Ketidakpastian ekonomi global, tekanan kehidupan sosial, hingga kekhawatiran tentang masa depan kerap membuat manusia diliputi rasa takut dan cemas. Di tengah kondisi tersebut, ajaran agama menjadi salah satu sumber kekuatan untuk menjaga hati agar tidak larut dalam kegelisahan.
Pesan penuh ketenangan itu menjadi pembahasan dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Makassar, Rabu (2/9/2026). Dalam kajian tersebut, mubaligh Kota Makassar Dr. H. Ilham Muchtar mengupas tafsir Surah Al-Insan ayat 11 hingga 13, yang berbicara tentang kesabaran, perlindungan Allah SWT, serta balasan bagi orang-orang yang menjaga kebaikan dalam kehidupannya.
Menurut Ustaz Ilham Muchtar, Surah Al-Insan ayat 11 memberikan gambaran mengenai jaminan perlindungan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa berbuat baik.
Allah SWT berfirman:
“Fawaqāhumullāhu syarra dzālikal-yaumi wa laqqāhum naḍrataw wa surūrā.”
Ayat tersebut menggambarkan bagaimana Allah melindungi orang-orang yang berbuat baik dari kesusahan dan kengerian pada hari kemudian, sekaligus memberikan kebahagiaan dan keceriaan kepada mereka.
Ustaz Ilham menjelaskan, manusia mungkin tidak mampu mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, seorang Muslim memiliki pegangan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas tidak akan pernah sia-sia di hadapan Allah SWT.
“Jadi pada ayat yang sebelumnya dijelaskan bahwa mereka yang hidup sampai di hari kemudian akan mengalami suatu kejadian dan peristiwa yang luar biasa, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tapi dengan perbuatan-perbuatan baik yang mereka lakukan waktu hidup di dunia, maka kemudian Allah melindungi mereka dan tidak mengalami kejadian yang sangat mengerikan dan luar biasa itu. Bahkan mendapatkan kebahagiaan, keceriaan, dan kebahagiaan,” jelas Ustaz Ilham.
Tiga Bentuk Kesabaran dalam Menghadapi Kehidupan
Pembahasan kemudian berlanjut pada Surah Al-Insan ayat 12. Dalam ayat tersebut, kesabaran menjadi salah satu kunci penting bagi manusia dalam melewati berbagai ujian kehidupan.
Ustaz Ilham menerangkan bahwa sabar dalam Islam tidak sekadar menahan diri ketika menghadapi kesulitan. Kesabaran memiliki makna yang lebih luas dan mencakup tiga aspek utama.
Pertama, sabar menghadapi cobaan dan ketetapan Allah SWT dengan sikap ridha. Kedua, sabar dalam menjalankan perintah Allah SWT, termasuk ketika perintah tersebut terasa berat. Ketiga, sabar dalam menjauhi larangan Allah SWT, terutama ketika seseorang harus melawan hawa nafsunya sendiri.
“Dalam agama kita, sabar itu ada tiga aspek utama. Pertama, sabar dalam menghadapi cobaan dengan sikap ridha. Kedua, sabar dalam menghadapi perintah bagaimanapun beratnya. Ketiga, sabar dalam menghindari larangan-larangan Allah SWT karena maksiat terjadi akibat seseorang tidak mampu menahan hawa nafsunya,” jelasnya.
Pesan tersebut menjadi sangat relevan di tengah kehidupan masyarakat yang menghadapi berbagai tekanan. Persoalan ekonomi, pekerjaan, kebutuhan keluarga, serta ketidakpastian masa depan dapat membuat seseorang merasa seolah-olah harus menghadapi semuanya sendirian.
Padahal, kesabaran bukan berarti menyerah pada keadaan.
Sabar justru mengajarkan manusia untuk tetap berdiri, terus berusaha, dan tidak kehilangan keyakinan ketika hasil yang diharapkan belum kunjung datang.
Tawakal Bukan Berarti Berdiam Diri
Menjawab kekhawatiran masyarakat mengenai tekanan ekonomi dan fenomena future anxiety atau kecemasan terhadap masa depan, Ustaz Ilham mengingatkan pentingnya menyeimbangkan ikhtiar dengan tawakal.
Ia mengibaratkan manusia dengan seekor burung yang setiap pagi keluar dari sarangnya untuk mencari rezeki.
Burung tersebut tidak mengetahui secara pasti dari mana makanan akan datang. Namun, burung tetap terbang, bergerak dan berusaha. Ia tidak memilih untuk berdiam diri di dalam sangkar karena takut tidak mendapatkan makanan.
“Sekiranya kamu bertawakal kepada Allah sebagaimana seekor burung bertawakal, maka kamu akan diberi rezeki sebagaimana burung yang keluar pagi hari dalam keadaan perut kosong dan kembali sore hari dalam keadaan kenyang,” ungkapnya.
Menurutnya, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa tawakal tidak dapat dimaknai sebagai sikap pasrah tanpa usaha.
Burung saja tetap keluar mencari rezeki meski tidak mengetahui apa yang akan diperolehnya. Karena itu, manusia yang diberikan akal dan kemampuan seharusnya tidak membiarkan ketakutan terhadap masa depan menghentikan langkahnya.
“Burung tidak paham manajemen, tetapi ia terbang berusaha dan tidak diam di sangkarnya; maka manusia yang dibekali akal seharusnya tidak boleh putus asa dari rahmat Allah,” tambahnya.
Jangan Biarkan Kecemasan Mengalahkan Keyakinan
Dalam kehidupan sehari-hari, kecemasan terhadap masa depan memang tidak selalu dapat dihindari. Manusia memiliki kebutuhan, tanggung jawab, serta harapan yang ingin diwujudkan.
Namun, Ustaz Ilham mengingatkan bahwa rasa takut tidak boleh berkembang menjadi keputusasaan.
Ketika keadaan belum sesuai harapan, seseorang tetap perlu percaya bahwa perjalanan hidup memiliki hikmah yang terkadang belum dapat dilihat pada saat itu.
Rezeki mungkin belum datang hari ini. Kesulitan mungkin belum selesai. Doa mungkin belum mendapatkan jawaban seperti yang diharapkan.
Tetapi semua itu bukan alasan untuk berhenti berbuat baik dan kehilangan harapan kepada Allah SWT.
Justru dalam kondisi seperti itulah kesabaran dan tawakal diuji.
Ketenangan Hati Menjadi Ukuran Kesabaran
Ustaz Ilham juga menegaskan bahwa salah satu indikator penting dari kesabaran seseorang dapat terlihat dari ketenangan jiwanya ketika menghadapi kenyataan hidup.
Ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah. Sebaliknya, ketenangan adalah kemampuan untuk tetap menjalani kehidupan dengan keyakinan meskipun masalah datang silih berganti.
Karena itu, ia berpesan agar masyarakat menjaga istiqamah dalam ibadah, terutama melalui shalat dan interaksi dengan Al-Qur'an.
Ibadah, menurutnya, bukan hanya kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi juga menjadi benteng spiritual agar hati tidak mudah runtuh ketika menghadapi tekanan kehidupan.
Pada akhirnya, pesan Surah Al-Insan ayat 11 hingga 13 mengajarkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar sendirian dalam menghadapi perjalanan hidup.
Ketika dunia terasa penuh ketidakpastian, masih ada Allah SWT tempat manusia menggantungkan harapan.
Ketika usaha belum membuahkan hasil, masih ada kesempatan untuk terus berikhtiar.
Dan ketika hati mulai lelah menghadapi keadaan, kesabaran, doa, shalat, serta kedekatan dengan Al-Qur'an dapat menjadi tempat untuk kembali menemukan ketenangan.
Sebab, masa depan memang tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Namun, cara manusia menjalani hari ini dengan sabar, berbuat baik, terus berusaha dan bertawakal kepada Allah SWT adalah sesuatu yang dapat dipilih.(TIM)

.gif)