JAKARTA KONTAK BANTEN — Presiden Prabowo Subianto mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI). Pencalonan tersebut mendapat sambutan positif dari pasar dan dinilai mampu memberikan kepastian terhadap arah kebijakan moneter Indonesia ke depan.
Surat Presiden terkait pencalonan Destry Damayanti disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi kepada pimpinan DPR RI, yakni Ketua DPR RI Puan Maharani dan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Senin (10/8/2026).
Respons positif pasar terlihat dari pergerakan nilai tukar rupiah. Pada perdagangan Senin siang, rupiah menguat 0,67% ke level Rp17.770 per dolar Amerika Serikat (AS).
Penguatan rupiah tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan perubahan arah kebijakan moneter mulai mereda.
Destry bukanlah figur baru di Bank Indonesia. Saat ini, Destry menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI. Pengalamannya di bank sentral dinilai dapat mengurangi risiko terjadinya perubahan kebijakan secara tiba-tiba, terutama ketika rupiah masih menghadapi tekanan eksternal, ketidakpastian geopolitik, serta dinamika suku bunga global.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai keputusan Presiden Prabowo mengusulkan Destry sebagai calon Gubernur BI merupakan pilihan yang tepat untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional.
Menurut Fakhrul, Destry memiliki rekam jejak sebagai teknokrat moneter dengan pengalaman yang cukup lengkap, mulai dari dunia akademik, pasar keuangan, perbankan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hingga bank sentral.
“Kombinasi pengalaman seperti ini sangat penting ketika tantangan bank sentral semakin kompleks,” ujar Fakhrul.
Tantangan Destry sebagai Gubernur BI
Meski pencalonannya mendapat respons positif dari pasar, Destry akan menghadapi tantangan ekonomi yang tidak ringan apabila nantinya mendapat persetujuan DPR RI dan resmi memimpin Bank Indonesia.
Fakhrul mengatakan, tantangan Gubernur BI ke depan tidak lagi hanya berkaitan dengan pengendalian inflasi dan penyesuaian suku bunga acuan.
Bank sentral harus mampu beradaptasi dengan perubahan struktural ekonomi global yang berlangsung cepat. Perkembangan teknologi, integrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), digitalisasi sektor keuangan, fragmentasi perdagangan global, perubahan rantai pasok, transisi energi hijau, perubahan demografi, hingga ketidakpastian geopolitik menjadi sejumlah faktor yang harus diperhitungkan.
“Perubahan yang sedang terjadi bukan sekadar perubahan siklus ekonomi, tetapi perubahan struktur ekonomi dunia. Karena itu, bank sentral harus mampu membaca perubahan jangka panjang, bukan hanya mengelola fluktuasi jangka pendek,” tegas Fakhrul.
Menurutnya, salah satu pekerjaan penting Destry apabila memimpin BI adalah menuntaskan fase transisi dari stabilisasi menuju efektivitas transmisi kebijakan.
Setelah menjaga kredibilitas kebijakan moneter dan stabilitas nilai tukar, BI perlu memastikan stabilitas tersebut dapat diterjemahkan menjadi penyaluran likuiditas yang sehat ke sektor riil.
Artinya, kebijakan moneter tidak hanya diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, tetapi juga harus mampu memastikan transmisi kebijakan berjalan efektif sehingga mendukung aktivitas ekonomi nasional.
Independensi BI Jadi Sorotan
Selain efektivitas kebijakan, independensi Bank Indonesia juga menjadi tantangan penting bagi Destry.
Fakhrul menilai kepemimpinan baru BI harus mampu menjaga independensi bank sentral sebagai fondasi utama kebijakan moneter. Pada saat yang sama, koordinasi dengan pemerintah, terutama dalam kebijakan fiskal dan sektor keuangan, tetap perlu dipertahankan.
Kepemimpinan Destry juga dinilai dapat menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas riset internal BI dalam membaca perubahan struktural ekonomi global.
Senada, Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz menilai Destry memiliki pengalaman yang cukup lengkap untuk memimpin bank sentral.
Selain pernah berkarier sebagai ekonom di sektor keuangan dan menjadi anggota Dewan Komisioner LPS, Destry telah sekitar tujuh tahun berada di jajaran Dewan Gubernur BI sebagai Deputi Gubernur Senior.
Menurut Irman, pengalaman tersebut menjadi modal penting karena tugas Gubernur BI tidak hanya membutuhkan pemahaman mengenai teori moneter. Gubernur BI juga dituntut mampu membaca kondisi pasar, menjaga komunikasi kebijakan, serta mengambil keputusan secara cepat ketika menghadapi tekanan ekonomi.
“Tantangan pertama Destry ada pada bagaimana menjaga independensi kebijakan moneter,” kata Irman.
Pasar, lanjut dia, akan mencermati apakah kebijakan BI di bawah kepemimpinan Destry tetap berlandaskan data dan mandat menjaga stabilitas rupiah atau justru muncul persepsi bahwa kebijakan moneter terlalu akomodatif terhadap kebutuhan pertumbuhan ekonomi maupun kebijakan fiskal pemerintah.
Dengan pengalaman panjang di sektor keuangan dan Bank Indonesia, Destry dinilai memiliki modal kuat untuk menghadapi tantangan tersebut. Namun, pasar tetap akan menantikan bagaimana kebijakan moneter BI di bawah kepemimpinannya dapat menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah, inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan independensi bank sentral.(HE)

.gif)