![]() |
SERANG, (KB).- Pada usianya yang menginjak ke-19
tahun setelah memisahkan diri dari Jawa Barat, Provinsi Banten dinilai
mengalami perkembangan. Pembangunan di segala sektor, terus diupayakan
untuk mengejar ketertinggalan.
Menurut Direktur Jenderal Bina Pembangunan Desa, Kementerian Dalam
Negeri (Kemendagri) Muhammad Chudori, beberapa indikator makro
pembangunan mampu dicapai dengan baik seperti tingkat kemiskinan, Indeks
Pembangunan Manusia (IPM), dan tingkat pengangguran terbuka yang
mengalami tren penurunan.
Hudori merinci, tingkat kemiskinan Banten tahun 2018 tergolong rendah
sebesar 5,24 persen berada di bawah rata-rata nasional yang sebesar
9,82 persen. Tren tingkat kemiskinan Provinsi Banten tahun 2014-2018
cenderung terus mengalami penurunan dan selalu berada di bawah rata-rata
nasional.
Akan tetapi, tiga kabupaten/kota di Provinsi Banten yaitu Kabupaten
Pandeglang, Kabupaten Lebak dan Kota Serang masih harus mendapatkan
perhatian. Sebab, di bawah rata-rata nasional angka kemiskinan ketiganya
masih di atas rata-rata Provinsi Banten.
Pembangunan manusia di Banten, kata dia, secara konsisten terus
mengalami kemajuan, tandanya IPM yang meningkat. Pada tahun 2018, IPM
Banten telah mencapai 71,95, atau meningkat 0,53 poin dibandingkan tahun
lalu yang sebesar 71,42.
Kemajuan pembangunan manusia pada tahun 2018 juga mengalami
akselerasi atau percepatan. Ditandai oleh pertumbuhan IPM yang mencapai
0,74 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan tahun 2017 yang hanya 0,65
persen. Status pembangunan manusia Banten pada tahun 2018 ada pada level
atau kategori tinggi.
“TPT Provinsi Banten tahun 2018 mencapai 8,52 persen berada di atas
rata-rata Nasional 5,34 persen dan paling tinggi se-Indonesia. Namun,
berdasarkan tren selama 2014-2018, TPT Provinsi Banten cenderung
mengalami penurunan meski masih di atas rata-rata nasional,” ujarnya
saat acara Seminar Pembangunan Daerah “Refleksi 19 Tahun Provinsi
Banten” di Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Curug, Kota Serang, Kamis
(3/10/2019).
Namun, kata dia, Banten masih perlu melakukan percepatan pembangunan
infrastruktur, penyiapan kapasitas produksi dan sumber daya manusia,
deregulasi dan debirokratisasi, menjaga stabilitas harga bahan pokok,
serta menyukseskan program bantuan sosial yang digagas pemerintah.
Sehingga, hasil pembangunan dan capaian indikator makro akan lebih
optimal.
Kemiskinan dan pengangguran
Hal hampir senada dikatakan Ketua DPRD Banten Andra Soni, bahwa
Banten sudah mengalami perkembangan meski belum pesat. Politisi Partai
Gerindra ini mencatat, ada bagian persoalan yang perlu diperhatikan
pemerintah, di antaranya angka penduduk miskin di Provinsi Banten yang
masih tinggi. “Angka kemiskinan Provinsi Banten hasil Survei Sosial
Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2019 sebesar 5,09 persen, atau sebanyak
654,46 ribu jiwa,” ucapnya.
Kemudian, investasi yang secara tren sudah berkembang baik namun
belum memberikan dampak serapan tenaga kerja bagi masyarakat Banten.
“Hal itu terbukti masih tinggi tingkat pengangguran terbuka (TPT), pada
Februari 2019 angka pengangguran mencapai 7,58 persen dimana pada tahun
2018 angka pengangguran Banten sebesar 8,52 persen, merupakan angka
tertinggi di Indonesia,” tuturnya.
Angka pengangguran perlu diselesaikan dengan inovasi pemerintah
daerah dalam membuka berbagai lapangan kerja bagi masyarakat Banten.
“Saya berharap semoga di usia Provinsi Banten yang ke-19 Pemerintah
Provinsi Banten dapat memberikan berbagai peningkatan pelayanan publik
bagi masyarakat, terutama berbagai pelayanan dasar,” kata pria alumni
STIE Bakti Pembangunan ini.
Masyarakat Banten, lanjut dia, harus hidup layak dan mendapatkan rasa
aman dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari. “Dirgahayu Provinsi
Banten, Banten membangun, masyarakat sejahtera,” tuturnya.
Akademisi Untirta Suwaib Amirudin, juga menilai Banten mengalami
perubahan dari semenjak berdiri menjadi provinsi. Sebab, masyarakat
sudah mendapatkan kemudahan dalam berbagai aspek. Misalnya pelayanan
administrasi kependudukan yang tertata dengan baik dan infrastruktur
sudah dirasakan sampai pelosok desa dan lain-lain.
Akan tetapi, ada persoalan yang menurutnya masih perlu perhatian
lebih dari Pemprov Banten. “Dari segi lapangan kerja ini memang menjadi
pekerjaan rumah di Pemprov Banten. Karena 19 tahun ini sudah semakin
dewasa perlu didorong kontrak antara industri di Banten, berapa persen
yang harus diserap dari orang lokal,” ujarnya.
Menurut dia, kontrak tersebut penting dilakukan untuk memastikan
masyarakat sekitar indusrtri mendapatkan kepastian lapangan kerja.
“Karena kawasan industri ada hal yang perlu dilibatkan dalam masyarakat
lokal,” ucapnya.
Selain itu, keberadaan industri juga perlu memperhatikan kelestarian
lingkungan. Kehadiran industri tidak seharusnya merusak lingkungan
sekitar seperti sungai. “Nah Banten saat ini kita lihat dari segi
kemajuan dibanding tahun sebelumnya,” tuturnya.
Tidak kalah penting, Pemprov Banten juga harus melakukan peningkatan
kualitas pendidikan. “Misalnya sarana pembelajaran, guru yang harus
ditingkatkan kualitasnya. Jadi kalau kita bermain dengan angka bahwa
sudah sekian persen masyarakat mengenyam pendidikan, itu harus
sinergikan dengan kualitasnya. Apalagi muncul SMK banyak yang tidak
terserap. Makanya ini harus didobrak oleh Pemprov Banten untuk kerja
sama dengan industri agar menyerap tenaga terampil,” katanya.
Begitu juga menurut Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
(P3M) STKIP Setia Budhi Rangkasbitung, Iman Sampurna. Ia mengatakan,
Provinsi Banten di usia 19 tahun mengalami perkembangan. “Banyak
perubahan dalam pembangunan di Banten saat ini. Salah satu yang menonjol
dan monumental saat ini, yaitu penataan kawasan Banten Lama,” ujarnya.
Menurutnya, kepemimpinan WH – Andika mengerti sejarah dan sangat
memahami filosofi Banten, patut diapresiasi. “Kerajaan Banten pernah
mengalami puncak kejayaan dan menjadi bandul bagi perekonomian Indonesia
pada waktu itu.”Banten dulu sangat gemilang, dan era kejayaan itu
sedang ditunjukkan WH ddan Andika,” katanya.
Optimistis
Sementara itu, Gubernur Banten Wahidin Halim menuturkan, pada usia
ke-19 tahun Banten sudah berkembang lebih baik dan berhasil mengejar
ketertinggalan oleh provinsi lain. “Jalan sudah bagus, tata kelola
keuangan terbaik sekarang menjadi pilot project untuk pengelolaan
anggaran. Dari sisi administratif, reformasi birokrasi sudah
dilaksanakan. Dapat apresiasi loh. Bahkan penanganan kebencanaan kita
dapat apresiasi. Ini jadi contoh bagi daerah lain,” ujarnya.
Gubernur optimistis, pada 2020 semua misi pembangunan akan selesai
dan dapat dirasakan secara menyeluruh oleh masyarakat. Salah satunya,
Kawasan Kesultanan Banten yang menjadi satu bagian inti yang telah
dilakukan terhadap revitalisasi pembangunan yang mengalami degradasi.
Menurutnya, Banten memiliki peradaban yang terkenal. Di antaranya,
Kesultanan Banten sebagai pencetak uang sendiri, Kesultanan Banten
termasuk kerajaan Islam terbesar di Indonesia. “Masjid Agung Banten juga
dicontoh di daerah lain, orang Banten juga terkenal pintar salah
satunya Syech Nawawi Al Bantani. Banyak orang yang berziarah ke
Kesultanan Banten dan Tanara untuk mendapatkan jejaknya,” katanya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat Banten untuk berperan aktif
dalam memberikan pendapat dan pemikiran sesuai hati nurani untuk
membangun masyarakat Banten. “Banten hari ini dan Banten masa depan,
dapat memberikan masukan aspirasi yang diharapkan oleh masyarakat
Banten. Kemudian masyarakat juga lebih aktif dalam memberikan pendapat
untuk Gubernur Banten,” ujarnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Banten
Muhtarom menuturkan, berbagai kemajuan pembangunan di Banten dua tahun
belakangan ini masih dapat dioptimalkan. Sehingga, Provinsi Banten bisa
lebih maju dan bersaing dikancah regional maupun nasional. “Dengan
kondisi seperti ini tentunya menuntut untuk terus melaksanakan
pembangunan efektif,” ucapnya.
Pembangunan yang ada di Provinsi Banten saat ini terfokus pada lima
visi, yaitu pembangunan di bidang tata kelola pemerintahan, pendidikan,
kesehatan, infrastruktur, dan peningkatan pertumbuhan ekonomi


.gif)