JAKARTA – Pemerintah diharapkan lebih fokus membangun ekonomi
kerakyatan di perdesaan untuk mengangkat status puluhan juta petani
nasional menjadi kelas menengah. Apabila upaya tersebut berhasil maka
Indonesia akan lolos dari jebakan negara berpenghasilan menengah bawah (low-middle income trap), bahkan bisa beranjak menjadi negara kaya.
Dewan Pembina Institute Agroekologi Indonesia (Inagri), Achmad
Yakub, mengemukakan Indonesia mesti kembali kepada cita-cita awal Bapak
Pendiri Bangsa, Bung Karno, yang termuat dalam Pancasila dan UUD 1945,
yakni pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan kekayaan negara diserahkan
untuk digunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.
“Dan hal itu berinti pada sebanyak mungkin keterlibatan rakyat dalam
proses ekonomi atau pengelolaan sumber daya. Ini merupakan implementasi
ekonomi kerakyatan,” jelas dia, ketika dihubungi, Kamis (31/10).
Yakub memaparkan, cita-cita founding father tegas
mengatakan bahwa negara ini dibangun di atas konsep ekonomi kerakyatan.
Itu sesuai dengan konsep Bung Karno saat menemukan petani bernama
Marhaen di desa pada 1926–1927. Itulah simbol ekonomi rakyat yang ingin
diangkat dari perdesaan yakni berdayanya petani secara umum, yang
terdiri atas petani padi, peternak, maupun nelayan.
Presiden pertama RI, Soekarno, mencetuskan Marhaenisme yakni untuk
mengangkat harkat hidup Massa Marhaen (terminologi lain dari rakyat
Indonesia), yang memiliki alat produksi namun masih tertindas.
Pengertian Marhaen juga ditujukan kepada seluruh golongan rakyat kecil,
yaitu petani dan buruh yang belum sejahtera.
“Maksud Bung Karno tentang Marhaen adalah memajukan ekonomi rakyat di
perdesaan untuk mengangkat taraf hidup petani dan menjadikan sektor
pertanian sebagai soko guru ekonomi nasional,” jelas Yakub.
Dia menambahkan sistem ekonomi oligarki yang menyerahkan pengelolaan
sumber daya alam dan kekayaan negara pada segelintir konglomerat
terbukti gagal, bahkan menghasilkan ketimpangan kesejahteraan yang
buruk.
Berdasarkan data Global Wealth Report 2018 yang dikeluarkan Credit
Suisse, ketimpangan berdasarkan kekayaan, satu persen orang terkaya di
Indonesia menguasai 46,6 persen kekayaan nasional, meningkat dari 45,4
persen pada 2017. Sedangkan 10 persen terkaya di Indonesia menguasai
75,3 persen kekayaan nasional.
Menurut Yakub, Bung Karno berharap petani terangkat jadi kelas
menengah. Kalau itu bisa terwujud maka 60 juta petani nasional jadi
kelas menengah, dan negara akan kaya. Tiongkok telah memberikan contoh
bagaimana dengan pertanian yang kuat mereka bisa mengangkat 700 juta
penduduk miskin menjadi kelas menengah.
“Cita-cita inilah yang semestinya menjadi energi utama para pemimpin bangsa dalam mengelola negara,” kata dia.
Sebelumnya, Direktur Pusat Studi Masyarakat (PSM) Yogyakarta, Irsad
Ade Irawan, mengatakan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) jilid
2 mesti bertekad dan secara nyata memberantas praktik pajak siluman,
kriminalisasi perkara perdata, dan kroni kapitalisme untuk bisa lepas
dari jebakan negara berpenghasilan menengah-bawah.
Sebab, sejumlah praktik tersebut merupakan akar masalah utama yang
membuat Indonesia tidak maju. Praktik tersebut juga membuat Indonesia
tidak menarik untuk investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment (FDI).
“Padahal, investasi asing sangat dibutuhkan untuk memacu pertumbuhan
ekonomi tinggi sehingga Indonesia keluar dari kemiskinan dan beranjak
menjadi negara maju,” papar Irsad.
Terganjal CAD
Sementara itu, Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengungkapkan defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD)
yang melebar membuat ekonomi Indonesia sulit untuk tumbuh tinggi.
Bahkan, Presiden Jokowi pun berulang kali mengingatkan permasalahan CAD
yang selama ini membuat ekonomi Indonesia rentan. Presiden mengakui
bahwa Indonesia masih bergantung pada barang impor, khususnya Bahan
Bakar Minyak (BBM), yang selama ini menjadi penyebab melebarnya CAD.
Presiden Jokowi meminta para menteri untuk menarik investasi di
sektor manufaktur guna mengatasi persoalan membludaknya barang-barang
impor yang selama ini memperburuk CAD.







0 comments:
Post a Comment