Ihfadh linafsika qabla mautika fazzikru
lil insani ‘umurun tsanin (Peliharalah dan jagalah setiap dirimu [dengan
amal baik] sebelum ajal, maka umur kedua setelah mati [tetap] akan
dikenang oleh manusia)
PAHLAWAN pahlawan
dimaknai sebagai orang yang berjuang dengan gagah berani dalam membela
kebenaran (KBBI). Secara etimologis ada juga yang memaknai pahlawan
berasal dari akar kata pahala, dan berakhiran wan, pahalawan. Artinya,
mereka pantas memperoleh pahala karena jasa-jasanya bagi perjuangan
menegakkan kebenaran. Bila merujuk pada KBBI, maka menjadi pahlawan
adalah hal yang memungkinkan bagi seseorang, bahkan siapa pun yang
berjuang dalam membela kebenaran bisa menempati posisi sebagai seorang pahlawan.
Pahlawan adalah gelar untuk orang yang
dianggap berjasa terhadap orang banyak dan berjuang dalam mempertahankan
kebenaran. Dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan, seseorang dijuluki pahlawan karena jasa-jasanya dalam memperjuangkan negara dan bangsa ini untuk menmperoleh kemerdekaannya. Seorang pahlawan berjuang karena mencintai negeri dan tanah tumpah darahnya (hubb al-wathan min al-iman).
Menegakkan kebenaran
Dalam perspektif Islam, pahlawan dapat dimaknai sebagai orang Islam yang berjuang menegakkan kebenaran (al-haq) demi memperoleh ridha Allah semata. Kredo dan doktrinnya adalah limardhatillah wa li i’lai kalimatillah hiya l-‘ulya. Kata kuncinya adalah kebenaran (al-haq) dan ridha Allah Swt. Jadi, kebenaran adalah segala sesuatu (baik yang berupa perintah maupun larangan) yang datang dari Allah Swt melalui ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw. (Wama atakum al-Rasulu fakhuzuhu wama nahakum ‘anhu fantahu).
Dengan demikian, pahlawan dalam perspektif Islam harus memiliki koridor dan konteks ini (memperjuangkan kebenaran dan untuk menjunjung nilai luhur Islam sebagai agama yang benar). Dalam konteks makro, pahlawan Islam adalah orang Islam yang berjuang membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan Negara dari penindasan dan penjajahan.
Dari sisi lain, juga disebut pahlawan pasti memiliki kontribusi atau jasa besar bagi orang lain, karena semua ajaran dalam Islam memiliki implikasi positif bagi orang lain, bahkan untuk semesta alam ini (semua makhluk hidup), sebagaimana sabda Nabi saw, Khair al-Nas anfa’uhum li al-nas dan firman Allah, Wama arsalnaka illa rahmatan li al-‘alamin.
Mengenai berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan ini banyak disebut dalam Alquran, di antaranya: “Perangilah mereka sehingga tidak ada lagi penindasan, dan yang ada hanya keadilan dan keimanan kepada Allah.” (QS. 2:193) “seluruhnya dan di mana saja.” (QS. 8:39). “Dan kenapa kamu tidak berperang di jalan Allah. dan untuk mereka yang lemah, laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berkata “Tuhan, keluarkanlah kami dari kota ini yang penduduknya zalim; dan berilah kami dari pihak-Mu orang yang dapat menjadi pelindung, dan berilah kami dari pihak-Mu penolong.” (QS. 4:75).
Sesungguhnya para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, dari segala bentuk penjajahan, baik yang kita ketahui maupun yang tidak, mereka hidup di hati kita. Jadi, sebetulnya pahlawan itu tidak pernah mati, karena jasa-jasanya selalu dikenang oleh orang banyak. Kebaikannya selalu tertabur dalam jiwa umat, sehingga tak pernah sirna untuk dikenang dan didoakan arwahnya setiap saat. Meskipun secara lahiriyah sudah tiada, namun secara hakiki belum, ia mati tetapi hidup.
Allah Swt berfirman, “Dan janganlah kalian sekali-kali mengatakan bahwa orang-orang yang berjuang (terbunuh) di jalan Allah itu mati melainkan mereka hidup tetapi kita tidak merasakan.” (QS. al-Baqarah: 154).
Menegakkan kebenaran
Dalam perspektif Islam, pahlawan dapat dimaknai sebagai orang Islam yang berjuang menegakkan kebenaran (al-haq) demi memperoleh ridha Allah semata. Kredo dan doktrinnya adalah limardhatillah wa li i’lai kalimatillah hiya l-‘ulya. Kata kuncinya adalah kebenaran (al-haq) dan ridha Allah Swt. Jadi, kebenaran adalah segala sesuatu (baik yang berupa perintah maupun larangan) yang datang dari Allah Swt melalui ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw. (Wama atakum al-Rasulu fakhuzuhu wama nahakum ‘anhu fantahu).
Dengan demikian, pahlawan dalam perspektif Islam harus memiliki koridor dan konteks ini (memperjuangkan kebenaran dan untuk menjunjung nilai luhur Islam sebagai agama yang benar). Dalam konteks makro, pahlawan Islam adalah orang Islam yang berjuang membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan Negara dari penindasan dan penjajahan.
Dari sisi lain, juga disebut pahlawan pasti memiliki kontribusi atau jasa besar bagi orang lain, karena semua ajaran dalam Islam memiliki implikasi positif bagi orang lain, bahkan untuk semesta alam ini (semua makhluk hidup), sebagaimana sabda Nabi saw, Khair al-Nas anfa’uhum li al-nas dan firman Allah, Wama arsalnaka illa rahmatan li al-‘alamin.
Mengenai berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan ini banyak disebut dalam Alquran, di antaranya: “Perangilah mereka sehingga tidak ada lagi penindasan, dan yang ada hanya keadilan dan keimanan kepada Allah.” (QS. 2:193) “seluruhnya dan di mana saja.” (QS. 8:39). “Dan kenapa kamu tidak berperang di jalan Allah. dan untuk mereka yang lemah, laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berkata “Tuhan, keluarkanlah kami dari kota ini yang penduduknya zalim; dan berilah kami dari pihak-Mu orang yang dapat menjadi pelindung, dan berilah kami dari pihak-Mu penolong.” (QS. 4:75).
Sesungguhnya para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, dari segala bentuk penjajahan, baik yang kita ketahui maupun yang tidak, mereka hidup di hati kita. Jadi, sebetulnya pahlawan itu tidak pernah mati, karena jasa-jasanya selalu dikenang oleh orang banyak. Kebaikannya selalu tertabur dalam jiwa umat, sehingga tak pernah sirna untuk dikenang dan didoakan arwahnya setiap saat. Meskipun secara lahiriyah sudah tiada, namun secara hakiki belum, ia mati tetapi hidup.
Allah Swt berfirman, “Dan janganlah kalian sekali-kali mengatakan bahwa orang-orang yang berjuang (terbunuh) di jalan Allah itu mati melainkan mereka hidup tetapi kita tidak merasakan.” (QS. al-Baqarah: 154).
Pahlawan dalam Islam adalah orang yang
berani memperjuangkan Islam sampai ia menang atau mati. Oang-orang yang
berjuang itu pun tidak memperdulikan apakah ia bakal mendapat
penghargaan atau tidak dari institusi manapun, yang mereka harapkan
adalah keridhaan dari Allah Swt.
Kriteria jihad
Dalam Islam kategori berjuang (jihad) itu ada beberapa macam, di antaranya adalah jihad memerangi hawa nafsu (jihad al-nafs), termasuk jihad memerangi syetan, jihad , jihad memerangi orang munafik (jihad al-nifaq).
Menurut Rasulullah saw, jihad yang paling besar adalah jihad memerangi hawa nafsu. Hal ini pernah disampaikan oleh Rasulullah saw saat usai perang Badar. Beliau berkata kepada para sahabatnya, “Kita masih akan menghadapi perang yang lebih dahsyat lagi. Kata sebagian sahabat: Perang apalagi ya Rasul? Bukankah ini perang yang dahsyat? Jawab Nabi: Perang melawan hawa nafsu”.
Kriteria jihad
Dalam Islam kategori berjuang (jihad) itu ada beberapa macam, di antaranya adalah jihad memerangi hawa nafsu (jihad al-nafs), termasuk jihad memerangi syetan, jihad , jihad memerangi orang munafik (jihad al-nifaq).
Menurut Rasulullah saw, jihad yang paling besar adalah jihad memerangi hawa nafsu. Hal ini pernah disampaikan oleh Rasulullah saw saat usai perang Badar. Beliau berkata kepada para sahabatnya, “Kita masih akan menghadapi perang yang lebih dahsyat lagi. Kata sebagian sahabat: Perang apalagi ya Rasul? Bukankah ini perang yang dahsyat? Jawab Nabi: Perang melawan hawa nafsu”.
Pahlawan yang tanpa tanda jasa pun juga
banyak, misalnya para guru dan para generasi tua yang berjasa kepada
generasi penerusnya. Ada sebuah cerita menarik terkait dengan kisah
kepahlawanan ini. Alkisah, seorang raja Persia ernama Kisra Anu Syirwan
melakukan patroli ke rumah-rumah penduduk. Ketika ia tiba di satu rumah,
di sana ia menemukan seorang kakek sedang menanam pohon di halaman
rumahnya. Sang raja tertawa dan bertanya, “Wahai kakek, kenapa engkau
menanam pohon itu yang akan berbuah 10-20 tahun, bahkan berpuluh-puluh
tahun ke depan, sedangkan engkau mungkin tahun depan sudah mati dan
tentu engkau tidak dapat menikmati buah-buahan yang telah engkau tanam
itu”.
Dengan senyum dan penuh optimisme sang kakek menjawab, “Wahai raja, laqad gharas-a man qabla-nâ fa akal-nâ wa naghris-u nahn-u li-ya’kul-a man ba`da-nâ, orang-orang sebelum kita telah menanam pohon dan buah dari pohon tersebut kita nikmati sekarang, maka kita menanam kembali pohon yang buah-buahnya akan dinikmati oleh orang-orang setelah kita” (Didaat: 2008).
Banyak pahlawan yang tercatat dalam sejarah Islam baik pada zaman Nabi maupun pada masa-masa sesudahnya yang tak terhingga jumlahnya. Ada juga pahlawan besar Islam yang coba mengobarkan semangat jihad Nabi dengan menggaungkan Sirah Nabawiyah-nya, misalnya saja Shalahuddin Al-Ayyubi. Shalahuddin Al-Ayyubi telah terukir namanya dalam sejarah perjuangan umat Islam, karena ia mampu menumpas tentara multinasional Salib dari seluruh benua Eropa.
Guna membangkitkan kembali ruh jihad di kalangan umat Islam yang saat itu telah terlena dengan perjuangan yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad saw, maka Shalahuddin inilah yang mencetuskan ide dirayakannya kelahiran Nabi Muhammad saw (maulid al-Rasul). Melalui media peringatan itu, diungkaplah sikap kesatria dan kepahlawanan Nabi Muhammad saw. Hingga kini peringatan itu menjadi tradisi di kalangan masyarakat Islam, tak terkecuali di Indonesia.
Rasa tanggung jawab terhadap agama (Islam) telah ia baktikan di kalangan umat Islam menghadapi serbuan tentara ke tanah suci Palestina selama dua puluh tahun, dan akhirnya dengan kegigihan dan kemampuannya ia dan pasukannya dapat memukul mundur bala tentara yang dipimpin oleh Richard The Lionheart (Richard Si Hati Singa) dari Inggris.
Inilah satu contoh pahlawan besar Islam yang bisa disebut di sini, dari sekian pahlawan-pahlawan Islam yang lain.Seperti Imam Bonjol, Tgk Chik Ditiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien dan lainnya di Serambi Makkah. Di setiap penghujung abad, selalu muncul pahlawan-pahlawan yang tegak memperjuangkan kebenaran di muka bumi ini.
Hanya yang perlu dipahami bahwa perjuangan yang ditegakkan atas nama Islam, tidak dimonopoli oleh sekelompok Islam itu sendiri. Karena ada sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam ketika memperjuangkan Islam, justru malah merugikan orang lain dan memerangi orang-orang yang tidak bersalah, maka yang demikian itu tidak dibenarkan adanya. Perjuangan Islam mesti tidak akan merugikan siapa pun.
Dengan senyum dan penuh optimisme sang kakek menjawab, “Wahai raja, laqad gharas-a man qabla-nâ fa akal-nâ wa naghris-u nahn-u li-ya’kul-a man ba`da-nâ, orang-orang sebelum kita telah menanam pohon dan buah dari pohon tersebut kita nikmati sekarang, maka kita menanam kembali pohon yang buah-buahnya akan dinikmati oleh orang-orang setelah kita” (Didaat: 2008).
Banyak pahlawan yang tercatat dalam sejarah Islam baik pada zaman Nabi maupun pada masa-masa sesudahnya yang tak terhingga jumlahnya. Ada juga pahlawan besar Islam yang coba mengobarkan semangat jihad Nabi dengan menggaungkan Sirah Nabawiyah-nya, misalnya saja Shalahuddin Al-Ayyubi. Shalahuddin Al-Ayyubi telah terukir namanya dalam sejarah perjuangan umat Islam, karena ia mampu menumpas tentara multinasional Salib dari seluruh benua Eropa.
Guna membangkitkan kembali ruh jihad di kalangan umat Islam yang saat itu telah terlena dengan perjuangan yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad saw, maka Shalahuddin inilah yang mencetuskan ide dirayakannya kelahiran Nabi Muhammad saw (maulid al-Rasul). Melalui media peringatan itu, diungkaplah sikap kesatria dan kepahlawanan Nabi Muhammad saw. Hingga kini peringatan itu menjadi tradisi di kalangan masyarakat Islam, tak terkecuali di Indonesia.
Rasa tanggung jawab terhadap agama (Islam) telah ia baktikan di kalangan umat Islam menghadapi serbuan tentara ke tanah suci Palestina selama dua puluh tahun, dan akhirnya dengan kegigihan dan kemampuannya ia dan pasukannya dapat memukul mundur bala tentara yang dipimpin oleh Richard The Lionheart (Richard Si Hati Singa) dari Inggris.
Inilah satu contoh pahlawan besar Islam yang bisa disebut di sini, dari sekian pahlawan-pahlawan Islam yang lain.Seperti Imam Bonjol, Tgk Chik Ditiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien dan lainnya di Serambi Makkah. Di setiap penghujung abad, selalu muncul pahlawan-pahlawan yang tegak memperjuangkan kebenaran di muka bumi ini.
Hanya yang perlu dipahami bahwa perjuangan yang ditegakkan atas nama Islam, tidak dimonopoli oleh sekelompok Islam itu sendiri. Karena ada sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam ketika memperjuangkan Islam, justru malah merugikan orang lain dan memerangi orang-orang yang tidak bersalah, maka yang demikian itu tidak dibenarkan adanya. Perjuangan Islam mesti tidak akan merugikan siapa pun.
Ketika Nabi Muhammad saw berjuang menegakkan
Islam, yang ditegakkan Nabi adalah menegakkan nilai-nilai kemanusiaan
universal: keadilan, kesamaan, toleransi, dan hak-hak orang lain tetap
diperhitungkan. Sikap Nabi saw yang toleran dan menghargai nilai-nilai
kemanusiaan yang memang lahir dari ajaran Islam inilah yang kemudian
memosisikan Islam sebagai agama rahmat. Nabi sendiri menegaskan, Ahabb
al-adyan ila Allah al-hanifiyyat al-samhah.
Merindukan sosok pahlawan, merindukan pemimpin sejati. Keberadaannya sekarang entah di mana. Pahlawan sedang dicari. Mungkinkah kitalah pahlawan yang sedang dicari dan dinanti-nanti. Jadilah pahlawan, yang banyak manfaatnya. Merajut kebaikan, menebar manfaat. Amin ya Rabbal ‘alamin.
* Dr. H. Abdul Gani Isa, SH, M.Ag., staf pengajar Fakultas Syariah dan Hukum UIN
Merindukan sosok pahlawan, merindukan pemimpin sejati. Keberadaannya sekarang entah di mana. Pahlawan sedang dicari. Mungkinkah kitalah pahlawan yang sedang dicari dan dinanti-nanti. Jadilah pahlawan, yang banyak manfaatnya. Merajut kebaikan, menebar manfaat. Amin ya Rabbal ‘alamin.
* Dr. H. Abdul Gani Isa, SH, M.Ag., staf pengajar Fakultas Syariah dan Hukum UIN



.gif)