KOTA SERANG KONTAK BANTEN – Puncak perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Lingkungan Domba, Kelurahan Lopang, Kota Serang, Banten, berlangsung meriah dengan tradisi Ngeropok.
Tradisi khas masyarakat Banten tersebut menjadi momen pembagian berkat dan bingkisan yang berasal dari ornamen Panjang Mulud kepada masyarakat.
Pantauan di lokasi, Selasa (25/8/2026), suasana penuh kegembiraan terlihat saat tradisi Ngeropok dimulai. Anak-anak hingga orang dewasa tampak antusias mengikuti kegiatan yang menjadi salah satu rangkaian perayaan Maulid Nabi tersebut.
104 Panjang Mulud Berisi Beragam Bingkisan
Sebelum memasuki puncak acara, ornamen Panjang Mulud yang dibuat secara swadaya masyarakat dijemput dari rumah ke rumah.
Panjang Mulud kemudian diarak keliling kampung dengan iringan lantunan shalawat dan tabuhan marawis.
Setelah tiba di masjid, seluruh ornamen tersebut didoakan bersama. Barang-barang yang terdapat di dalam Panjang Mulud kemudian dikemas untuk dibagikan kepada masyarakat dalam tradisi Ngeropok.
Ketua Penyelenggara Kegiatan, Muhammad Robi, mengatakan Ngeropok menjadi salah satu momen yang paling dinantikan masyarakat setiap perayaan Maulid Nabi.
Menurutnya, antusiasme warga tahun ini sangat tinggi. Hal itu terlihat dari jumlah Panjang Mulud yang berhasil dikumpulkan.
“Tahun ini ada 104 Panjang Mulud yang berisikan sembako, perabotan rumah tangga, pakaian, hingga uang tunai. Melalui Tradisi Ngeropok, barang-barang ini kami distribusi untuk warga di empat kampung lain,” ujar Robi di Serang, Selasa.
Berkat Diprioritaskan untuk Warga yang Membutuhkan
Robi menjelaskan, pembagian berkat tidak dilakukan sekadar sebagai kegiatan seremonial. Panitia memberikan perhatian kepada sejumlah kelompok masyarakat yang dinilai membutuhkan.
Penerima manfaat di antaranya anak-anak, pemandi jenazah, ustaz, guru ngaji, serta masyarakat umum.
Tradisi tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian sosial warga dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Menurut Robi, kemeriahan Ngeropok tidak hanya menjadi ajang berkumpulnya masyarakat, tetapi juga menjadi sarana memperkuat semangat saling menolong, gotong royong, dan bersedekah.
“Ini bukan sekadar ajang kumpul warga, tetapi wujud rasa syukur atas hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dibalut dengan semangat saling menolong, gotong royong, serta sedekah,” katanya.
Ngeropok Perkuat Kebersamaan Warga
Keceriaan juga dirasakan masyarakat yang mengikuti tradisi tersebut. Salah seorang warga setempat, Siti Aminah (45), mengatakan Ngeropok menjadi tradisi yang selalu dirindukan setiap perayaan Maulid Nabi.
Menurutnya, kegiatan tersebut mampu mempertemukan anak-anak, orang dewasa, hingga para tokoh masyarakat dalam suasana penuh kegembiraan.
“Keseruan saat Ngeropok itu yang selalu bikin kangen tiap tahun. Anak-anak sampai bapak-bapak kumpul semua di jalanan sampai masjid, ketawa bareng, mengharap berkah dari Panjang Mulud,” ujar Siti.
Ia menilai tradisi tersebut juga memiliki nilai sosial karena menjadi salah satu cara masyarakat berbagi dengan sesama.
“Ini cara kita bersedekah, tapi dengan hati riang gembira, membuat semua warga makin guyub,” tambahnya.
Tradisi Ngeropok di Lingkungan Domba menunjukkan bahwa perayaan Maulid Nabi tidak hanya menjadi momentum keagamaan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, kepedulian sosial, gotong royong, dan semangat berbagi di tengah masyarakat.
Bagi warga Lopang, Panjang Mulud bukan sekadar ornamen perayaan. Di dalamnya terdapat semangat kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi sekaligus menjadi bentuk nyata rasa syukur dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.(TIM )

.gif)