JAKARTA KONTAK BANTEN – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dinamika bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat.
Sejumlah nama mulai muncul dan menjadi perbincangan di kalangan Nahdliyin, baik dalam forum internal organisasi maupun di media sosial.
Sedikitnya 15 tokoh sempat disebut dalam berbagai pembahasan mengenai kandidat Ketua Umum PBNU. Namun, berdasarkan pemetaan yang dimuat Majalah Risalah NU edisi khusus Muktamar, Agustus 2026, bursa tersebut disebut mulai mengerucut menjadi sejumlah nama utama.
Para tokoh tersebut kemudian dapat dipetakan berdasarkan latar belakang, pengalaman organisasi, visi, serta rekam jejak ke dalam beberapa poros yang menggambarkan arah kepemimpinan NU ke depan.
Poros Struktural dan Kesinambungan
Poros pertama merepresentasikan tokoh-tokoh yang memiliki pengalaman kuat dalam struktur organisasi NU serta dinilai memiliki kapasitas untuk menjaga kesinambungan kepemimpinan.
Nama yang masuk dalam poros ini yakni:
- KH Yahya Cholil Staquf
- Prof. KH Nasaruddin Umar
Keduanya memiliki pengalaman dalam lingkungan organisasi dan keumatan dengan latar belakang yang berbeda.
Poros Pesantren dan Tradisi Ke-NU-an
Poros kedua merepresentasikan kalangan pesantren. Tokoh dalam kelompok ini memiliki latar belakang kuat dalam pendidikan pesantren dan tradisi ke-NU-an.
Nama yang disebut dalam poros ini yakni:
- KH Abdul Hakim Mahfudz
- KH Muhammad Yusuf Chudlori
Poros ini membawa penekanan pada penguatan tradisi pesantren sebagai salah satu fondasi utama NU.
Poros Regenerasi dan Pembaruan
Poros ketiga mengusung gagasan regenerasi dan pembaruan dalam tubuh organisasi NU.
Nama yang disebut antara lain:
- KH Zulfa Mustofa
- KH Abdussalam Shohib
Keduanya dinilai merepresentasikan semangat pembaruan sekaligus regenerasi kepemimpinan di tubuh organisasi.
Bursa Masih Dinamis
Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa dinamika menuju Muktamar ke-35 PBNU masih berkembang. Berbagai tokoh dengan latar belakang dan gagasan berbeda mulai mendapatkan perhatian dari kalangan Nahdliyin.
Dukungan dari struktur organisasi, kalangan pesantren, serta pemilik suara dalam muktamar akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah pemilihan Ketua Umum PBNU.
Selain figur, visi dan gagasan masing-masing kandidat juga akan menjadi perhatian dalam menentukan kepemimpinan NU untuk periode lima tahun mendatang.
Dengan dinamika yang masih terus bergerak, peta dukungan terhadap para kandidat berpotensi berubah menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35.
Siapa yang akhirnya mendapatkan dukungan mayoritas dan dipercaya memimpin PBNU masih akan ditentukan melalui proses muktamar.(TIM)

.gif)