< >

Notification

×

Iklan

Iklan

🌤️ Info Cuaca & Gempa
Cuaca Banten
Sumber: BMKG
Gempa Terkini

Tag Terpopuler

Mengembalikan Mahasiswa sebagai Agen Perubahan

Selasa, 11 September 2018 | Selasa, September 11, 2018 WIB | Last Updated 2019-05-16T18:18:34Z

 Oleh : Abdurrahman Irham*

Pergolakan pemikiran telah menghinggapi mahasiswa. Pergolakan dimulai dengan cara menerawang masa depan (forecasting), membulatkan tekad (dedication) dan meneguhkan pendirian (loyality). Demikian dengan menuntut ilmu atau kuliah merupakan tahap yang mesti dilewati mahasiswa.
Hegemoni modernisme menjadi tantangan setiap mahasiswa. Modernisme perlu diiringi dengan penguatan intelektual agar tidak tergilas dimakan zaman. Filsuf Rene Descartes mengatakan, “aku berpikir, maka aku ada.” Sehingga dengan berpikir, kehidupan seseorang berwarna.
Kini, bukan zamannya lagi berpangku tangan dan menghayal masa depan. Tapi, mulai menata kedepan untuk melakukan yang terbaik bagi agama dan bangsa Indonesia. Menggali potensi diri.
Dalam kerangka aktivisme, mahasiswa kerap dijuluk sebagai agent of change (agen perubahan) dalam pranata sosial. Tentu menjadi tanggung jawab besar dalam masyarakat dan bangsa. Setidaknya ada makna yang dapat dilakukan bagi lingkungan.
Sementara tengah terjadi pergeseran nilai dan budaya. Seperti sopan santun yang mulai tergerus berganti dengan premanisme, ramah tamah berganti vandalisme dan liberalisme. Sehingga mahasiswa dituntut melakukan aksi nyata demi mempertahankan budaya.
Perubahan sosial, menurut penulis, terjadi akibat kemajuan teknologi dan arus informasi. Sebagai contoh, telepon seluler yang dulu hanya sebatas alat komunikasi. Kini,menjelma menjadi alat informasi, bisa mengubah keadaan sosial masyarakat.
Pelajar atau mahasiswa, merupakan kelompok yang sangat rentan dipengaruhi perubahan teknologi dan informasi. Memicu pergaulan diluar batas, terjadi kemorosotan moral, budaya dan hedonisme.
Sebagai mahasiswa yang sadar dengan potensinya, tidak akan berdiam diri melihat perubahan arus informasi.Mahasiswa sebagai kaum terdidik harus melakukan aksi nyata tak boleh terpedaya teknologi. Melakukan gerakan literasi media, memanfaatkan media sosial untuk kampanye positif.
Melihat kenyataan itu, perlu kegiatan yang positif. Misalnya, membentuk sebuah lembaga sosial untuk menggali potensi mahasiswa. Membuat sebuah forum kajian keagamaan untuk memperkokoh pondasi keagamaan dan mengajak untuk menghasilkan karya demi tegaknya peradaban baru.
Khairunnas amfakhum linnas ( sebaik baik manusia adalah yang bisa bermanfaat buat manusia yang lainnya). Presiden pertama Soekarno mengatakan, “Berikan Aku sepuluh pemuda, maka aku akan guncangka dunia.”
Artinya, segolongan pemuda atau mahasiswa yang potensial dan berdedikasi, akan mampu menaklukkan dunia dengan pemikiran dan penanya. Dalam pandangan Antonio Gramsci, sebagai kaum intelektual organik, mahasiwa perlu mengaplikasikan semua potensi yang dimiliki. Kemudian mengeluarkan sebuah karya positif demi terciptanya sebuah peradaban baru, yakni peradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas, humanisme dan religiusitas. Kita berharap terjadi perubahan sosial. Indonesia tampil sebagai bangsa yang mandiri.

*Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Lintas Generasi
Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update