SERANG KONTAK BANTEN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten memetakan sebanyak 415 desa dan kelurahan berpotensi mengalami krisis air bersih selama musim kemarau 2026. Potensi kekeringan tersebut dipicu menurunnya debit sumber air akibat minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan hasil pemetaan BPBD Banten, wilayah rawan kekeringan tersebar di tujuh kabupaten dan kota. Kabupaten Pandeglang menjadi daerah dengan jumlah titik rawan terbanyak, disusul Kabupaten Lebak dan Kabupaten Tangerang.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin, mengatakan pemerintah daerah telah melakukan berbagai langkah antisipasi guna memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.
"Kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk menyiapkan personel serta peralatan penanggulangan bencana. Koordinasi juga dilakukan bersama kepolisian dan instansi terkait untuk mendukung distribusi air bersih apabila masyarakat mulai terdampak kekeringan," kata Lutfi, Selasa (14/7/2026).
Pandeglang Miliki Titik Rawan Terbanyak
Data BPBD Banten mencatat, sebanyak 415 titik rawan kekeringan tersebar di sejumlah daerah dengan rincian sebagai berikut:
- Kabupaten Pandeglang: 111 titik
- Kabupaten Lebak: 109 titik
- Kabupaten Tangerang: 101 titik
- Kabupaten Serang: 64 titik
- Kota Tangerang Selatan: 14 titik
- Kota Serang: 12 titik
- Kota Cilegon: 4 titik
Sementara itu, Kota Tangerang tidak masuk dalam wilayah yang dipetakan berpotensi mengalami kekeringan.
Armada Tangki Air Masih Terbatas
Meski telah menyiapkan langkah mitigasi, BPBD Banten mengakui kapasitas armada distribusi air bersih masih terbatas.
Saat ini BPBD Provinsi Banten hanya memiliki empat unit mobil tangki air, sehingga distribusi bantuan harus dilakukan melalui kolaborasi dengan BPBD kabupaten dan kota yang secara keseluruhan memiliki sekitar 150 unit armada tangki.
"Satu bulan ke depan, kami membackup pengiriman air bersih di wilayah Pandeglang melalui kolaborasi dengan BPBD Kabupaten Pandeglang," ujar Lutfi.
Masyarakat Diimbau Hemat Air dan Waspada Kebakaran
Selain mengantisipasi krisis air bersih, BPBD Banten juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan air secara bijak selama musim kemarau.
Lutfi meminta masyarakat menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membuang puntung rokok sembarangan, membakar sampah tanpa pengawasan, maupun membuka lahan dengan cara membakar.
"Kalau memang terpaksa melakukan pembakaran, pastikan api benar-benar padam sebelum ditinggalkan," tegasnya.
Risiko Kebakaran Meningkat
BPBD memprediksi musim kemarau tahun ini tidak hanya memicu kekeringan, tetapi juga meningkatkan potensi kebakaran hutan, lahan, dan permukiman.
Wilayah Banten Selatan diperkirakan menjadi kawasan dengan risiko kebakaran lahan paling tinggi, sedangkan potensi kebakaran permukiman lebih banyak mengancam kawasan Tangerang Raya.
"Kalau kebakaran lahan paling banyak diprediksi terjadi di wilayah Banten Selatan. Untuk wilayah perkotaan, kebakaran permukiman diperkirakan terjadi di Tangerang Raya," jelas Lutfi.
Dinas Pertanian Siapkan Pompa Air
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap sektor pertanian, BPBD Banten juga berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi Banten.
Pemerintah telah menyiapkan sejumlah pompa air (alkon) guna membantu kebutuhan irigasi lahan persawahan agar petani tidak mengalami gagal panen.
"Kami bersama Dinas Pertanian telah membahas langkah mitigasi agar para petani tidak mengalami kerugian akibat kekeringan," katanya.
Tiga Kecamatan di Pandeglang Sudah Krisis Air Bersih
Sementara itu, Pembina Forum Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Pandeglang, Ade Mulyana, mengungkapkan bahwa hingga pertengahan Juli 2026, sudah ada tiga kecamatan di Pandeglang yang mengalami krisis air bersih.
Ketiga kecamatan tersebut yakni Sindangresmi, Patia, dan Angsana. Di wilayah tersebut, lebih dari 2.000 warga kesulitan memperoleh air bersih sehingga bergantung pada bantuan distribusi air.
"Sejak kemarin kami terus mengirimkan bantuan air bersih sebanyak 5.000 liter untuk setiap lokasi. Distribusi dilakukan setiap hari secara bergantian ke daerah-daerah yang mengalami kekeringan," ujar Ade.
Pemerintah Tingkatkan Kesiapsiagaan
BPBD Banten memastikan akan terus memantau perkembangan musim kemarau dan memperkuat koordinasi dengan seluruh pemerintah daerah, relawan, serta instansi terkait untuk mempercepat penyaluran bantuan air bersih.
Masyarakat diimbau segera melaporkan kepada pemerintah setempat apabila mengalami kesulitan memperoleh air bersih atau menemukan potensi kebakaran, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan dampaknya dapat diminimalkan.

.gif)