Idul Adha 1447 H bukan sekadar tentang gema takbir yang berkumandang di masjid-masjid, bukan pula hanya tentang hewan kurban yang disembelih lalu dibagikan kepada masyarakat. Lebih dari itu, Idul Adha adalah pelajaran besar tentang keikhlasan, pengorbanan, dan cinta seorang hamba kepada Tuhannya.
Di balik setiap tetesan darah hewan kurban, ada pesan mendalam yang Allah SWT ajarkan kepada manusia: bahwa hidup bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang rela memberi.
Hari raya ini mengingatkan umat Islam pada kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS. Sebuah kisah yang tidak pernah usang dimakan zaman. Ketika Nabi Ibrahim menerima perintah untuk mengorbankan anak yang sangat dicintainya, beliau tidak membantah. Begitu pula Nabi Ismail AS, yang dengan penuh keimanan menerima perintah Allah SWT dengan hati yang lapang.
Itulah puncak ketakwaan. Ketika cinta kepada Allah berada di atas segala-galanya.
Allah SWT berfirman:
“Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
(QS. As-Saffat: 102)
Kisah itu bukan sekadar sejarah. Ia adalah cermin kehidupan manusia hari ini.
Betapa sering manusia mengaku cinta kepada Allah, namun masih berat meninggalkan ego, kesombongan, amarah, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia. Padahal sejatinya, kurban terbesar bukan hanya menyembelih hewan, tetapi menyembelih sifat buruk yang selama ini tumbuh dalam diri.
Idul Adha mengajarkan bahwa keikhlasan terkadang terasa menyakitkan. Sebab memberi tidak selalu mudah. Berkorban juga tidak selalu nyaman. Namun justru di situlah letak kemuliaannya.
Bagi seorang muslim yang berkurban atau disebut Shohibul Qurban, Islam mengajarkan banyak sunnah dan adab yang sarat makna spiritual. Salah satunya adalah tidak memotong rambut dan kuku sejak awal Dzulhijjah hingga hewan kurban disembelih.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila telah masuk sepuluh hari pertama Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian ingin berkurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sedikit pun hingga hewan kurbannya disembelih.”
(HR. Muslim)
Sunnah ini bukan sekadar aturan lahiriah, tetapi latihan kesabaran dan bentuk penghormatan terhadap syiar Allah SWT. Seolah Allah ingin mengajarkan bahwa ibadah kurban harus dipersiapkan dengan hati, bukan hanya dengan materi.
Di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, seorang muslim juga dianjurkan memperbanyak amal saleh. Rasulullah ﷺ bahkan menyebut hari-hari tersebut sebagai waktu terbaik untuk beribadah.
Mulai dari puasa sunnah, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, hingga membantu sesama menjadi amalan yang sangat dicintai Allah SWT.
Salah satu amalan paling istimewa adalah Puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
(HR. Muslim)
Betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Di tengah kehidupan yang penuh dosa dan kekurangan, Allah masih membuka pintu ampunan seluas-luasnya.
Namun Idul Adha juga berbicara tentang kepedulian sosial. Tentang bagaimana daging kurban dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan mereka yang jarang menikmati makanan layak.
Di momen itulah, senyum sederhana dari orang-orang kecil menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada apa yang kita simpan, tetapi pada apa yang mampu kita berikan.
Banyak orang mungkin mampu membeli hewan kurban. Tetapi belum tentu mampu berkurban dengan hati yang ikhlas.
Karena sesungguhnya, Allah tidak melihat besar kecilnya hewan yang disembelih. Allah melihat ketulusan hati orang yang memberi.
Sebagaimana firman Allah SWT:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, Idul Adha hadir mengingatkan manusia untuk kembali kepada nilai-nilai kemanusiaan dan ketakwaan. Tentang pentingnya berbagi, menolong sesama, serta belajar ikhlas dalam setiap keadaan.
Mungkin tidak semua orang mampu membeli sapi atau kambing untuk berkurban. Tetapi setiap orang selalu punya kesempatan untuk berkurban dalam bentuk lain: mengorbankan ego demi keluarga, mengorbankan waktu demi membantu sesama, atau mengorbankan kepentingan pribadi demi kebaikan orang lain.
Sebab pada akhirnya, Idul Adha bukan hanya tentang hewan yang disembelih. Tetapi tentang hati yang belajar tunduk kepada Allah SWT.
Dan di situlah makna kebangkitan iman yang sesungguhnya.
OLEH USTD AL MUKMIN MUBAROK

.gif)