PANDEGLANG KONTAK BANTEN– Kondisi longsoran tanah tebing yang mengancam kawasan Hunian Tetap (Huntap) korban tsunami Selat Sunda di Kampung Palimping RT 02 RW 03, Desa Tunggal Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, semakin memprihatinkan. Boedak Saung Rescue (BSR) mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang segera mengambil langkah cepat sebelum terjadi korban jiwa.
Pembina BSR, Ade Mulyana, mengatakan longsoran yang terjadi sejak Januari 2026 hingga kini belum mendapatkan penanganan serius dari pihak terkait. Padahal, kondisi tanah yang terus tergerus hujan membuat ancaman terhadap permukiman warga semakin nyata.
"Itu sudah terjadi sejak Januari 2026 lalu, sampai sekarang belum ada langkah antisipatif maupun tindakan mitigasi. Padahal curah hujan masih tinggi dan kondisi semakin mengkhawatirkan," kata Ade Mulyana, Rabu (24/6/2026).
Menurutnya, perangkat desa, pemerintah kecamatan hingga pemerintah kabupaten harus segera berkoordinasi untuk mengambil langkah penanganan yang tepat. Ia menegaskan jangan sampai pemerintah menunggu jatuhnya korban baru kemudian bergerak melakukan tindakan.
"Kami tidak ingin harus menunggu ada korban terlebih dahulu baru ada penanganan. Seharusnya langkah antisipasi dilakukan sebelum terjadi bencana yang lebih besar," tegasnya.
Ade mengungkapkan, berdasarkan laporan relawan BSR di Kecamatan Sumur, longsoran tanah terus mengalami perluasan dan semakin mendekati kawasan pemukiman warga.
"Laporan dari anggota kami di lapangan menunjukkan kikisan longsoran tanah tebing itu semakin mendekat ke rumah-rumah warga. Ini harus segera ditangani," ujarnya.
Warga Huntap Hidup dalam Kecemasan
Sedikitnya terdapat 10 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 40 jiwa yang tinggal di kawasan Huntap tersebut. Mereka kini hidup dalam rasa waswas karena longsoran berada sangat dekat dengan rumah yang mereka tempati.
Salah seorang warga, Alus (35), mengaku warga tidak pernah merasa tenang sejak longsor terjadi beberapa bulan lalu.
"Mau tidur tenang bagaimana pak, takut ada apa-apa kalau malam. Sejak longsor di belakang pemukiman ini, warga selalu gelisah dan berharap segera ada tindak lanjut dari pemerintah," katanya.
Menurut Alus, jarak longsoran dengan rumah warga kini hanya sekitar 10 meter. Bahkan di beberapa titik hanya tersisa sekitar lima meter dari bangunan rumah.
Kondisi tersebut membuat warga khawatir sewaktu-waktu longsor kembali terjadi, terutama saat hujan deras mengguyur wilayah Kecamatan Sumur.
Kekhawatiran serupa disampaikan Adnan, warga lainnya. Ia mengaku sulit meninggalkan rumah untuk bekerja karena merasa cemas terhadap keselamatan keluarganya.
"Biasanya pagi kami berangkat kerja, tetapi sekarang selalu khawatir meninggalkan keluarga di rumah. Kami berharap ada tindakan cepat dari pemerintah agar warga bisa kembali tenang," ujarnya.
Longsoran Setinggi 15 Meter
Berdasarkan informasi yang dihimpun, longsoran tersebut memiliki tinggi sekitar 15 meter dengan lebar mencapai 50 meter. Peristiwa itu diduga dipicu curah hujan tinggi yang terus terjadi selama beberapa bulan terakhir.
Meski kondisi terus memburuk, warga mengaku hingga saat ini belum melihat adanya langkah konkret penanganan dari pihak terkait.
Padahal, kawasan yang terancam merupakan Hunian Tetap bagi para penyintas tsunami Selat Sunda tahun 2018 yang dibangun pemerintah sebagai tempat tinggal yang lebih aman pascabencana.
BSR Lakukan Monitoring dan Assessment
Koordinator BSR Kecamatan Sumur, Agus Aspuri, bersama Rusyana telah melakukan assessment dan monitoring langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi terkini di lapangan.
Dari hasil pemantauan tersebut, BSR menyimpulkan bahwa longsoran memang sangat membahayakan keselamatan warga dan membutuhkan penanganan segera.
"Hasil monitoring kami menunjukkan kondisi ini sangat mengkhawatirkan dan berpotensi membahayakan warga. Perlu ada reaksi cepat dan langkah penanganan sebelum terjadi korban," kata Agus.
Ia menegaskan hasil assessment tersebut akan segera dilaporkan kepada pimpinan BSR dan diteruskan kepada pemerintah desa, kecamatan hingga Pemkab Pandeglang untuk ditindaklanjuti.
"Kami sangat tidak ingin para korban tsunami Selat Sunda 2018 yang sudah pernah mengalami bencana besar, kembali menjadi korban akibat bencana lainnya," tegasnya.
DPUPR Pandeglang Turunkan Tim
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Pandeglang, Roni, menyatakan pihaknya telah menerima laporan terkait longsoran tersebut.
Menurutnya, DPUPR telah menugaskan Bidang Sumber Daya Air (SDA) dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Irigasi untuk melakukan pengecekan langsung ke lokasi.
"Saya sudah tugaskan Bidang SDA dan UPT Irigasi untuk cek ke lokasi," singkat Roni.
Warga kini berharap hasil pengecekan tersebut segera ditindaklanjuti dengan langkah nyata agar ancaman longsor tidak semakin meluas dan membahayakan puluhan penghuni Huntap di Desa Tunggal Jaya, Kecamatan Sumur.

.gif)