< >

Notification

×

Iklan

Iklan

🌤️ Info Cuaca & Gempa
Cuaca Banten
Sumber: BMKG
Gempa Terkini

Tag Terpopuler

ADS Mulai Langka, 12 Pasien Difteri Belum Diobati

Rabu, 20 Desember 2017 | Rabu, Desember 20, 2017 WIB | Last Updated 2017-12-20T01:01:00Z


SERANG, (KB).- Sebanyak 12 pasien positif difteri di Provinsi Banten, hingga saat ini belum mendapatkan anti difteri-serum (ADS). Selain belum menerima ADS dari Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten juga kesulitan mendapatkan obat penetral toksin difteri tersebut, karena mulai langka di pasaran.
“Ada 12 (pasien yang belum diobati ADS),” kata Kasi Surveilans Imunisasi dan Krisis Kesehatan Dinkes Banten, drg. Rostina kepada Kabar Banten, Selasa (19/12/2017). Belum tertanganinya belasan pasien tersebut karena Banten kesulitan mendapatkan penawar racun difteri tersebut. Sementara, hingga kemarin jumlah pasien semakin bertambah menjadi total 114 orang.”ADS enggak ada. Kemenkes belum ngasih. Pasien sampai sekarang masih terus bertambah, jadi 114 orang,” ujar dokter Una, sapaan akrabnya.
Sementara, Kepala Dinkes Banten Sigit Wardojo mengatakan, Surat Keputusan (SK) Gubernur Banten terkait status kejadian luar biasa (KLB) difteri sudah dikeluarkan 16 Desember 2017. “Per Sabtu kemarin SK KLB sudah ada. Tetapi, prosedur pencairan dana tak terduga (DTT) tetap harus dijalankan, nanti kan ada SK lagi, ada RAB-nya. Itu lagi proses ke sana. Nanti kan ada SK pengguna anggaran. Seharusnya kalau yang gitu-gitu mbok ya langsung saja karena ini terkait dengan kondisi KLB,” kata Sigit, ditemui seusai apel di KP3B, kemarin.
Ia mengungkapkan, 5 kabupaten/kota sudah menyampaikan usulan kebutuhan anggaran untuk operasional pelaksanaan outbreak response immunization (ORI). Jika ditotal usulan tersebut mencapai Rp 15 miliaran.”Teman-teman kabupaten/kota sudah usul RAB-nya. Tapi kita rasionalisasi. Misal Tangsel itu lebih besar, padahal kalau melihat kasus kan Kabupaten Tangerang paling banyak. Jadi nanti didiskusikan lagi lah. Rata-rata (usulannya) Rp 3 miliar,” ucapnya.
Menurutnya, untuk operasional pelaksanaan ORI memang dibutuhkan anggaran yang tidak sedikit. “Coba bayangkan sasaran kita itu 3 juta lebih loh. Ya lumayan, sekali jalan, misal 100 orang saja sudah berapa itu. Yang jelas untuk operasional. Kalau bisa buat beli obat ADS. Stok di Kemenkes menipis. Pasien positif tanpa ASD kan susah sembuhnya,” tuturnya. Dia mengatakan, ketersediaan ADS di pasaran kini kian langka. “Ternyata kita cari di pasaran pun tidak ada,” katanya.
Mengimpor
Kementerian Kesehatan akan menyiapkan 4.000 obat Antidifteri Serum (ADS) untuk memenuhi kebutuhan pengobatan pasien difteri di Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan pada kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri, Kemenkes akan mengimpor obat ADS. Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Untung Suseno Sutarjo di Jakarta, Selasa, mengatakan, pemenuhan ADS juga didapatkan dari sumbangan oleh Biofarma sebanyak 700 vial untuk pasien difteri. “Biofarma menyumbang 700 vial ADS. Kita juga minta Badan POM untuk mempermudah impor ADS. Jadi bulan ini mungkin sudah bisa dapat 4.000-an vial,” ujar Untung.
Sementara, untuk kebutuhan vaksin difteri dalam pelaksanaan imunisasi ulang atau Outbreak Response Immunization (ORI), Kementerian Kesehatan juga sudah meminta Biofarma meningkatkan jumlah produksi vaksin difteri. Kementerian Kesehatan sebelumnya hanya menetapkan tiga provinsi, yakni Jawa Barat; DKI Jakarta; Banten, untuk melaksanakan ORI.”Kita juga meminta dorongan dan dukungan kementerian lain seperti Kemendagri, Panglima TNI, Kapolri, dalam penanganan ini,” tutur Untung.
Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update