TANGSEL, KONTAK BANTEN – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus mematangkan kehadiran Jempol Trans sebagai moda transportasi umum baru bagi masyarakat.
Layanan bus tersebut disiapkan untuk memperkuat konektivitas angkutan massal di Tangerang Selatan dan wilayah sekitarnya. Jempol Trans diharapkan menjadi alternatif transportasi publik yang aman, nyaman, dan terjangkau.
Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Tangerang Selatan, Ahmad Arofah, mengatakan Jempol Trans dipersiapkan untuk memberikan pilihan transportasi umum bagi warga.
“Kami berharap keberadaan Jempol Trans ini dapat menjadi pilihan transportasi publik yang aman, nyaman, dan terjangkau bagi warga Tangerang Selatan dan sekitarnya,” ujar Arofah, Jumat (21/8/2026).
Jempol Trans Layani Rute Pondok Cabe-Alam Sutera
Arofah menjelaskan, rute Jempol Trans ditetapkan berdasarkan hasil kajian Dinas Perhubungan Tangsel. Koridor Pondok Cabe-Alam Sutera dipilih karena melewati sejumlah kawasan strategis dan permukiman dengan aktivitas masyarakat yang cukup tinggi.
Perjalanan bus akan dimulai dari Terminal Pondok Cabe milik Kementerian Perhubungan. Bus kemudian melintasi kawasan permukiman padat di Pamulang, menuju Stasiun Rawa Buntu, dan berakhir di kawasan Alam Sutera.
“Lintasan bus ini akan dimulai dari Terminal Pondok Cabe milik Kementerian Perhubungan (Kemenhub), melewati kawasan pemukiman padat di Pamulang, melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Rawa Buntu, hingga berakhir di Alam Sutera,” kata Arofah.
Tarif Uji Coba Jempol Trans Rp15 Ribu
Sebelum beroperasi secara penuh, Jempol Trans akan menjalani tahap sosialisasi dan uji coba operasional.
Pada masa uji coba, tarif Jempol Trans ditetapkan sebesar Rp15.000 per penumpang untuk sekali perjalanan. Sistem pembayaran yang digunakan bersifat non-tunai atau cashless.
“Untuk tarif uji coba flat Rp15.000 per penumpang sekali jalan. Metode pembayarannya cashless,” ujar Arofah.
Setelah layanan beroperasi secara penuh, tarif untuk rute Pondok Cabe-Alam Sutera diperkirakan mencapai Rp25.000 secara flat untuk satu koridor.
Menurut Dishub Tangsel, tarif tersebut lebih tinggi karena Jempol Trans dioperasikan secara murni oleh pihak swasta. Kondisi ini berbeda dengan layanan transportasi publik bersubsidi seperti JakLingko dan Transjakarta.
Dishub Tangsel Kaji Tarif Berdasarkan Jarak
Untuk meringankan beban penumpang yang hanya melakukan perjalanan jarak pendek, Dishub Tangsel tengah mengkaji skema tarif berdasarkan jarak tempuh.
Pengelola Jempol Trans, PT Jempol Trans, didorong mengembangkan sistem pembayaran melalui aplikasi. Dengan sistem tersebut, penumpang dapat melakukan tap in dan tap out, sehingga tarif bisa disesuaikan dengan jarak perjalanan.
“Kami ingin menawarkan, karena ini Rp25.000 terlalu berat ya. Masa kalau misalnya dari Pondok Cabe sampai Maruga Rp25.000, kan tidak mungkin juga. Makanya kami lagi merumuskan itu dulu,” kata Arofah.
Melalui skema tersebut, tarif dapat dihitung berdasarkan jarak. Misalnya, perjalanan dengan jarak tertentu dapat dikenakan tarif lebih rendah dibandingkan tarif penuh Rp25.000.
“Kalau pakai aplikasi nanti per 3 km atau per 9 km ada hitungannya, misalnya Rp9.000. Dari Pondok Cabe ke Maruga hanya Rp12.000, kan bisa seperti itu kalau pakai aplikasi. Jadi kami minta dikembangkan sampai ke arah situ,” tuturnya.
Selain aplikasi, sistem pembayaran Jempol Trans juga dirancang dapat menggunakan kartu uang elektronik, seperti e-money dan Flazz.
Namun, pembayaran menggunakan kartu elektronik nantinya akan menerapkan tarif tetap atau flat rate.
Jempol Trans Bukan untuk Matikan Angkot
Pemkot Tangerang Selatan juga mengantisipasi potensi gesekan dengan angkutan lokal yang telah lebih dulu beroperasi, seperti angkot dan layanan ojek.
Dishub Tangsel melakukan komunikasi serta sosialisasi dengan para pelaku angkutan lokal. Langkah ini dilakukan untuk mencegah terjadinya konflik ketika Jempol Trans mulai beroperasi.
Arofah menegaskan, kehadiran Jempol Trans tidak dimaksudkan untuk menggantikan atau mematikan mata pencaharian angkutan lokal.
Jempol Trans justru diposisikan sebagai bagian dari jaringan transportasi yang saling terhubung dan dapat berfungsi sebagai feeder bagi sistem transportasi umum di Tangerang Selatan.
Pemkot Tangerang Selatan berharap kehadiran Jempol Trans dapat memperkuat integrasi transportasi, memudahkan mobilitas masyarakat, sekaligus menciptakan layanan angkutan umum yang lebih nyaman dan terjangkau.(NIS)

.gif)