![]() |
| RATAS POLKAM I Presiden Joko Widodo memimpin rapat terbatas tentang program dan kegiatan bidang politik, hukum dan keamanan di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (31/10). |
JAKARTA – Presiden Joko Widodo meminta kepada aparat penegak hukum
untuk tidak mencari-cari kesalahan pelaku bisnis, investor, hingga
pejabat yang mendukung program strategis pemerintah.
“Tolong juga jangan sampai terjadi, dicari-cari kesalahan,
digigit-gigit, sehingga program-program yang harusnya bisa kita
selesaikan, berhenti di tengah jalan karena banyak orang yang enggak senang dengan pembangunan itu. Misalnya pembangunan kilang minyak refinery, banyak yang enggak senang
karena suka barang impor. Kita tahu untuk sebuah negara, ini keharusan
sehingga defisit neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan bisa
diperbaiki,” kata Jokowi saat memberikan pengantar rapat terbatas
(ratas) Penyampaian Program dan Kegiatan bidang Politik, Hukum, dan
Keamanan, di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (31/10).
Presiden juga memerintahkan Menteri Koordinator bidang Politik,
Hukum, dan Keamanan, Kepala Kepolisian RI, Jaksa Agung, dan pimpinan
Komisi Pemberantasan Korupsi agar memberi jaminan terhadap para pelaku
usaha ini.
Menurut Jokowi, jangan sampai aparat penegak hukum dibajak oleh
mafia sehingga menggigit para pelaku usaha yang sebenarnya mendukung
program pemerintah. “Ini hati-hati. Akan saya balik gigit mereka.
Jangan sampai para mafia yang menggigit dan menghadang program
pembangunan justru terus berkeliaran,” ucap dia.
Selain itu, Jokowi meminta ada kepastian hukum terkait pengembangan
bisnis. Sebab, banyak investor yang antre masuk ke Indonesia, namun
batal karena meragukan kepastian hukum di sini.
Mampu Baca Situasi
Pada kesempatan itu, Presiden meminta kepada jajarannya, khususnya
di bidang politik, hukum dan keamanan mampu membaca situasi keamanan
baik dalam negeri maupun di luar negeri. Terlebih, mengenai politik
dunia yang kecenderungan sangat mudah sekali bergejolak.
“Saya kira pengalaman seperti (Cile) harus bisa kita baca dan
jadikan pengalaman. Kita harus selalu waspada sejak awal,” ujar
Presiden.
Presiden juga mewanti-wanti kepada jajarannya agar mampu menyiapkan
langkah-langkah yang konkret menangani masalah keamanan. “Jangan
sampai, misalnya, urusan kenaikan tarif BPJS kesehatan, kalau cara kita
menerangkannya tidak clear (jelas) kepada masyarakat,
dibacanya kelihatannya kita ini ingin memberatkan beban yang lebih
banyak paksa rakyat,” ucap Presiden.
Padahal, pemerintah sudah memberikan subsidi sangat besar. Misalnya,
tahun 2019, pemerintah telah menggratiskan 96 juta rakyat pergi ke
rumah sakit di daerah.
“Sebanyak 96 juta kita gratiskan lewat PBI (penerima bantuan
iuran). Jadi, anggaran total yang kita subsidikan ke sana 41 triliun
rupiah, rakyat harus mengerti ini. Dan, tahun 2020 subsidi yang kita
berikan pada BPJS 48,8 triliun rupiah. Ini angka yang besar sekali.
Jangan sampai kesannya kita ini kita sudah subsidi dari APBN gede (besar) banget,” jelas Presiden.







0 comments:
Post a Comment