![]() |
| Menkes Budi Gunadi Sadikin dan Kepala BGN Sudaryono saat rakor terkait Perbaikan Tata Kelola MBG di Kemenko Pangan, Rabu (29/7/2026). (Dok. Kemenko Pangan.) |
JAKARTA, KONTAK BANTEN – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa persoalan kekurangan gizi dan stunting masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024, sekitar 112 juta penduduk atau 40 persen populasi masih mengalami kekurangan gizi.
Pernyataan tersebut disampaikan Budi Gunadi Sadikin usai mengikuti Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Tingkat Menteri terkait penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kamis (30/7/2026).
Menurut Budi, persoalan gizi masih menjadi salah satu masalah kesehatan nasional yang harus segera ditangani melalui kolaborasi lintas sektor.
"Di mata Kementerian Kesehatan, persoalan gizi merupakan salah satu masalah utama kesehatan nasional," ujar Budi.
Data Susenas Ungkap 40 Persen Penduduk Kekurangan Gizi
Budi menjelaskan, data Susenas 2024 yang melibatkan sekitar 1,5 juta responden menunjukkan bahwa empat desil atau sekitar 40 persen masyarakat Indonesia masih mengalami kekurangan gizi.
Jumlah tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 112 juta jiwa, sehingga membutuhkan intervensi yang berkelanjutan dari pemerintah.
Selain persoalan gizi kurang, Indonesia juga masih menghadapi angka stunting yang relatif tinggi.
Angka Stunting Masih Sekitar 20 Persen
Menkes menyebut prevalensi stunting nasional masih berada di kisaran 20 persen. Dari sekitar 25 juta anak di Indonesia, jutaan di antaranya masih mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis.
Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak pada perkembangan fisik, kemampuan belajar, hingga kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa mendatang.
Hasil Cek Kesehatan Gratis Masih Temukan Banyak Anak Kurang Gizi
Budi juga mengungkapkan bahwa hasil Program Cek Kesehatan Gratis menunjukkan sebagian besar anak, mulai usia sekolah dasar hingga sekolah menengah atas (SMA), masih mengalami kekurangan gizi.Meski ditemukan pula kasus gizi lebih, terutama pada remaja dan orang dewasa di wilayah perkotaan, persoalan utama yang masih mendominasi adalah kekurangan gizi.
"Hasil Cek Kesehatan Gratis juga menunjukkan sebagian besar anak hingga tingkat SMA masih mengalami gizi kurang. Memang ada kasus gizi lebih, terutama pada remaja dan orang dewasa di perkotaan, tetapi mayoritas persoalannya masih kekurangan gizi," jelasnya.(timone)

.gif)