LEBAK KONTAK BANTEN – Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah mengajak masyarakat memperkuat persatuan dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah keberagaman suku, agama, dan bahasa.
Ajakan tersebut disampaikan Amir saat menghadiri Milad ke-50 Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Hasanah Cimangeunteung, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Minggu.
Amir menilai keberagaman yang dimiliki Indonesia menjadi kekuatan yang harus terus dijaga. Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang luar biasa karena mampu mempertahankan persatuan meski memiliki masyarakat dengan latar belakang yang sangat beragam.
“Kita bangsa luar biasa dan tidak dimiliki negara lain, namun persatuan hingga kini terjaga dengan baik,” kata Amir.
Indonesia Memiliki Keberagaman Besar
Amir menyebut Indonesia memiliki sekitar 300 kelompok suku, 1.340 kelompok etnis, serta lebih dari 700 bahasa daerah yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.
Menurut dia, keberagaman tersebut menjadi bukti bahwa persatuan merupakan salah satu kekuatan utama bangsa Indonesia dalam mempertahankan keutuhan NKRI.
“Negara lain hanya satu dan dua suku mendirikan negara, seperti Korea Selatan, Jepang dan Eropa. Namun, Indonesia yang memiliki keberagaman dapat berdiri NKRI,” ujarnya.
Karena itu, Amir mengajak seluruh masyarakat untuk terus memperkuat persatuan dan menciptakan kehidupan yang damai di tengah perbedaan.
Ia mencontohkan keberagaman tersebut juga terlihat di Kabupaten Lebak. Salah satunya terdapat warga asal Kalimantan yang kini dipercaya menjadi pejabat di lingkungan pemerintahan Kabupaten Lebak.
Amir juga mengaitkan semangat menjaga persatuan dengan nilai-nilai Islam yang diajarkan organisasi keagamaan, termasuk Nahdlatul Ulama (NU), yang menurutnya turut menjunjung tinggi persatuan dan perdamaian.
MUI Banten Apresiasi KH Hasan Basri
Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banten KH Bazari Syam memberikan apresiasi kepada KH Hasan Basri selaku pengasuh Ponpes Nurul Hasanah Rangkasbitung.
Bazari menilai KH Hasan Basri telah memberikan kontribusi besar dalam bidang pendidikan dan keagamaan. Ia juga menyebut Hasan Basri merupakan anggota MUI Provinsi Banten pada bidang fatwa.
“Kita mengapresiasi keilmuan Mama Kiyai Hasan Basri sebagai ulama besar di Banten yang mengabdikan diri untuk umat dan bangsa,” kata Bazari.
Ponpes Nurul Hasanah Berdiri Sejak 1976
KH Hasan Basri mengatakan Ponpes Nurul Hasanah Rangkasbitung didirikan pada 1976. Kini, pesantren tersebut telah memasuki usia 50 tahun dan terus menjadi tempat para santri memperdalam ilmu agama Islam.
Selain pendidikan pesantren, lembaga tersebut juga menyelenggarakan pendidikan formal sejak 2003, melalui Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan SMA.
Selama berdiri, lembaga pendidikan tersebut telah meluluskan ribuan peserta didik yang kemudian mengabdi di berbagai bidang.
Menurut Hasan, pendidikan pesantren dan sekolah formal di lingkungan Ponpes Nurul Hasanah diarahkan untuk mencerdaskan generasi bangsa dengan memadukan ilmu agama dan pengetahuan umum.
“Kita banyak juga lulusan di sini mengabdi untuk negara sebagai PNS, TNI, Polri hingga DPRD, juga pengusaha dan ulama,” ujarnya.
Santri Belajar Tanpa Dipungut Biaya
Salah seorang santri Ponpes Nurul Hasanah, Bagus (20), mengaku telah menimba ilmu di pesantren tersebut selama lima tahun.
Hingga kini, ia masih mengikuti pendidikan di Ponpes Nurul Hasanah tanpa dipungut biaya.
“Kami terus belajar di ponpes untuk mendalami ilmu-ilmu agama Islam,” kata Bagus yang bercita-cita menjadi ulama.(TIM)

.gif)