JAKARTA KONTAK BANTEN — Pemerintah menambah program bantuan pangan berupa beras guna menghadapi dampak kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang diperkirakan memengaruhi ketahanan pangan nasional pada tahun 2026.
Tambahan bantuan tersebut berupa beras sebanyak 10 kilogram per bulan yang akan disalurkan kepada masyarakat penerima manfaat di berbagai daerah.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, kebijakan tambahan bantuan pangan itu telah mendapat persetujuan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR RI pada Selasa (19/5/2026).
Menurut Rizal, pemerintah menyiapkan tambahan penyaluran bantuan untuk membantu masyarakat menghadapi ancaman kekeringan serta potensi kenaikan harga pangan yang biasanya terjadi menjelang akhir tahun.
“Kalau 2 bulan berarti menjadi 20 kilogram,” ujar Rizal di Jakarta, Kamis (22/5/2026).
Penyaluran Diusulkan Empat Tahap
Dalam pemaparannya di DPR, Bulog mengusulkan penyaluran bantuan pangan dilakukan sebanyak empat kali, yakni pada Agustus, September, Oktober, dan November 2026.
Program tersebut ditargetkan menyasar sekitar 33 juta Penerima Bantuan Pangan (PBP) di seluruh Indonesia.
Rizal menjelaskan, komoditas bantuan yang diberikan hanya berupa beras sebagai upaya menjaga kebutuhan pangan pokok masyarakat di tengah ancaman dampak El Nino.
Menurutnya, tambahan penyaluran bantuan sebanyak empat tahap itu diperkirakan setara dengan 1,3 juta ton beras.
Dengan tambahan tersebut, total penyaluran bantuan pangan pemerintah sepanjang tahun 2026 diproyeksikan mencapai 1,9 juta ton beras.
Bulog Baru Dapat Penugasan Dua Bulan
Meski mengusulkan penyaluran empat tahap, saat ini Bulog baru menerima penugasan resmi untuk dua bulan alokasi penyaluran, yakni Agustus dan November 2026.
Pemerintah berharap program tambahan bantuan pangan tersebut dapat menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan, sekaligus menekan dampak kemarau panjang terhadap stabilitas pangan nasional.
Selain menjaga ketersediaan pangan, program bantuan beras juga diharapkan mampu mengendalikan gejolak harga beras di pasaran akibat penurunan produksi pertanian selama musim kemarau.
Fenomena El Nino sendiri diperkirakan berdampak terhadap sektor pertanian di sejumlah wilayah Indonesia karena berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan dan kekeringan berkepanjangan.

.gif)