Makkah, Arab Saudi – Kawasan Masjidil Haram mulai dipadati jemaah dari berbagai negara menjelang puncak musim haji 2026. Peningkatan jumlah jemaah ini diiringi dengan pengetatan pengawasan oleh otoritas Arab Saudi, termasuk kewajiban membawa Kartu Nusuk sebagai identitas resmi selama berada di Tanah Suci.
Berdasarkan pantauan pada Kamis (23/4/2026) waktu setempat, ribuan jemaah dari Bangladesh, India, Lebanon, serta negara-negara Arab telah memenuhi area Masjidil Haram untuk melaksanakan rangkaian ibadah umrah. Aktivitas ibadah seperti ihram, tawaf, sa’i, hingga tahallul berlangsung sejak pagi hingga malam hari.
Meski kepadatan terus meningkat, suasana ibadah tetap berjalan dengan tertib dan khusyuk. Jemaah dari berbagai usia terlihat berbaur, termasuk lansia dan keluarga yang membawa anak-anak. Bahkan, sebagian jemaah tampak menggendong anak mereka saat mendekati area Hajar Aswad.
Setelah menyelesaikan ibadah, sejumlah jemaah memilih beristirahat sambil menikmati kemegahan Masjidil Haram. Sebagian lainnya memanfaatkan momen untuk berfoto dengan latar belakang Ka’bah.
Pengawasan Diperketat, Kartu Nusuk Jadi Syarat Utama
Di tengah tingginya mobilitas jemaah, otoritas Arab Saudi memperketat sistem pengawasan di sejumlah titik strategis, seperti terminal Jabal Alka’bah dan akses utama menuju Masjidil Haram. Pemeriksaan dilakukan secara acak, di mana petugas meminta jemaah menunjukkan dokumen resmi, termasuk visa dan Kartu Nusuk.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah, Ihsan Faisal, mengingatkan seluruh jemaah Indonesia agar selalu membawa dokumen identitas saat beraktivitas.
“Kartu Nusuk harus selalu dibawa karena menjadi syarat utama untuk mengakses area ibadah seperti Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi,” ujarnya.
Kartu Nusuk merupakan identitas resmi jemaah haji yang memuat informasi penting, seperti nama, foto, tanggal lahir, serta lokasi penginapan. Selain itu, kartu ini juga berfungsi sebagai pembeda antara jemaah resmi dan nonresmi.
Untuk musim haji 2026, distribusi Kartu Nusuk telah dilakukan sejak di embarkasi sebelum keberangkatan. Aktivasi kartu dilakukan oleh pihak syarikah yang bekerja sama dengan pemerintah Indonesia, sehingga jemaah dapat langsung menggunakannya setibanya di Arab Saudi.
Akses Masuk Makkah Dijaga Ketat
Selain pemeriksaan di sekitar Masjidil Haram, akses masuk ke Kota Makkah juga diperketat. Setiap jemaah diwajibkan menunjukkan visa dan Kartu Nusuk. Sementara itu, warga lokal atau mukimin harus memiliki tasreh (izin resmi) untuk memasuki wilayah tersebut.
Kebijakan ini diterapkan guna memastikan keamanan dan ketertiban selama puncak musim haji berlangsung.
Fasilitas Jemaah Indonesia Disiapkan
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji telah menyiapkan berbagai fasilitas untuk mendukung kenyamanan jemaah. Sebanyak 177 hotel disediakan untuk jemaah haji reguler di Makkah, ditambah lima hotel cadangan yang tersebar di wilayah Syisyah, Raudhah, Misfalah, Jarwal, dan Aziziyah.
Hotel cadangan ditempatkan secara strategis, terutama di wilayah Syisyah yang dekat dengan area jamarat, guna mendukung skema pergerakan jemaah saat puncak haji.
Seluruh akomodasi dilengkapi fasilitas penunjang, seperti mesin cuci dan area jemuran, untuk memenuhi kebutuhan jemaah selama menjalankan ibadah.
Pergerakan Jemaah Masih Terfokus di Madinah
Pada tahap awal operasional haji 2026, pergerakan jemaah Indonesia masih terpusat di Madinah. Hingga 23 April 2026, tercatat sebanyak 40 kelompok terbang (kloter) dengan total 15.349 jemaah telah diberangkatkan ke Arab Saudi.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 9.884 jemaah telah tiba di Madinah untuk menjalani ibadah sunnah arbain sebelum diberangkatkan ke Makkah secara bertahap.
Layanan Kesehatan Ditingkatkan
Layanan kesehatan bagi jemaah juga terus dioptimalkan. Data sementara mencatat 93 jemaah menjalani rawat jalan, dua orang dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia, dan satu jemaah dirawat di rumah sakit Arab Saudi.
Pemerintah juga menyampaikan duka cita atas wafatnya satu jemaah asal Indonesia akibat serangan jantung. Seluruh hak jemaah dipastikan tetap terpenuhi, termasuk pelaksanaan badal haji.
Cuaca Panas, Jemaah Diimbau Jaga Kondisi
Dengan suhu di Madinah mencapai sekitar 34 derajat Celsius, jemaah diimbau untuk menjaga kondisi fisik dengan memperbanyak konsumsi air serta mengurangi aktivitas yang tidak mendesak, terutama pada siang hari.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menghadirkan layanan haji yang ramah bagi seluruh jemaah, termasuk lansia, penyandang disabilitas, dan perempuan, agar ibadah dapat berjalan dengan aman, nyaman, dan lancar hingga puncak haji 2026.

.gif)