JAKARTA, KONTAK BANTEN – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi luas panen padi di Indonesia selama Januari-September 2026 mencapai 9,24 juta hektare. Angka tersebut mengalami penurunan 2,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Penurunan luas panen tersebut terjadi di tengah sejumlah tantangan sektor pertanian, termasuk fenomena El Nino yang diperkirakan memberikan dampak lebih kuat terhadap produksi pangan nasional.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan penurunan luas panen juga terlihat pada September 2026.
"Secara kumulatif, realisasi luas panen padi selama Januari-September 2026 mencapai 9,24 juta hektare atau turun 2,23 persen dibanding periode yang sama tahun 2025," kata Ateng Hartono di Jakarta, Senin.
Luas Panen September Turun 19,40 Persen
BPS mencatat luas panen padi pada September 2026 mencapai 0,91 juta hektare. Jumlah tersebut turun 19,40 persen dibandingkan September 2025 yang mencapai 1,13 juta hektare.
Penurunan luas panen tersebut berdampak langsung terhadap perkiraan produksi padi nasional.
Produksi padi pada September 2026 diperkirakan hanya mencapai 4,88 juta ton gabah kering giling (GKG), turun 18,29 persen dibandingkan September 2025 yang mencapai 5,97 juta ton GKG.
Sementara itu, produksi beras untuk konsumsi masyarakat pada September 2026 diperkirakan sebesar 2,81 juta ton. Angka tersebut turun 18,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Begitu pula jumlah produksi beras yang diperkirakan mencapai 2,81 juta ton, atau turun 18,25 persen dibanding September tahun lalu," ujar Ateng.
El Nino Berpotensi Tekan Produksi Padi Oktober-Desember 2026
BPS juga memperkirakan penurunan luas panen masih berlanjut pada tiga bulan terakhir tahun 2026.
Untuk periode Oktober-Desember 2026, potensi luas panen padi diperkirakan mencapai 1,54 juta hektare atau turun 17,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejalan dengan penurunan luas panen, potensi produksi padi diperkirakan sebesar 8,69 juta ton GKG atau turun 16,30 persen.
Adapun produksi beras pada periode tersebut diperkirakan mencapai 5,01 juta ton, mengalami penurunan 16,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ateng menjelaskan, perkiraan penurunan produksi tersebut dipengaruhi dampak fenomena El Nino yang pada 2026 diperkirakan lebih kuat dibandingkan kejadian pada 2023.
"Dampaknya diperkirakan semakin terasa pada tiga bulan ke depan. Namun demikian, produksi padi pada periode Januari-Agustus 2026 masih mencatat adanya peningkatan," jelasnya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi sektor pertanian nasional, terutama dalam menjaga produktivitas lahan, ketersediaan air untuk irigasi, serta keberlanjutan pasokan beras bagi masyarakat.
Produksi Jagung Januari-September 2026 Masih Tumbuh
Di tengah penurunan produksi padi, BPS juga mencatat perkembangan produksi jagung nasional.
Luas panen jagung pada September 2026 tercatat turun 3,59 persen menjadi 0,21 juta hektare.
Seiring dengan penurunan luas panen tersebut, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen (JPK KA 14 persen) pada September 2026 diperkirakan mencapai 1,30 juta ton atau turun 6,46 persen dibandingkan September 2025.
Meski demikian, secara kumulatif produksi jagung masih menunjukkan pertumbuhan positif.
BPS mencatat produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen selama Januari-September 2026 mencapai 13,16 juta ton. Jumlah tersebut meningkat 2,73 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
"Namun demikian, produksi JPK KA 14 persen sepanjang Januari-September 2026 secara kumulatif mencapai 13,16 juta ton, lebih tinggi 2,73 persen dibanding Januari-September 2025," kata Ateng.
Data tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian nasional menghadapi tantangan berbeda pada komoditas padi dan jagung. Penurunan produksi padi perlu menjadi perhatian dalam menjaga ketersediaan pangan, sementara peningkatan produksi jagung secara kumulatif menjadi salah satu perkembangan positif di sektor pertanian nasional.

.gif)