![]() |
| akil Wali Kota Cilegon, Provinsi Banten, Fajar Hadi Prabowo saat menghadiri Pelantikan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kota Cilegon, Provinsi Banten, Periode 2026-2027. |
CILEGON, KONTAK BANTEN — Wakil Wali Kota Cilegon, Banten, Fajar Hadi Prabowo, mengajak pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Cilegon untuk berperan aktif dalam pembangunan daerah melalui kritik, saran, dan gagasan yang konstruktif.
Menurut Fajar, mahasiswa memiliki peran strategis dalam mengawal jalannya pemerintahan, termasuk mengawasi kebijakan publik, mendorong transparansi anggaran, serta memberikan masukan demi meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Fajar saat menghadiri pelantikan Pengurus Cabang PMII Kota Cilegon periode 2026–2027 di Aula DPRD Kota Cilegon, Jumat (9/10/2026).
Ia menegaskan, pelantikan kepengurusan bukan sekadar seremoni organisasi, melainkan momentum bagi para kader untuk memperkuat tanggung jawab dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Tanggung jawab kalian adalah merawat dan membangun. Saya titip, tolong bantu kami membangun kota ini. Membangun bukan berarti kalian harus bekerja secara fisik, tetapi berikan sumbangsih melalui kritik dan sarannya,” ujar Fajar.
Fajar Minta Mahasiswa Berani Mengkritisi Kebijakan Pemerintah
Fajar mengatakan, sikap kritis mahasiswa dibutuhkan untuk memastikan setiap kebijakan pemerintah berjalan secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ia mendorong kader PMII agar tidak ragu meminta penjelasan apabila menemukan kebijakan yang dinilai belum jelas, baik mengenai dasar pertimbangan, pelaksanaan program, maupun penggunaan anggaran.
Namun, menurutnya, kritik harus disampaikan berdasarkan pemahaman dan informasi yang memadai agar dapat menjadi masukan yang bermanfaat bagi pemerintah.
“Jadilah kritis ketika ada kebijakan yang menurut kalian tidak transparan atau tidak jelas. Bertanyalah, apa pertimbangannya, bagaimana implementasinya dan berapa anggarannya. Jangan pernah takut,” katanya.
Fajar menilai, kritik mahasiswa merupakan bagian dari proses pengawasan publik yang dapat membantu pemerintah memperbaiki kinerja dan menjalankan amanah kepemimpinan secara lebih baik.
Ia juga mengaku bersyukur apabila terdapat mahasiswa maupun elemen masyarakat yang bersedia memberikan peringatan dan masukan terhadap jalannya pemerintahan.
“Saya bersyukur, ketika menjabat sebagai Wakil Wali Kota ada yang mengingatkan, ada yang melihat dan ada yang memberitahu bagaimana semestinya kami menjalankan pemerintahan dengan baik,” ungkapnya.
Karena itu, Fajar memastikan Pemerintah Kota Cilegon terbuka terhadap dialog dan aspirasi mahasiswa. Ia berharap hubungan pemerintah dengan organisasi mahasiswa dapat dibangun melalui komunikasi yang terbuka dan kritik yang berorientasi pada perbaikan.
“Jangan pernah sungkan. Pintu ruangan saya selalu terbuka untuk kalian. Tolong lakukan kritik dengan cara yang membangun, berikan kami pengingat dan motivasi serta jangan pernah berhenti memberikan masukan,” harapnya.
PB PMII Soroti Tiga Fondasi Gerakan Kader
Sementara itu, Ketua II Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), Muhamad Tasir, menjelaskan bahwa PMII memiliki tiga landasan pemikiran yang dapat menjadi pedoman kader dalam membangun gerakan dan mendorong perubahan.
Ketiga landasan tersebut adalah Nahdlatul Wathan yang berkaitan dengan bidang politik, Nahdlatut Tujjar dalam bidang ekonomi, serta Taswirul Afkar dalam bidang pendidikan.
Menurut Tasir, ketiga aspek tersebut perlu dipahami dan diperkuat agar kader PMII mampu melahirkan gagasan, mengembangkan kapasitas diri, serta berkontribusi dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat.
“PMII lahir dari tiga spirit yang harus terus dikuatkan untuk mencetak kader-kader hebat dan menjadi pelopor perubahan gerakan. Ketiga spirit tersebut adalah Nahdlatul Wathan yang berfokus pada politik, Nahdlatut Tujjar dalam bidang ekonomi, serta Taswirul Afkar dalam bidang pendidikan. Tiga spirit inilah yang harus dipahami dan dikuasai oleh kader-kader PMII hari ini,” ujarnya.
Selain memperkuat pemahaman terhadap landasan organisasi, Tasir juga mengajak kader PMII mengevaluasi pola kaderisasi agar mampu membangun konsistensi dan keberlanjutan gerakan.
Berdasarkan pengalamannya selama hampir 14 tahun di PMII, ia melihat semangat kader cenderung tinggi pada tahap awal, tetapi berpotensi melemah ketika memasuki tahapan kaderisasi berikutnya.
“Spirit kader biasanya meletup di awal, sudah masuk tahapan menengah loyo, tahapan tinggi sudah hilang tenaganya. Itu realitas dan fakta,” tuturnya.
Ia berharap evaluasi tersebut menjadi perhatian bersama agar proses kaderisasi tidak hanya menghasilkan semangat sesaat, tetapi juga membentuk kader yang memiliki kapasitas, konsistensi, dan komitmen jangka panjang.
Ketua Terpilih PMII Cilegon Dorong Kader Jadi Pelopor Perubahan
Pada kesempatan yang sama, Ketua Terpilih Pengurus Cabang PMII Kota Cilegon, Akhmad Fauzi Al Bantani, menegaskan bahwa PMII bukan sekadar organisasi tempat mahasiswa berkumpul, melainkan wadah kaderisasi untuk memperjuangkan kebenaran dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat serta bangsa.
Ia menyampaikan, sejak berdiri pada 1960, PMII terus berupaya melahirkan kader yang berperan sebagai penggerak, pemikir, dan pejuang di tengah perubahan zaman.
“Sejak berdiri pada 1960, PMII terus menjaga eksistensinya dengan melahirkan kader-kader penggerak, pemikir dan pejuang di tengah perkembangan zaman. PMII bukan sekadar organisasi kumpul-kumpulan saja, tetapi sebagai organisasi kaderisasi yang memperjuangkan mana yang hak dan yang batil,” tegas Fauzi.
Menurutnya, proses kaderisasi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperdalam ilmu pengetahuan, mengasah kemampuan berdiskusi, serta membentuk karakter yang kritis dan berintegritas.
Fauzi berharap PMII Kota Cilegon dapat terus melahirkan mahasiswa yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial dan mampu memberikan solusi bagi masyarakat.
Ia juga menargetkan kontribusi PMII dapat berkembang lebih luas, mulai dari lingkungan kampus dan masyarakat hingga tingkat nasional maupun internasional.
“Saya harap, PMII, khususnya di Kota Cilegon, dapat memberikan kontribusi positif, tidak hanya di kampus dan masyarakat, tetapi juga di tingkat nasional maupun luar negeri,” ungkapnya.
Melalui kepengurusan periode 2026–2027, PMII Kota Cilegon diharapkan mampu memperkuat kaderisasi, menjaga nilai-nilai organisasi, serta membangun gerakan mahasiswa yang progresif dan responsif terhadap persoalan masyarakat.
Ajakan Wakil Wali Kota Cilegon tersebut sekaligus menegaskan pentingnya peran mahasiswa sebagai mitra kritis pemerintah dalam mengawal transparansi, memperkuat akuntabilitas, dan mendorong pembangunan daerah yang berpihak pada kepentingan masyarakat.

.gif)