anak muda mengenai hubungan.

Algoritma platform digital sering menampilkan konten mengenai perselingkuhan, perceraian, KDRT, hingga konflik rumah tangga.

Akibatnya, muncul persepsi bahwa hampir semua pernikahan berakhir buruk, meskipun kenyataannya masih banyak keluarga yang hidup harmonis.

Paparan informasi negatif secara terus-menerus dapat menimbulkan ketakutan berlebihan terhadap institusi pernikahan.

4. Budaya Ghosting dan Lemahnya Komunikasi

Fenomena ghosting, yakni menghilang tanpa penjelasan ketika menghadapi konflik dalam hubungan, juga dinilai memengaruhi kualitas hubungan jangka panjang.

Kebiasaan menghindari masalah sebelum menikah berpotensi terbawa ke dalam kehidupan rumah tangga.

Padahal, pernikahan membutuhkan komunikasi terbuka, kemampuan berkompromi, serta kesediaan menyelesaikan konflik bersama.

5. Ekspektasi Pernikahan yang Tidak Realistis

Banyak anak muda membangun gambaran ideal tentang pernikahan berdasarkan media sosial atau drama romantis.

Ketika realitas kehidupan rumah tangga tidak sesuai harapan, rasa kecewa muncul dan berujung pada konflik berkepanjangan.

Pergeseran Cara Pandang Generasi Z

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang memandang pernikahan sebagai tahapan hidup yang harus dijalani, Generasi Z cenderung lebih selektif.

Mereka lebih mengutamakan kesehatan mental, kestabilan finansial, pengembangan karier, dan kualitas hubungan sebelum memutuskan menikah.

Bagi sebagian anak muda, menikah bukan lagi sekadar memenuhi tuntutan sosial, melainkan keputusan besar yang harus dipersiapkan secara matang.

Akibatnya, usia menikah pun cenderung semakin mundur.

Benarkah Pernikahan Semakin Menakutkan?

Psikolog menilai ketakutan menikah sebenarnya merupakan respons yang wajar apabila seseorang terus-menerus menerima informasi negatif.

Namun, mereka mengingatkan bahwa tingginya angka perceraian tidak berarti semua pernikahan akan gagal.

Keberhasilan rumah tangga sangat dipengaruhi oleh kesiapan pasangan, kualitas komunikasi, kedewasaan emosional, serta kemampuan menyelesaikan masalah bersama.

Solusi Menekan Risiko Perceraian Dini

Untuk mengurangi tingginya angka perceraian pada pasangan muda, diperlukan upaya bersama dari pemerintah, keluarga, lembaga pendidikan, hingga masyarakat.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Meningkatkan pendidikan pranikah, termasuk keterampilan komunikasi, pengelolaan konflik, dan literasi keuangan.
  • Mempersiapkan kematangan emosional sebelum memutuskan menikah.
  • Meningkatkan literasi digital, agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh konten negatif di media sosial.
  • Membangun komunikasi yang sehat dan terbuka dalam hubungan.
  • Memperkuat konseling keluarga dan layanan psikologis bagi pasangan yang mengalami konflik rumah tangga.
  • Meningkatkan kesiapan ekonomi, termasuk perencanaan keuangan jangka panjang sebelum membangun keluarga.

Pernikahan Tetap Membutuhkan Persiapan Matang

Fenomena "Marriage is Scary" menjadi cerminan perubahan cara pandang Generasi Z terhadap hubungan dan pernikahan. Tingginya angka perceraian memang menjadi pengingat bahwa membangun rumah tangga bukanlah perkara mudah.

Namun, para ahli menegaskan bahwa pernikahan tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan. Dengan kesiapan emosional, komunikasi yang baik, kematangan finansial, serta komitmen yang kuat, peluang membangun keluarga yang harmonis tetap terbuka lebar.

Bagi Generasi Z, menikah bukan tentang seberapa cepat melangkah ke pelaminan, melainkan seberapa siap membangun rumah tangga yang sehat, setara, dan mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

 
 

Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update