![]() |
SERANG, KONTAK BANTEN — Persoalan sampah organik di wilayah kepulauan mendorong Universitas Banten Jaya (UNBAJA) bersama Universitas Serang Raya (UNSERA) menghadirkan inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Pulau Tunda, Kabupaten Serang.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Penerapan Inovasi Komposter Berbasis Masyarakat untuk Pencegahan Risiko Kesehatan Lingkungan di Pulau Tunda, Kabupaten Serang”, kedua perguruan tinggi tersebut memperkenalkan teknologi tepat guna untuk mengolah sampah organik sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan lingkungan.
Program ini didukung pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun Anggaran 2026.
Ubah Pola Pengelolaan Sampah
Tim pengabdian menghadirkan inovasi komposter sebagai solusi untuk mengolah sampah organik langsung dari sumbernya.
Program tersebut mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dari pola “kumpul-buang” menjadi “pilah-olah-manfaatkan”.
Sampah organik rumah tangga dan aktivitas masyarakat yang sebelumnya menjadi limbah dapat diolah melalui proses pengomposan sehingga menghasilkan produk yang kembali bermanfaat bagi lingkungan.
Ketua Tim Pengabdian, Linardita Ferial, mengatakan program tersebut tidak hanya berfokus pada pemberian alat komposter, tetapi juga membangun kebiasaan baru masyarakat dalam mengelola sampah.
“Inovasi komposter yang kami terapkan bukan hanya mengenai alat, tetapi bagaimana membangun kebiasaan masyarakat untuk memilah dan mengolah sampah sejak dari sumber,” ujar Linardita, Rabu (19/8/2026).
Ia berharap masyarakat Pulau Tunda dapat mengoperasikan dan merawat komposter secara mandiri sehingga manfaat program tetap berjalan setelah kegiatan pengabdian selesai.
“Kami berharap masyarakat Pulau Tunda mampu mengoperasikan, merawat, dan mengembangkan teknologi ini secara mandiri sehingga manfaatnya dapat terus dirasakan setelah program pengabdian selesai,” katanya.
Masyarakat Jadi Pelaku Utama
Menurut Linardita, pendekatan berbasis masyarakat menjadi faktor penting dalam pengelolaan sampah di wilayah kepulauan.
Pasalnya, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan menghadirkan teknologi. Perubahan perilaku, partisipasi masyarakat, kelembagaan lokal, serta keberlanjutan pengelolaan juga harus diperkuat.
Karena itu, pelaksanaan program dilakukan secara partisipatif dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Tim pengabdian memberikan edukasi mengenai jenis dan karakteristik sampah, pemilahan sampah organik dan anorganik, risiko kesehatan lingkungan akibat pengelolaan sampah yang tidak tepat, serta cara mengolah sampah organik menggunakan komposter.
Warga Diajarkan Mengolah Sampah Secara Mandiri
Pendampingan dilakukan agar masyarakat tidak hanya memahami pengomposan secara teori, tetapi juga mampu mempraktikkannya secara langsung.
Masyarakat diberikan pemahaman mengenai proses pengomposan sekaligus cara melakukan pemeliharaan komposter.
Melalui kegiatan tersebut, tim pengabdian menargetkan peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian masyarakat dalam mengelola sampah organik.
Kebiasaan tersebut diharapkan dapat mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Kurangi Sampah yang Keluar dari Pulau
Pengolahan sampah organik langsung dari sumbernya diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang harus dibuang maupun diangkut keluar dari Pulau Tunda.
Tidak hanya mengurangi timbulan sampah, hasil pengolahan organik juga dapat dimanfaatkan kembali sehingga menciptakan prinsip ekonomi sirkular dalam skala masyarakat.
Dengan demikian, program komposter tidak hanya diarahkan untuk mengatasi persoalan sampah, tetapi juga meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan dan memperkuat kapasitas masyarakat.
Upaya tersebut sekaligus diharapkan dapat mendukung keberlanjutan kawasan wisata Pulau Tunda.
Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Masyarakat
Keterlibatan UNBAJA dan UNSERA menunjukkan pentingnya kolaborasi antarperguruan tinggi dalam menjawab persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat.
Melalui kegiatan pengabdian, pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di perguruan tinggi dapat diterapkan secara langsung sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Sebaliknya, persoalan yang ditemukan di lapangan dapat menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran untuk mengembangkan inovasi berikutnya.
Ditargetkan Bisa Diterapkan di Wilayah Lain
Keberlanjutan program menjadi salah satu perhatian utama tim pengabdian.
Masyarakat diharapkan dapat terus melakukan pemilahan sampah, mengoperasikan komposter, memanfaatkan hasil pengolahan, serta menyebarluaskan praktik baik kepada kelompok masyarakat lainnya.
Dalam jangka panjang, inovasi tersebut diharapkan dapat dikembangkan menjadi model pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat yang dapat diterapkan di wilayah pesisir dan kepulauan lain dengan persoalan serupa.
Program ini menjadi salah satu contoh bahwa persoalan lingkungan dapat ditangani melalui perpaduan teknologi tepat guna, edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi perguruan tinggi.
Dengan dukungan pemerintah melalui pendanaan Tahun Anggaran 2026, program tersebut diharapkan memberikan dampak nyata dalam mewujudkan Pulau Tunda yang lebih bersih, sehat, produktif, dan berkelanjutan.(KKM)

.gif)