YOGYAKARTA, KONTAK BANTEN – Perkembangan teknologi digital dan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat menjadi tantangan besar bagi industri media dan dunia jurnalistik di Indonesia. Di tengah derasnya arus informasi di media sosial serta perubahan algoritma platform digital, insan pers dituntut mampu beradaptasi tanpa mengorbankan independensi dan kualitas jurnalisme.
Hal tersebut mengemuka dalam Gala Dinner Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 Forum Pimpinan Redaksi Multimedia Indonesia (FPRMI) yang digelar di Gedung DPD RI Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (17/7/2026) malam.
Kegiatan tersebut dihadiri Anggota DPD RI, Dewan Pers, jajaran Pengurus Pusat dan Pengurus Daerah FPRMI, pimpinan media dari berbagai daerah, serta sejumlah tokoh pers nasional.
Media Hadapi Perubahan Besar di Era Digital
Anggota DPD RI asal Daerah Istimewa Yogyakarta, Syauqi Soeratno, mengatakan lanskap media saat ini telah berubah sangat drastis dibandingkan era media konvensional.
Jika dahulu masyarakat memperoleh informasi melalui televisi, radio, dan surat kabar yang memiliki proses verifikasi berlapis, kini hampir setiap orang dapat menjadi penyebar informasi melalui media sosial.
Menurutnya, kondisi tersebut membawa dampak positif berupa keterbukaan informasi, namun juga memunculkan tantangan baru berupa maraknya penyebaran informasi yang tidak melalui proses verifikasi jurnalistik.
"Arus informasi yang begitu deras tanpa penyaringan melahirkan fenomena baru di masyarakat. Banyak pembaca yang sering kali langsung membuat penilaian atau kesimpulan hanya dengan membaca judul berita tanpa mendalami isinya," ujar Syauqi.
Tantangan Algoritma dan Perhatian Enam Detik
Dalam forum tersebut juga dibahas fenomena "tantangan enam detik", yakni semakin pendeknya rentang perhatian (attention span) masyarakat akibat algoritma media sosial.
Saat ini, platform digital dirancang untuk merekomendasikan konten berdasarkan perilaku pengguna. Apabila seseorang berhenti menonton atau membaca sebuah konten selama sekitar enam detik, sistem algoritma akan menganggap konten tersebut menarik dan terus menampilkan materi serupa.
Kondisi tersebut membuat produsen informasi, termasuk media massa, harus bersaing mendapatkan perhatian publik dalam waktu yang sangat singkat.
Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi media arus utama karena di satu sisi harus mampu menarik perhatian pembaca, namun di sisi lain tetap menyajikan informasi yang akurat, lengkap, dan sesuai kaidah jurnalistik.
Pers Harus Tetap Independen dan Berkualitas
Anggota Dewan Pers Yogi Hadi Ismanto bersama Ketua Umum Pengurus Pusat FPRMI Bernadus Wilson Lumi menegaskan bahwa disrupsi digital tidak boleh menghilangkan esensi pers sebagai penyampai informasi yang objektif dan terpercaya.
Menurut mereka, media nasional tidak boleh hanya berorientasi mengejar jumlah klik (traffic), tetapi harus tetap menjaga kualitas pemberitaan melalui informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Jurnalisme yang sehat dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga demokrasi sekaligus membangun kepercayaan publik terhadap media.
Media Berperan Menjelaskan Isu Global
Forum tersebut juga menyoroti pentingnya peran media dalam memberikan pemahaman yang utuh terhadap berbagai isu internasional.
Di tengah meningkatnya dinamika geopolitik dunia, masyarakat membutuhkan informasi yang komprehensif mengenai berbagai peristiwa global yang berdampak langsung terhadap Indonesia, seperti konflik internasional, gangguan jalur perdagangan, hingga kondisi ekonomi dunia.
Karena itu, media nasional diharapkan mampu menyajikan pemberitaan yang mendalam, objektif, serta memberikan konteks yang jelas kepada masyarakat.
FPRMI Dorong Pers Adaptif di Era Digital
Momentum HUT ke-3 FPRMI menjadi ajang refleksi bagi insan pers untuk memperkuat profesionalisme sekaligus meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi informasi.
Melalui kolaborasi antarpimpinan media, FPRMI berharap pers Indonesia tetap mampu menjalankan fungsi kontrol sosial, menjaga independensi, serta menjadi sumber informasi yang kredibel di tengah derasnya arus informasi digital.
Selain itu, media diharapkan terus memperkuat posisi sebagai pilar demokrasi dengan menghadirkan jurnalisme yang berkualitas, mengedepankan kepentingan publik, serta mampu menyuarakan aspirasi masyarakat dari berbagai daerah hingga tingkat nasional dan internasional.

.gif)