![]() |
| Aliansi Mahasiswa Indonesia (AMI) |
JAKARTA KONTAK BANTEN — Aliansi Mahasiswa Indonesia (AMI) mendesak Presiden Prabowo Subianto melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja para menteri di Kabinet Merah Putih. AMI menilai reshuffle kabinet diperlukan agar pemerintahan berjalan lebih efektif dan mampu menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Desakan tersebut disampaikan AMI dengan menyoroti sejumlah persoalan yang dinilai masih membutuhkan penanganan serius pemerintah, mulai dari ekonomi, lingkungan, infrastruktur, pangan hingga masalah sosial.
Koordinator AMI yang juga mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK), Wawan, menyebut mayoritas menteri saat ini belum menunjukkan kinerja yang sesuai dengan harapan masyarakat.
“Sebanyak 90 persen menteri gagal. Buktikan dengan evaluasi terbuka! Reshuffle atau tumbang!” tegas Wawan, Jumat (21/8/2026).
AMI Soroti Kinerja Sejumlah Kementerian
AMI merupakan organisasi mahasiswa lintas kampus yang menilai kinerja sejumlah kementerian perlu dievaluasi secara serius.
AMI juga menyoroti hasil sejumlah survei yang disebut menunjukkan adanya pejabat dengan rekam jejak kinerja yang dinilai buruk di kabinet.
Beberapa kementerian yang menjadi sorotan AMI antara lain Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), serta kementerian yang menangani bidang pekerjaan umum dan infrastruktur.
Menurut AMI, evaluasi kabinet tidak boleh hanya menjadi agenda politik. Pemerintah harus mengukur secara terbuka capaian setiap kementerian berdasarkan target yang telah ditetapkan.
Reshuffle Jangan Sekadar Bagi-Bagi Jabatan
AMI menegaskan, reshuffle tidak boleh dimaknai sekadar sebagai pergantian jabatan atau pembagian kursi politik.
Perombakan kabinet, kata mereka, harus menjadi momentum untuk menghadirkan menteri yang kompeten, berintegritas, berani mengambil keputusan, dan berpihak kepada kepentingan rakyat.
AMI juga meminta pemerintah membuka capaian dan target kinerja setiap kementerian kepada publik. Dengan transparansi tersebut, masyarakat dapat mengetahui sejauh mana para menteri menjalankan mandat yang diberikan Presiden.
Menteri yang tidak mampu memenuhi target maupun menjalankan mandat pemerintahan, menurut AMI, harus dievaluasi dan apabila diperlukan diganti.
Lima Tuntutan AMI kepada Pemerintah
Dalam penyampaian sikapnya, AMI menyampaikan lima tuntutan kepada pemerintah.
Pertama, melakukan evaluasi menyeluruh dan terbuka terhadap seluruh menteri dalam Kabinet Merah Putih.
Kedua, mengganti menteri yang dinilai tidak mampu memenuhi target dan menjalankan mandat pemerintahan.
Ketiga, setiap kementerian wajib membuka capaian dan target kinerjanya secara transparan kepada publik.
Keempat, memastikan kebijakan pemerintah berpihak kepada kepentingan rakyat, bukan kepentingan elite.
Kelima, menegaskan bahwa jabatan menteri bukan hadiah politik, melainkan amanah rakyat yang harus dipertanggungjawabkan melalui kinerja.
“Jabatan menteri bukan hadiah politik. Jabatan menteri adalah amanah rakyat. Jika tidak mampu bekerja, evaluasi, diganti,” kata Wawan.
Beri Waktu Prabowo 7 x 24 Jam
AMI juga memberikan batas waktu kepada Presiden Prabowo untuk merespons tuntutan tersebut.
Wawan mengatakan, jika dalam waktu 7 x 24 jam tidak ada respons dari Presiden, AMI akan menggelar aksi di jalan.
“Kepada Presiden Prabowo, jika tuntutan AMI tidak direspons dalam 7 x 24 jam oleh Presiden Prabowo, maka AMI akan turun ke jalan sampai menang,” tegas Wawan.
AMI menyebut tuntutan tersebut merupakan bentuk kontrol mahasiswa terhadap jalannya pemerintahan. Menurut mereka, kritik dan evaluasi diperlukan agar kebijakan pemerintah tidak berhenti pada narasi, tetapi menghasilkan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Sejumlah perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi turut hadir dalam penyampaian sikap AMI. Mereka antara lain Wawan dari UBK, Noval dari Universitas Kosgoro, Okta dan Jojo dari Universitas Jayabaya, Alwi dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Kahzim dari UBK, Iqbal dan Bojes dari UNSIA, Wahyu dari Universitas Nasional (UNAS), Hadeq dan Aulia dari Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), Samil dari Universitas Satya Negara Indonesia, serta Lutfi dari UIN.(TIM)

.gif)