JAKARTA KONTAK BANTEN – Indonesia Corruption Watch (ICW) menggelar diskusi Film Ghost In The Cell sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Resonansi Film Day. Acara ini menjadi agenda kedua setelah pemutaran film dan diskusi Pesta Babi, dengan menghadirkan sutradara Joko Anwar, para pemeran film seperti Arswendy Bening Swara, Kiki Narendra, dan Morgan Oey, serta Koordinator ICW Almas Sjafrina sebagai narasumber.
Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut membahas berbagai isu yang diangkat dalam film, mulai dari praktik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan di lembaga pemasyarakatan, hingga korupsi sumber daya alam yang berdampak luas terhadap lingkungan dan masyarakat.
Joko Anwar Angkat Keresahan Soal Ketidakadilan dan Korupsi
Diskusi dipandu oleh anggota Divisi Komunikasi Publik ICW, Umanitya, yang membuka pembahasan dengan menggali latar belakang lahirnya Film Ghost In The Cell.
Joko Anwar mengungkapkan bahwa ide film tersebut berangkat dari keresahannya saat membaca berbagai pemberitaan mengenai koruptor kelas kakap yang menjalani hukuman penjara namun tetap mendapatkan perlakuan istimewa.
Menurutnya, penjara yang seharusnya menjadi tempat penegakan keadilan justru sering kali memperlihatkan bentuk ketidakadilan baru.
“Saya teringat pada tahun 2018 ketika banyak berita tentang koruptor yang dipenjara tetapi tetap mendapatkan fasilitas dan perlakuan khusus. Hal itu menjadi salah satu keresahan yang kemudian melahirkan film ini,” ungkap Joko Anwar.
Selain persoalan di lembaga pemasyarakatan, Joko juga menyoroti korupsi sumber daya alam sebagai salah satu bentuk korupsi terbesar yang terjadi di Indonesia. Menurutnya, dampak dari korupsi tersebut tidak hanya merugikan negara secara finansial, tetapi juga menyebabkan kerusakan lingkungan dalam jangka panjang.
Ghost In The Cell Gambarkan Korupsi dan Kekerasan di Balik Jeruji
Film Ghost In The Cell mengisahkan kehidupan para narapidana yang menjalani masa hukuman di dalam lembaga pemasyarakatan yang sarat dengan praktik koruptif, kekerasan, dan penyalahgunaan wewenang.
Ketegangan cerita dimulai ketika seorang narapidana baru memasuki lapas. Kehadirannya kemudian diikuti serangkaian kematian misterius yang terjadi satu per satu dengan cara yang mengerikan.
Melalui cerita tersebut, film ini menggambarkan bagaimana sistem yang seharusnya menegakkan keadilan justru dapat menjadi ruang lahirnya berbagai bentuk ketidakadilan akibat korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
ICW: Korupsi Sumber Daya Alam Memiliki Daya Rusak Lintas Generasi
Koordinator ICW, Almas Sjafrina, menilai Ghost In The Cell berhasil mengemas isu korupsi menjadi lebih dekat dengan masyarakat melalui medium film yang kreatif dan mudah dipahami.
Menurutnya, selama ini isu korupsi sering dianggap sebagai tema yang berat dan sulit dibahas oleh publik. Namun film tersebut mampu menghadirkan perspektif yang lebih menarik sehingga memicu diskusi yang lebih luas.
“Film ini berhasil mematahkan anggapan bahwa korupsi adalah isu yang berat. Ghost In The Cell membuat masyarakat tertarik untuk menonton sekaligus mendiskusikan berbagai pesan yang diangkat,” kata Almas.
Ia juga menyoroti korupsi sumber daya alam sebagai salah satu bentuk korupsi yang memiliki dampak paling besar. Kerusakan lingkungan yang ditimbulkan tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga berdampak pada generasi mendatang.
Menurut Almas, masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah eksploitasi sumber daya alam sering kali menjadi kelompok yang paling rentan menerima dampak kerusakan lingkungan.
“Korupsi sumber daya alam mengajarkan bahwa korupsi bukan hanya soal uang negara yang hilang. Dampaknya bisa dirasakan lintas generasi karena yang rusak adalah lingkungan hidup,” ujarnya.
Arswendy Ajak Anak Muda Berani Speak Up
Aktor senior Arswendy Bening Swara mengaku memiliki keresahan yang sama dengan isu yang diangkat dalam film tersebut, bahkan jauh sebelum proses produksi berlangsung.
Menurutnya, berbagai persoalan seperti korupsi, kesewenang-wenangan kekuasaan, hingga pembungkaman terhadap aktivis merupakan realitas yang sering ditemui dalam kehidupan nyata.
Karena itu, ia tidak mengalami kesulitan mendalami karakter yang diperankannya dalam film tersebut.
“Banyak figur dalam film ini yang sebenarnya bisa kita temukan dalam kehidupan nyata. Karena itu saya berharap anak muda berani berbicara dan menyampaikan keresahan mereka terhadap berbagai persoalan yang terjadi di negara ini, termasuk korupsi,” kata Arswendy.
Film Bukan Hanya Hiburan, Tapi Sarana Membuka Pikiran
Dalam sesi tanya jawab, peserta diskusi menanyakan kepada Joko Anwar mengenai kemungkinan kehilangan penggemar ketika menghadirkan film yang lebih menekankan pesan sosial dibanding hiburan semata.
Menanggapi hal tersebut, Joko menegaskan bahwa film tidak seharusnya hanya dibuat untuk mengejar keuntungan atau mempertahankan basis penggemar.
Menurutnya, film juga memiliki fungsi untuk membuka cara pandang masyarakat terhadap berbagai persoalan melalui cerita dan karakter yang dihadirkan.
“Film harus memiliki urgensi. Ada keresahan kolektif yang ingin disampaikan kepada penonton. Lewat karakter dan cerita, film bisa membantu membuka perspektif baru terhadap suatu masalah,” ujarnya.
Lelang Merchandise Meriahkan Acara
Menjelang akhir acara, suasana diskusi semakin meriah ketika panitia menggelar lelang merchandise berupa tote bag hasil kolaborasi Uncorrupted Store dengan seniman @thy_atelier bertema Ghost In The Cell.
Merchandise tersebut menjadi istimewa karena ditandatangani langsung oleh para aktor dan sutradara yang hadir dalam acara tersebut.
Dari proses lelang tersebut, ICW menetapkan tiga pemenang yang berhak membeli merchandise sesuai nominal penawaran tertinggi yang diajukan.
Melalui diskusi Film Ghost In The Cell, ICW berharap masyarakat semakin memahami berbagai bentuk korupsi, khususnya korupsi sumber daya alam yang selama ini menimbulkan kerugian besar bagi negara, lingkungan, dan masyarakat.
Selain menjadi ruang apresiasi terhadap karya seni, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong kesadaran publik untuk lebih peduli terhadap isu pemberantasan korupsi dan perlindungan sumber daya alam Indonesia.

.gif)