SERANG, KONTAK BANTEN — PT Indah Kiat Pulp & Paper (IKPP) Serang memperkuat kolaborasi dengan masyarakat dalam pengelolaan sampah dari hulu melalui program bank sampah. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran warga dalam memilah sampah sekaligus mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Humas PT Indah Kiat Serang, Dani Kusumah, mengatakan bahwa sebelumnya perusahaan telah bermitra dengan para pemulung dalam pengelolaan sampah. Namun saat ini perusahaan mendorong masyarakat untuk mulai membentuk bank sampah sebagai sistem pengelolaan yang lebih terstruktur.
Menurut Dani, konsep pengelolaan sampah saat ini tidak lagi hanya berfokus pada pengumpulan dan pembuangan ke TPA, tetapi juga menekankan pengurangan sampah sejak dari sumbernya.
“Sekarang konsepnya sudah berubah. Dalam pengelolaan sampah ada dua hal, yaitu pengurangan dan penanganan sampah. Pengurangan ini yang ingin kita maksimalkan, karena jika sampah sudah terurai di sumbernya maka residu yang dibuang ke TPA akan semakin sedikit,” ujar Dani, Senin (9/3/2026).
Ia menambahkan, kesadaran masyarakat dalam memilah sampah rumah tangga menjadi kunci utama keberhasilan pengelolaan sampah. Program bank sampah dinilai efektif karena melibatkan masyarakat secara langsung dalam proses pengumpulan dan pemilahan sampah.
Menurutnya, keberadaan bank sampah memberikan setidaknya tiga manfaat bagi masyarakat, yakni manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan.
“Dengan adanya bank sampah, masyarakat bisa mendapatkan nilai ekonomi dari sampah yang dikumpulkan. Selain itu juga menumbuhkan kesadaran sosial dan tentu saja membuat lingkungan menjadi lebih bersih dan sehat,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Pengelolaan Sampah pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Serang, Cahyo, menyambut baik kolaborasi antara pemerintah daerah dengan PT Indah Kiat dalam memperkuat keberadaan bank sampah di masyarakat.
Menurutnya, keterlibatan industri yang bersedia menampung sampah seperti kertas dan kardus dari bank sampah sangat membantu masyarakat karena dapat memotong rantai distribusi yang selama ini cukup panjang.
“Biasanya sampah dijual ke pemulung, kemudian ke pengepul, baru ke supplier. Dengan adanya PT Indah Kiat yang langsung menjemput sampah dari bank sampah, nilai ekonomi yang diterima masyarakat bisa lebih besar,” kata Cahyo.
DLH Kabupaten Serang menargetkan setiap desa memiliki minimal satu bank sampah sebagai bagian dari penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Selain itu, edukasi mengenai pemilahan sampah juga terus dilakukan, termasuk melalui sekolah-sekolah.
“Kami berharap dari satu desa minimal ada satu bank sampah. Edukasi juga terus kami lakukan, terutama melalui sekolah-sekolah karena perubahan kebiasaan memang harus dimulai sejak dini,” ujarnya.
Di tempat yang sama, pengelola Bank Sampah Induk Berkah Bhayangkara, Ilham, mengatakan bahwa pendekatan melalui sekolah terbukti efektif dalam menumbuhkan kesadaran pengelolaan sampah sejak usia dini.
Ia menjelaskan bahwa program yang dijalankan saat ini telah menjangkau sekitar 15 sekolah di wilayah Kabupaten Serang dan direncanakan akan diperluas hingga 100 sekolah.
“Ketika anak-anak diberi tugas mengumpulkan sampah dari rumah, yang terjadi justru seluruh keluarga ikut terlibat. Ibu, bapak, bahkan kakaknya ikut membantu mengumpulkan sampah untuk dibawa ke sekolah. Ini menjadi proses pembentukan karakter yang sangat baik,” jelas Ilham.
Menurutnya, potensi pengumpulan sampah dari sekolah cukup besar. Dalam uji coba di beberapa sekolah di Kabupaten Serang, jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan bahkan mencapai lebih dari satu ton.
Ia berharap kerja sama antara bank sampah, pemerintah daerah, serta perusahaan seperti PT Indah Kiat dapat terus diperkuat sehingga pengelolaan sampah di Kabupaten Serang dapat berjalan lebih optimal.
“Harapannya semakin banyak sekolah dan masyarakat yang terlibat, sehingga pengelolaan sampah bisa dilakukan bersama-sama dan memberikan manfaat bagi lingkungan maupun ekonomi masyarakat,” pungkasnya.
Humas PT Indah Kiat Serang, Dani Kusumah, mengatakan bahwa sebelumnya perusahaan telah bermitra dengan para pemulung dalam pengelolaan sampah. Namun saat ini perusahaan mendorong masyarakat untuk mulai membentuk bank sampah sebagai sistem pengelolaan yang lebih terstruktur.
Menurut Dani, konsep pengelolaan sampah saat ini tidak lagi hanya berfokus pada pengumpulan dan pembuangan ke TPA, tetapi juga menekankan pengurangan sampah sejak dari sumbernya.
“Sekarang konsepnya sudah berubah. Dalam pengelolaan sampah ada dua hal, yaitu pengurangan dan penanganan sampah. Pengurangan ini yang ingin kita maksimalkan, karena jika sampah sudah terurai di sumbernya maka residu yang dibuang ke TPA akan semakin sedikit,” ujar Dani, Senin (9/3/2026).
Ia menambahkan, kesadaran masyarakat dalam memilah sampah rumah tangga menjadi kunci utama keberhasilan pengelolaan sampah. Program bank sampah dinilai efektif karena melibatkan masyarakat secara langsung dalam proses pengumpulan dan pemilahan sampah.
Menurutnya, keberadaan bank sampah memberikan setidaknya tiga manfaat bagi masyarakat, yakni manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan.
“Dengan adanya bank sampah, masyarakat bisa mendapatkan nilai ekonomi dari sampah yang dikumpulkan. Selain itu juga menumbuhkan kesadaran sosial dan tentu saja membuat lingkungan menjadi lebih bersih dan sehat,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Pengelolaan Sampah pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Serang, Cahyo, menyambut baik kolaborasi antara pemerintah daerah dengan PT Indah Kiat dalam memperkuat keberadaan bank sampah di masyarakat.
Menurutnya, keterlibatan industri yang bersedia menampung sampah seperti kertas dan kardus dari bank sampah sangat membantu masyarakat karena dapat memotong rantai distribusi yang selama ini cukup panjang.
“Biasanya sampah dijual ke pemulung, kemudian ke pengepul, baru ke supplier. Dengan adanya PT Indah Kiat yang langsung menjemput sampah dari bank sampah, nilai ekonomi yang diterima masyarakat bisa lebih besar,” kata Cahyo.
DLH Kabupaten Serang menargetkan setiap desa memiliki minimal satu bank sampah sebagai bagian dari penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Selain itu, edukasi mengenai pemilahan sampah juga terus dilakukan, termasuk melalui sekolah-sekolah.
“Kami berharap dari satu desa minimal ada satu bank sampah. Edukasi juga terus kami lakukan, terutama melalui sekolah-sekolah karena perubahan kebiasaan memang harus dimulai sejak dini,” ujarnya.
Di tempat yang sama, pengelola Bank Sampah Induk Berkah Bhayangkara, Ilham, mengatakan bahwa pendekatan melalui sekolah terbukti efektif dalam menumbuhkan kesadaran pengelolaan sampah sejak usia dini.
Ia menjelaskan bahwa program yang dijalankan saat ini telah menjangkau sekitar 15 sekolah di wilayah Kabupaten Serang dan direncanakan akan diperluas hingga 100 sekolah.
“Ketika anak-anak diberi tugas mengumpulkan sampah dari rumah, yang terjadi justru seluruh keluarga ikut terlibat. Ibu, bapak, bahkan kakaknya ikut membantu mengumpulkan sampah untuk dibawa ke sekolah. Ini menjadi proses pembentukan karakter yang sangat baik,” jelas Ilham.
Menurutnya, potensi pengumpulan sampah dari sekolah cukup besar. Dalam uji coba di beberapa sekolah di Kabupaten Serang, jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan bahkan mencapai lebih dari satu ton.
Ia berharap kerja sama antara bank sampah, pemerintah daerah, serta perusahaan seperti PT Indah Kiat dapat terus diperkuat sehingga pengelolaan sampah di Kabupaten Serang dapat berjalan lebih optimal.
“Harapannya semakin banyak sekolah dan masyarakat yang terlibat, sehingga pengelolaan sampah bisa dilakukan bersama-sama dan memberikan manfaat bagi lingkungan maupun ekonomi masyarakat,” pungkasnya.

.gif)