![]() |
| Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. |
JAKARTA-Pemberangkatan jemaah haji dari embarkasi Jakarta pada tahun ini menerapkan sistem fast track. Sistem ini diklaim bisa memangkas waktu di keimigrasian dari 4 jam menjadi 10 detik.
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin
mengatakan semula satu kloter harus melakukan perekaman 10 sidik jari
dan retina mata. Selain itu visa setiap jemaah juga harus dicek satu per
satu. Semua dilakukan saat jemaah tiba di Makkah atau Madinah. Sehingga
memakan waktu 4 hingga 5 jam.
“Nah, sekarang seluruhnya sudah
dilakukan di embarkasi, di asrama haji sehingga kalau kita lihat tadi
seluruh jemaah cukup hanya menempelkan satu, dua sidik jari untuk
verifikasi lalu paspornya dicap. Jadi tidak lebih dari 10 detik,” kata
Lukman di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Minggu
(7/72019).
Lukman mengatakan dengan begitu, jemaah
asal Indonesia tidak perlu lagi mengantre di keimigrasian di Arab Saudi.
Saat jemaah tiba di Arab Saudi, jemaah bisa langsung menuju bus menuju
ke hotel.
“Barang-barangnya sudah ada yang
mengurus. Jadi ini salah satu inovasi yang dilakukan pemerintah
Indonesia bahwa seluruh bagasi jemaah itu sudah langsung diantarkan ke
hotel masing-masing,” kata Lukman.
Namun, menurut Lukman sistem tersebut
baru diterapkan untuk embarkasi Jakarta. Sementara embarkasi lainnya
masih menunggu evaluasi dari yang berjalan tahun ini. Jika tidak ada
halangan maka diharapkan tahun depan bisa diterapkan di embarkasi
lainnya.
“Kalau tahun ini kita lihat tidak ada
masalah berarti, lalu kemudian secara teknis bisa direplikasi, bisa
dilakukan di tempat lain tentu kita berharap keimigrasian Saudi Arabia
bisa menambah personelnya,” kata Lukman.
Indonesia tahun ini memberangkatkan
231.000 jemaah haji, termasuk 17.000 jemaah haji khusus. Jemaah haji
tersebut terbagi menjadi 529 kloter dalam dua gelombang penerbangan.
Gelombang pertama akan diterbangkan ke
Madinah 6-19 Juli 2019, dan gelombang kedua akan diberangkatkan ke
Jeddah 20 Juli-5 Agustus 2019.







0 comments:
Post a Comment