Mahasiswa
Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 15 Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa (Untirta) -Foto : Mahasiswa KKM 15 Untirta-

KAB SERANG, KONTAK BANTEN — Persoalan sampah rumah tangga di lingkungan permukiman mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 15 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menghadirkan inovasi teknologi tepat guna.
Mahasiswa memperkenalkan TUNAS (Tungku Pembakaran Sampah) kepada warga Perumahan Junti Asri, RT 11/RW 04, Desa Panamping, Kecamatan Bandung, Kabupaten Serang.
Program tersebut merupakan bagian dari kegiatan pengabdian mahasiswa KKM Untirta yang dilaksanakan di bawah pembinaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untirta, dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Rusdi Febriyanto.
TUNAS Jadi Alternatif Pengelolaan Sampah Kering
Inovasi TUNAS dirancang sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi penumpukan sampah rumah tangga, khususnya sampah kering yang selama ini masih kerap dibakar secara terbuka oleh warga.
Mahasiswa berharap keberadaan tungku tersebut dapat membantu mengurangi aktivitas pembakaran sampah secara langsung di lingkungan permukiman, sekaligus mendorong warga menerapkan pengelolaan sampah yang lebih tertib.
Penanggung Jawab Program TUNAS KKM Kelompok 15 Untirta, Aldo Pratama, mengatakan gagasan tersebut berawal dari kondisi di lingkungan RT 11 yang masih cukup banyak melakukan pembakaran sampah rumah tangga secara terbuka.
“Di lingkungan RT 11 ini, masyarakat cukup masif membakar sampah harian secara terbuka. Melalui kehadiran TUNAS, kami berharap volume limbah rumah tangga yang terakumulasi serta kepulan asap pembakaran dapat direduksi secara signifikan,” ujar Aldo Minggu (9/8/2026).
Menurut Aldo, proses pembangunan TUNAS sempat menghadapi sejumlah kendala, mulai dari kondisi cuaca hingga persoalan teknis. Namun, fasilitas tersebut akhirnya berhasil diselesaikan dan dapat digunakan warga.
Ia mengatakan perawatan TUNAS juga relatif sederhana. Warga perlu membersihkan sisa abu pembakaran secara rutin agar tungku tetap berfungsi dengan baik.
“Perawatannya pun cukup simpel, yaitu warga hanya perlu rutin membersihkan sisa abu pembakaran agar fungsi tungku tetap optimal,” katanya.
Mahasiswa Dorong Kesadaran Warga Kelola Sampah
Aldo berharap TUNAS tidak hanya menjadi fasilitas pembakaran sampah, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.
Menurutnya, keberadaan teknologi tersebut harus diikuti dengan perubahan perilaku warga dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya.
Mahasiswa KKM Kelompok 15 Untirta ingin masyarakat semakin terbiasa memilah dan mengelola sampah secara tertib dengan tetap memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.
Pemdes Panamping Apresiasi Inovasi Mahasiswa
Kepala Desa Panamping, Iskandar, memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dibuat mahasiswa Untirta.
Ia mengatakan persoalan sampah di kawasan permukiman merupakan salah satu tantangan yang harus mendapat perhatian pemerintah desa.
“Atas nama Pemerintah Desa Panamping, kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas karya nyata dari mahasiswa Untirta. Penanganan sampah di area pemukiman perumahan merupakan tugas yang cukup berat dan menjadi perhatian serius kami,” tutur Iskandar.
Menurutnya, TUNAS tidak hanya memberikan manfaat dalam bentuk fasilitas fisik, tetapi juga dapat menjadi media edukasi bagi masyarakat agar mampu mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan.
“TUNAS tidak hanya hadir sebagai fasilitas fisik, tetapi menjadi media edukasi penting agar warga mampu mengelola sampah kering secara mandiri, tertib, dan berkesinambungan,” ujarnya.
Pengurus RT Siapkan Sosialisasi kepada Warga
Sementara itu, Ketua Forum RT Perumahan Junti Asri, Ismail Zainul Arifin, menilai inovasi TUNAS sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lingkungan perumahan.
Ia mengatakan fasilitas tersebut dapat membantu mengurangi volume sampah rumah tangga yang selama ini menjadi persoalan di lingkungan warga.
“Insinerator pembakaran ini sangat membantu menekan volume limbah langsung dari rumah tangga,” kata Ismail.
Untuk memastikan program berjalan berkelanjutan, pengurus RT akan melakukan sosialisasi kepada warga melalui komunikasi langsung maupun grup komunikasi lingkungan.
Ismail juga mengimbau masyarakat mulai membiasakan pemilahan sampah organik dan anorganik sebelum sampah dikelola.
“Pengurus RT akan terus mengawal keberlanjutan program ini melalui sosialisasi door-to-door maupun grup komunikasi warga, serta mengimbau masyarakat untuk mulai membiasakan pemilahan sampah organik dan anorganik sebelum dibakar,” tandasnya.
Program TUNAS diharapkan menjadi contoh kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mencari solusi atas persoalan sampah di lingkungan permukiman. Selain mengurangi penumpukan sampah, program tersebut juga diharapkan dapat membangun kebiasaan baru warga dalam memilah dan mengelola sampah secara lebih bertanggung jawab.(TIM)
.gif)