PANDEGLANG, KONTAK BANTEN – Momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Pelajaran 2026/2027 dimanfaatkan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Pandeglang bersama Perkumpulan Boedak Saung untuk menanamkan budaya sadar bencana kepada para pelajar. Melalui program edukasi mitigasi bencana, ratusan siswa baru dari berbagai jenjang pendidikan dibekali pengetahuan dasar mengenai potensi bencana dan langkah penyelamatan diri.
Kegiatan kali ini digelar di SMA Negeri 3 Pandeglang, Jumat (17/7/2026), dengan melibatkan puluhan peserta didik baru. Para siswa tidak hanya mendapatkan materi mengenai berbagai jenis bencana yang berpotensi terjadi di Kabupaten Pandeglang, tetapi juga mengikuti simulasi penanganan bencana sebagai bagian dari peningkatan kesiapsiagaan.
Ketua Tagana Kabupaten Pandeglang, Rahmat Baihaki, mengatakan edukasi tersebut merupakan langkah nyata untuk membangun kesadaran sejak dini agar para pelajar mampu menghadapi situasi darurat dengan tepat.
Menurutnya, Kabupaten Pandeglang merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi berbagai jenis bencana alam sehingga pemahaman mengenai mitigasi perlu diberikan sejak usia sekolah.
"Dalam kegiatan ini, para siswa dikenalkan dengan berbagai potensi bencana yang kerap terjadi di Kabupaten Pandeglang, seperti gempa bumi, tsunami, angin kencang, tanah longsor, kebakaran, maupun banjir. Selain pengenalan, kami juga memberikan simulasi penanganan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi," ujar Rahmat Baihaki.
Bangun Budaya Sadar Bencana di Lingkungan Sekolah
Rahmat menjelaskan, tujuan utama kegiatan tersebut adalah meningkatkan pengetahuan, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan siswa terhadap berbagai ancaman bencana.
Dengan memahami risiko dan prosedur penyelamatan diri, para pelajar diharapkan tidak mudah panik ketika menghadapi kondisi darurat serta mampu mengambil langkah yang tepat untuk melindungi diri maupun membantu orang lain.
"Kegiatan edukasi kebencanaan pada saat MPLS ini menjadi langkah awal membangun budaya sadar bencana di lingkungan sekolah. Harapannya siswa lebih siap, tidak panik, dan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika menghadapi bencana," tegasnya.
Kolaborasi Berkelanjutan di Berbagai Sekolah
Ketua Bidang Sosial dan Budaya Perkumpulan Boedak Saung, Ade Mulyana, mengatakan pihaknya akan terus bersinergi dengan Tagana Kabupaten Pandeglang untuk melaksanakan edukasi kebencanaan secara berkelanjutan di berbagai sekolah, mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA/SMK.
Menurutnya, pembentukan karakter generasi tangguh bencana harus dimulai sejak usia dini melalui pendidikan yang berkesinambungan.
"Kami terus bersinergi dengan Tagana untuk memberikan edukasi kebencanaan kepada pelajar di tingkat SD, SMP hingga SMA/SMK. Edukasi sejak dini sangat penting agar terbentuk generasi yang tangguh menghadapi bencana," katanya.
Ia menambahkan, program tersebut mendapat dukungan dari Dinas Sosial Provinsi Banten dan Dinas Sosial Kabupaten Pandeglang sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas masyarakat, khususnya generasi muda, dalam bidang mitigasi bencana.
Sekolah Berharap Siswa Menjadi Agen Kesiapsiagaan
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 3 Pandeglang, Hj. Aan Qanaah, menyampaikan apresiasi kepada Tagana dan Perkumpulan Boedak Saung atas pelaksanaan edukasi kebencanaan kepada para peserta didik baru.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu menambah wawasan siswa mengenai jenis-jenis bencana, langkah pencegahan, mitigasi, hingga teknik penyelamatan diri sehingga mereka dapat menjadi agen kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Tagana dan Boedak Saung atas pembelajaran mengenai kebencanaan dan mitigasi bencana. Semoga ilmu yang diberikan menjadi bekal bagi para siswa untuk selalu siap siaga menghadapi berbagai kemungkinan bencana di masa mendatang," ujarnya.
Melalui kegiatan edukasi kebencanaan yang dilaksanakan selama MPLS ini, Tagana Kabupaten Pandeglang berharap budaya sadar bencana dapat semakin tertanam di kalangan pelajar. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga kemampuan menghadapi situasi darurat sehingga dapat meminimalkan risiko korban saat terjadi bencana

.gif)