< >

Notification

×

Iklan

Iklan

🌤️ Info Cuaca & Gempa
Cuaca Banten
Sumber: BMKG
Gempa Terkini

Tag Terpopuler

Suminah, Korban Kontradiksi Pembangunan

Jumat, 06 Maret 2020 | Jumat, Maret 06, 2020 WIB | Last Updated 2020-03-06T12:55:14Z

Sebagai kota metropolitan kedua terbesar setelah Jakarta, Surabaya tidak lepas dari masalah kemiski­nan. Salah satu contoh warga miskin “ekstrem” adalah Suminah. Perempuan, 45 ta­hun, yang tinggal di kawasan Kalisari, Tempurejo, Surabaya, itu mengatakan meski telah bertahun-tahun menerima beragam paket bantuan, ia dan keluarganya tetap miskin.
Untuk bertahan hidup, sehari-hari Suminah bekerja sebagai pemulung di sekitar tempat tinggalnya, dan sang suami, Busar, 50 tahun, men­jadi tukang sampah di sebuah depo dengan gaji per bulan kurang dari dua juta rupiah.
“Sama saja sampai sekarang (miskin). Kalau penghasilan saya sendiri sekitar 400 ribu rupiah dapat dari setor (jual) barang bekas dua minggu sekali ke penampungan, tentu tidak cukup. Apalagi anak saya sudah kelas tiga SMA, perlu uang jajan,” ujarnya di Sura­baya, Kamis (5/3).
Dia menjelaskan, ia dan suami yang buta huruf tidak memiliki kesempatan lain sehingga terpaksa mengais rezeki dari sampah. “Tidak bisa menulis, bisa apa saya. Kalau tidak ada sampah (ba­rang bekas) saya makan apa, jadi harus ngirit-ngirit supaya cukup,” ujarnya.
Suminah bersyukur, putranya semata wayang, Muhammad Arifin, mema­hami kondisi perekonomian keluarga sehingga tidak ban­yak menuntut. “Kalau ditanya, dia bilang tidak ingin kuliah, kasihan Ibu, setelah lulus mau bantu dengan melamar pekerjaan apa saja. Inginnya siapa tahu diterima jadi petu­gas POM bensin atau kasir di minimart,” tuturnya.
Tetap Ada
Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sura­baya, pada tahun 2018, garis kemiskinan Kota Surabaya be­rada pada level 530.178 rupiah per kapita per bulan atau me­ningkat hampir 56 ribu rupiah dibanding garis kemiskinan pada tahun 2017. Walaupun terjadi kenaikan garis kemiski­nan, jumlah penduduk miskin pada tahun 2018 di Kota Sura­baya justru berkurang hampir 14 ribu orang lebih menjadi hampir mencapai 141 ribu orang (4,88 persen) dibanding kondisi tahun 2017 yang ham­pir mencapai 155 ribu orang (5,39 persen).
Menurut Guru Besar Sosiologi Kemiskinan dari Universitas Airlngga, Bagong Suyanto, kemiskinan tetap ada karena kegiatan pembangunan dan proses modernisasi yang semula dirancang untuk mengentas masyarakat miskin, ternyata dalam praktik tidaklah semulus seperti yang direncanakan. Bahkan, ada kesan kuat jika kegiatan pembangunan dan berbagai program yang dikucurkan ke masyarakat, ternyata malah melahirkan kontradiksi dan proses marginalisasi.
Salah satu faktor utama penyebab kegagalan berbagai program yang dirancang pemerintah adalah adanya kekeliruan dan kesalahpaha­man para perencana pemban­gunan tentang kemiskinan. 
Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update